
Seminggu ini Vino lebih banyak diam. Ia selalu dihantui rasa bersalah. Padahal kejadian itu sudah 20 tahun lebih yang lalu dan saat itu Vino masih kecil dan belum banyak mengerti. Namun tetap saja, dirinyalah penyebab penderitaan wanita yang dicintainya selama 20 tahun lebih.
Vino sangat ingin mengabaikan semuanya dan menjalankan hari-harinya dengan indah bersama Veroniccha. Tapi hatinya selalu tak tenang. Ia selalu merasa takut sewaktu-waktu Veroniccha mengetahui kebenarannya dan membencinya. Hal yang paling menakutkan baginya. Namun Vino tahu, hal itu bisa datang padanya kapan saja.
Saat-saat nanti Veroniccha membencinya dan meninggalkannya. Hal yang paling ia benci saat membayangkannya. Namun selalu terbayang di kepalanya. Itulah yang menyebabkan Vino selalu pulang larut seminggu ini. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kantornya.
Vino kembali menghela napas berat. Ini sudah pukul 8 malam dan pekerjaan kantor yang menumpuk di meja kerjanya hanya ia amati tanpa berniat mengerjakannya. Sebesar apapun ia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, namun selalu gagal dan berakhir melamun.
Biasanya Vino selalu pulang kantor pukul 10 lewat, dan saat itu Veroniccha sudah tertidur. Tapi hari ini Vino benar-benar merindukan Veroniccha. Ia rindu melihat kebodohan Veroniccha dan tingkah laku menyebalkannya. Jadi sekarang Vino memutuskan untuk pulang kerumahnya.
Dengan lesu, ia membuka pintu rumahnya dan telinganya lansung menajam saat mendengar isak tangis perempuan dari arah ruang tv. Dengan tergesa ia melangkah kesana.
Apa Veronicchanya menangis?
Vino menghembuskan napas lega sekaligus bingung saat ia melihat Veroniccha sedang mengusap punggung Nina yang terisak keras.
Ada apa dengan perempuan itu?
"Ve, ada apa?" tanya Vino menatap Nina. Veroniccha hanya meletakan telunjukkan di depan bibir menandakan perintahnya agar Vino diam.
Vino menurut dan ikut duduk di sofa yang berbeda dengan Nina dan Veroniccha.
"Dia akan mem..ben..ci.. Ku, Ccha. Di..a akan per..gi. A-aku menamparnya," ucap Nina terbata di sela isakannya.
"Tidak, Nina. Si bodoh Dennis itu tidak akan membencimu." Veroniccha masih mengusap punggung Nina dan menatapnya prihatin.
Si Dennis itu memang bodoh. Karena cemburu tak jelasnya itu ia berhasil membuat Nina salah sangka lagi.
Tadi, Nina datang kerumah Vino sembari menangis untuk mencari keberadaan Dennis. Namun Dennis tidak ada di sini. Nina menjelaskan kepada Veroniccha periahal kejadian di taman. Dennis menghajar Farrel habis-habisan karena memeluk Nina. Ia salah menyangka bahwa Farrel adalah Darrel. Nina memang sangat dekat dengan Farrel seperti ia dekat dengan Vino. Jadi terlalu terkejut saat tiba-tiba Dennis datang dan langsung menghajar Farrel. Akibatnya, dengan spontan jemari Nina melayang pada pipi Dennis. Yang membuat Nina terdiam saat menyadarinya dan Dennis berlalu tanpa kata seperti kejadian menyakitkan waktu itu.
"Dia akan kembali pergi dan kembali membenciku, Ccha. Apa yang harus kulakukan?"
Veroniccha menangkup wajah Nina dengan kedua tangannya dan menatap Nina mencoba meyakinkan.
"Percaya padaku. Dennis tidak akan melakukan kebodohan itu lagi. Aku yakin saat ini ia sedang berada di rumah Papa dan bercerita dengan Gladis. Besok ia pasti akan menemuimu dan meminta maaf padamu."
***
"Aku merindukanmu." Vino mendekap Veroniccha erat dan memejamkan kedua matanya.
Veroniccha mengusap wajah Vino lembut dan memerhatikan Vino dengan seksama. Ia pun sangat merindukan Vino selama seminggu ini. Suaminya ini selalu pulang larut saat ia sudah terpejam. Namun Veroniccha selalu menyadari saat Vino pulang dan memeluknya erat. Namun ia terlalu mengantuk untuk membuka kedua matanya.
"Mengapa kau selalu pulang larut, hm?" tanya Veroniccha.
"Banyak sekali pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan." Veroniccha tahu Vino berbohong. Ia merasa Vino menghindarinya selama seminggu ini. Selama seminggu ini pula Vino memakan sarapannya di kantor dengan dalih ada rapat penting. Veroniccha tidak bodoh untuk menyadari bahwa tidak mungkin setiap pagi ada rapat penting.
"Ada masalah? Ceritalah denganku."
"Hm.. Aku terlalu merindukanmu hingga rasanya menjadi gila." Veroniccha terkekeh mendengarnya. "Cih.. Berlebihan."
"Vino, kau tahu, aku selalu siap mendengarkan semua masalahmu dan selalu berada di sampingmu untuk mengahadapi masalah itu."
"Kuharap begitu," ujar Vino dalam hati.
"Aku sangatttttt mencintaimu." Veroniccha tersenyum geli saat Vino membuka keduanya kemudian mengecup bibir Veroniccha sekilas.
Vino semakin mengeratkan pelukannya dan berharap agar ia bisa selamanya memeluk tubuh wanitanya ini. Istrinya yang sangat ia cintai. Veroniccha Ghania Karllen.
"Ve, adikmu itu kenapa bodoh sekali?"
"Entah lah. Akupun tidak mengerti apa yang ada di otaknya hingga menjadi bodoh seperti itu. Ku harap anakku nanti tidak sebodoh dirinya."
"Tentu saja tidak. Anak kita nanti akan mirip sepertiku yang mempesona."
"Cih.."
"Ve,"
"Hm.."
"Aku ingin memiliki 3 anak. Dua perempuan dan satu laki-laki."
"Mengapa?"
"Aku sangat menyukai anak perempuan. Terlihat menggemaskan dan aku akan menjadi pawangnya yang akan melibas habis jika ada laki-laki yang mendekatinya."
"Jika seperti itu nanti anakmu tidak akan menikah."
"Aku akan menyeleksi ketat laki-laki yang akan mendekati putriku. Dan anak laki-laki kita nanti yang akan membatuku menjaga dua saudara perempuannya. Manis bukan?"
"Hm.. Tapi aku ingin memiliki 3 anak laki-laki yang seperti Dio. Dia sangat imut."
"Ve, Kak Nada bilang mengurus anak laki-laki itu susah. Apalagi jika 3. Lebih baik anak perempuan karena mereka lebih penurut."
"Kau benar juga. Baiklah. Dua putri cantik yang menggemaskan dan satu putra yang imut seperti Dio."
"Venice, Venuce, dan Daveron."
"Apa?"
"Nama putri dan putra Davino Karrlen dan Veroniccha Ghania Karllen."
Veroniccha dan Vino saling memeluk erat kemudian memejakkan sepasang mata mereka. Mengakhiri pillow talk yang begitu manis. Harapan yang Vino ingin wujudkan. Mengabaikan kenyataan-kenyataan yang akan datang nantinya.
.
.
.
.
.