Stay

Stay
Episode 31



Veroniccha merasakan kehangatan pada tubuhnya. Juga indra penciumannya mencium wangi familiar yang begitu ia rindukan sejak hampir setahun lebih.


Veroniccha masih terpejam menikmati itu semua. Rasanya sungguh seperti menemukan jalan pulang atas petualangan-petualangnnya. Rasanya pas dan ia merasa ingin seperti ini selamanya.


"Maafkan aku." Suara itu merambat memasuki indra pendengarannya. Juga kini sesuatu yang basah menyentuh permukaan kulit wajahnya.


Veroniccha membuka matanya perlahan kemudian mengerjap saat melihat seseorang mendekapnya begitu erat dan sedang terisak.


Seperti mimpi. Vinonya kini telah mendekapnya erat.


Apa mungkin ini memang mimpi?


"Vino," lirihnya begitu pelan namun mampu membuat Vino mengangkat kepalanya dan beradu netra dengan mata madu Veroniccha.


Veroniccha terisak dalam tangisnya sembari memeluk erat Vino yang juga masih mendekapnya.


"Jangan pergi!" teriaknya pilu.


"Maafkan aku. Maafkan aku," gumam Vino berkali-kali.


Vino mengundurkan pelukannya dan mengusap air mata istrinya yang jatuh.


Sudah berapa kadar ke brengsekkan mu, Vino?


Ia merasa menjadi manusia paling kejam dan brengsek di dunia saat melihat Veroniccha yang terisak pilu menangisinya.


"Aku rindu, Vino," kata Veroniccha lagi.


"Aku lebih dari itu, Ve. Aku begitu merindukanmu," jawab Vino yang kini mengusap lembut surai milik istrinya.


"Tapi kau membiarkanku seorang diri, Vino. Kau jahat!" tangan mungil itu kini mendarat berkali-kali pada lengan Vino, memukulnya lemah.


"Jangan biarkan aku sendiri lagi, Vino. Aku takut." Vino menjawabnya dengan kecupan yang bertubi-tubi pada kening istrinya.


***


"Aku tidak mau wortel, Vino." Veroniccha memalingkan wajahnya saat Vino menyodorkan sesendok nasi dengan wortel ke depan mulutnya.


"Tapi kau harus makan, Ve. Demi anak kita, ya?" bujuk Vino selembut mungkin.


"Tapi rasanya tidak enak!"


"Aku akan mengabulkan permintaanmu setelah ini." Veroniccha dengan segera melahap satu sendok nasi dan wortel itu kemudian menelannya dengan cepat.


"Cium aku, sekarang!" Vino terkekeh geli mendengarnya. Kemudian ia mengecup bibir istrinya singkat.


"Ayo makan lagi," katanya.


"Lalu setelahnya cium aku lagi." Vino terbahak.


***


Rania mengurungkan niatnya memasuki kamar rawat itu saat mendengar gelak tawa dari dalamnya. Sepertinya putrinya sudah bahagia hanya dengan kehadiran suaminya saja. Putrinya tidak membutuhkannya lagi.


Dengan segera, ia meninggalkan ruangan itu dengan tergesa. Sungguh! Ia merindukan putrinya namun begitu malu jika menampakkan dirinya sekarang setelah apa yang ia lakukan pada putrinya itu.


Dug..


"Maaf nyonya, kau tak apa?" Rania berusaha bangkit dengan bantuan tangan seorang gadis yang tadi menabraknya.


"Maafkan aku nyonya. Astaga aku bener-bener ceroboh. Apa kau terluka? Sekali lagi maafkan aku," ujar gadis itu lagi.


"Tak apa. Aku baik-baik saja," jawab Rania dengan senyum tulusnya.


Jantunganya tiba-tiba berdetak cepat saat mata mereka bertemu. Keduanya terpaku dan saling menyelami mata masing-masing.


"Maaf kan aku nyonya," ujar gadis itu lagi.


Rania masih terpaku kemudian setetes air mata lolos begitu saja dari matanya.


***


Gladis masih merasa Ada yang salah pada dirinya saat ini. Entah mengapa ia menjadi merasa begitu sedih sedih saat menatap wanita yang ia tabrak tadi.


Seperti ada sebuah gelombang yang entah dapat ia sebut apa. Rasanya seperti perasaan sedih bercampur rindu yang meluap-luap.


Lalu, siapa wanita tadi?


"Kau menangis?" Dennis menepuk pundak Gladis saat menatap saudari kembarnya itu tengah menangis.


Gladis mengalihkan tatapannya pada Dennis yang mengambil duduk di sampingnya kemudian memeluk laki-laki itu erat.


"Tenang lah, Iccha sudah membaik saat kedatangan Vino," kata Dennis membalas pelukan Gladis.


Astaga! Bahkan Gladis melupakan tujuan utamanya datang kerumah sakit ini dengan langkah tergesa sehingga menabrak wanita tadi.


"Aku.. Aku.. Rindu Mama, Dennis." kalimat itu terlontar  begitu saja dari bibirnya.


"Setelah Iccha pulih, aku berjanji akan menemanimu menemuinya."


***


"Gladis. Putriku." Rania terisak begitu pilu.


Ia kembali merasa berdosa. Ibu macam apa dirinya yang tega meninggalkan putrinya yang baru saja ia lahirkan. Bahkan ia tidak pantas disebut seorang ibu.


"Kau menangis lagi? Tidak jadi bertemu putrimu?" Tio bertanya saat menemukan Rania yang tengah menangis seorang diri di taman dekat apartemennya.


"Aku.. Aku bukanlah seorang ibu, Tio. Aku hanyalah wanita bodoh dan jahat. Aku.. "


"Maka perbaiki itu, Rania. Kita bisa memulai semuanya dari awal."


"Aku tidak pantas, Tio. Aku adalah wanita yang kejam."


"Hilangkan kekejaman itu sekarang, Rania. Jika kau merasa bersalah, maka perbaiki itu."


"Aku tidak bisa. Aku tidak pantas."


***


Rasanya tidak ada hal yang lebih indah untuk dilihat saat ini selain wajah terlelap Veroniccha yang begitu damai.


Vino dapat merasakan sebuah kenyamanan melihatnya. Ia tahu, begitu banyak kebodohan yang dilakukannya hampir setahun ini. Dan hal terbodoh yaitu membiarkan istrinya begitu saja dengan rindu kepadanya.


Ia tahu, sangat egois membiarkan semuanya sesuai dengan kehendaknya. Tapi awalnya, Vino berpikir bahwa jika semua masalah yang ada terselesaikan, ia akan bisa lebih nyaman membangun kebahagiannya. Namun kenyataannya, ia kalah oleh rindu yang perlahan melahap hatinya.


"Vino." Veroniccha mengerjapkan matanya pelahan dan matanya menangkap Vino yang tengah tertidur di sampingnya sembari mendekapnya erat.


"Vino, Perut ku sakit," Vino bangkit dari tidurnya dan segera turun dari ranjang rumah sakit yang tadi menampung mereka berdua.


"Maafkan aku. Apa aku mendekapmu begitu erat?" tanyanya panik.


"Tidak. Perut ku begitu sakit, Vino sepertinya anakmu ingin keluar," jawab Veroniccha yang membuat Vino semakin kalut dan panik.


"Astaga, apa sekarang waktunya? Apa yang harus aku lakukan?"


"Panggil dokter, Vino. Cepat!" dengan segera, Vino keluar dari kamar dan berteriak memanggil dokter.


***


Vino merasa kalut sekarang. Veroniccha masih berada dalam ruang operasi. Ia benar-benar frustrasi karna tak dapat menemani istrinya di dalam sana.


"Tenang lah, Dave. Kita berdoa saja untuk Iccha. Duduklah," kata Nina yang lama-lama gerah juga melihat Vino yang mondar-mandir sejak tadi.


Vino menatap Nina sesaat kemudian  berjalan mendekat untuk duduk di sampingnya.


Niat nya urung saat lampu operasi padam dan tak lama dokter keluar dari sana.


.


.


.


.


.


.


.