
Vino masih mencoba untuk mengusap air matanya yang sejak tadi tiada henti. Hal yang membuat Dennis, Darel serta Farel mendengus kesal.
"Lihat, lihat! Dia menguap! Astaga, anakku menguap, Farel! Lihat!" Vino berkata heboh sembari menarik Farel agar melihat putrinya di ranjang bayi.
"Apa kau tidak pernah melihat anak bayi menguap, tuan Davino? Kau benar-benar menyedihkan!" cibir Dennis yang menyedekapkan kedua lengannya.
Vino mengabaikannya. Mengabaikan semua cibiran dari ketiga laki-laki yang berada di ruangan istrinya.
Sama seperti Vino, Veroniccha pun masih meneteskan air matanya sembari mengelus pipi tembam putrinya yang berada pada gendongnya.
Sudah dua hari kedua putri mereka terlahir di dunia. Dan dua hari itu pula keduanya masih meneteskan air mata saat menatap kedua putrinya.
Veroniccha makin terisak saat melihat putrinya tersenyum padanya. "Vino, lihat, Venus tersenyum padaku! Ia tersenyum Vino!"
Dengan segera Vino menghampiri istrinya dan menatap pada putrinya kemudian ikut meneteskan air matanya lagi.
"Dia tersenyum!" girangnya seperti anak kecil yang di beri hadiah.
Kali ini Farel yang biasanya tak banyak protes, mencibir. Karna, astaga! Bahkan sepasang suami istri itu sudah menangis seharian penuh kemarin. Dan bahkan hari Ini pun masih meneteskan air mata.
Ya, ya, memang mereka sedang berbahagia karena kedua putri mereka terlahir ke dunia dengan keadaan sempurna dan sehat. Tapi, dua hari mereka menangis sehingga terkadang membuat kedua anak mereka ikut menangis.
"Jadi kapan kau akan kembali ke Indonesia?" tanya Dennis.
Vino terdiam memikirkannya. Ia belum memiliki rencana kembali ke Indonesia sebelum semua masalah terselesaikan. Vino tak bisa kembali dengan baik-baik saja sementara semuanya tahu, keadaan tidak baik-baik saja. Mertuanya ada di kota ini dan ia harus menemuinya sebelum kembali berbahagia.
"Segera." hanya itu jawaban yang ia punya untuk saat ini.
***
"Cucumu sudah lahir, Rania. Kau masih belum ingin menemui putrimu?" Tio mengambil duduk di samping Rania dan ikut menatap kolam di hadapannya.
"Mereka sehat? Putri dan Cucuku, mereka sehat, Tio?" tanyanya.
"Ya, mereka sehat. Cucu-cucumu begitu menggemaskan dan cantik. Mirip sekali dengan Iccha sewaktu kecil."
"Benarkah? Iccha pasti bahagia saat ini."
Tio terdiam. Rasanya percuma setiap kali ia memaksa Rania untuk kembali ke kehidupan mereka. Rania adalah wanita keras kepala yang pernah ditemuinya. Dan sifat itu menurun pada Veroniccha. Syukurnya, saat ini Veroniccha memiliki Vino yang dapat menyeimbangi kekeras kepalaannya.
"Kau tahu, Tio. Aku begitu ingin kembali pada kalian. Tapi aku tak sanggup untuk menjawab pertanyaan yang akan ketiga anakku lontarkan nantinya," katanya tenang.
"Kau hanya perlu kembali, Rania. Lalu semuanya akan baik-baik saja." Tio menoleh dan menggenggam tangan wanita itu.
"Aku memiliki satu kisah yang tak akan pernah bisa dibagi kepada siapapun. Kisah itulah yang akan menjadi bumerang untukku nantinya. Kisah yang membuatku selalu ragu untuk kembali." Rania kembali memerawang. Pandangannya beradu pada bayang-bayang masalalu yang terus menghantuinya hingga kini.
"Ceritakan padaku, Rania. Aku akan membantumu keluar dari masalah itu. Lalu kita dapat hidup bahagia di hari tua." Rania menarik tangannya dari genggaman hangat itu.
"Aku tidak bisa membaginya, Tio. Padamu, atau pada siapapun."
Tio menarik kembali tangan itu, "jangan ceritakan Rania. Buang cerita itu dari orang lain dan darimu. Kemudian kembali pada kami."
***
Vino berjalan mantap. Seminggu adalah waktu yang cukup untuk merasa bahagia dengan keluarga kecilnya. Sekarang ia harus kembali pada kenyataan. Ia harus memperjuangkan ini semua. Kebahagiaan nya dan juga keluarga kecilnya.
Perlahan, kakinya melangkah menaiki anak tangga yang akan mengantarkannya kepada seorang wanita yang akan melengkapi kebahagiannya. Yang akan mengantarkannya pulang pada rumahnya. Yang akan menjadi keputusan akhir, apakah ia akan kembali, atau ikut pergi bersamanya.
Vino tahu, ini adalah keputusan terberat yang selalu ia tunda kedatangannya. Keputusan yang selalu ia hindari untuk dihadapi. Karna kenyataan ini begitu pahit.
"Kau datang," Rania menyapa saat Vino berdiri di depan pintu apartemennya.
Wanita itu tersenyum pedih kemudian membuka pintu sembari membawa belanjaannya tadi.
"Tidak lebih baik darimu, Dav. Bagaimana mereka? Sehat?" tanyanya.
"Ya, mereka sehat."
Vino memang sudah berhasil berbincang dengan Rania sejak usia kandungan Veroniccha menginjak bulan ke 5. Namun belum berhasil membawa Rania pada Veroniccha.
"Apa yang membawa mu kemari kali ini?" tanya Rania.
"Aku membawa cerita lama dan ingin menagih janjimu, Ma." Vino menatap Rania serius.
Kisah lama yang Rania kira hanya dia yang menyimpannya. Kini, menantunya datang dan ikut serta dengan cerita itu. Membuatnya kembali terlambar pada masa itu. Masa di mana dia benar-benar rapuh dan merasa sendiri.
"Tidak usah takut, Ma. Nenek telah tiada. Kisah itu takkan pernah terbuka nantinya. Kembali lah. Kita simpan kisah itu berdua."
Rania menundukkan kepalanya. Apa iya? Apa ini saatnya ia akan kembali?
"Kembali, Ma. Bersamaku," ajak Vino lagi.
"Beri Mama waktu lagi, Vino. Mama butuh seminggu lagi." Vino mendesah kecewa. "Baiklah. Seminggu lagi kita kembali. Bersama."
***
"Dimana Vino, Nin? Apa selama itu mengurus pekerjaannya?" Veroniccha menatap memohon pada Nina yang sedang menggendong Venus.
Nina bingung menjawab apa. Sudah lima hari Vino pergi dan tidak ada satupun yang tahu keberadaannya. Vino hanya berkata akan pulang ke Indonesia sebentar mengurus pekerjaannya lalu berjanji akan kembali lagi dan menjemput Veroniccha.
Namun kenyataannya hanya kosong karna Farel dan Darel tak menemukan Vino di sana juga nama Vino tak ada dalam daftar penerbangan.
"Vino pasti akan segera kembali, Ccha. Ku mohon berhentilah menangis kasian Venice dan Venuce. Mereka ikut menangis karena kau menangis, Ccha."
"Vino akan meninggalkan ku lagi, Nin," lirihnya bersama dengan tangis kedua putrinya.
Nina ikut meneteskan air matanya. Sampai sekarang ia masih tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu.
***
Veroniccha terbangun dari tidurnya saat mendengar tangisan dari kedua bayinya. Setiap malam selalu seperti ini. Kedua bayinya akan terbangun dan akan menangis bersamaan. Sebelumnya, ada Vino yang bersama dengannya. Namun, lima hari ini, ia merasa benar-benar menyedihkan dan sendiri.
Bersama kedua putrinya, ia ikut menangis meratapi malam yang sunyi. Juga hidupnya.
Tangisnya masih terdengar dengan dering ponselnya.
"Vino! Kau dimana!" air matanya kian menderas saat ia menjawab panggilan itu.
"Kau meninggalkan ku dan anak kita. Kau jahat Vino!" teriaknya lagi.
.
.
.
.
**Satu part lagi endinggggg
yeayyy
aku mau minta komen yang banyak dong**