Stay

Stay
Episode 18



Lalu ketika kau memutuskan untuk menggenggam erat tangan ini, jangan sekali-kali mencoba untuk melepasnya. Karena kau akan mati, berikut hatiku.


.


.


.


Ada sebuah hal yang lebih indah dilihat dari tulip kesayangannya, wajah tidur Vino. Veroniccha begitu menyukai wajah polos Vino seperti saat ini. Saat Vino meletakan kepalanya pada pangkuan Veroniccha dan Veroniccha membelai lembut rambutnya sampai Vino berkelana dengan mimpi.


Ketika seseorang menyebut cinta adalah sebuah kekalahan, Veroniccha lah orang pertama yang mengakuinya. Nyatanya ia sudah kalah telak saat nekat untuk tetap tinggal di sisi Vino. Memutuskan perjalanan panjang yang sudah hampir ia selesaikan. Ia kalah pada hatinya. Nyatanya, mimpi buruk pendukung sudah tak hadir lagi saat ia mulai mengklaim sebuah pelukan hangat milik suaminya.


Vino dan segala sifat menyebalkannya. Vino dan segala kehangatannya. Dan masih banyak lagi hal tentang Vino yang membuatnya kalah.


Ketika orang memaknai kekalahan seperti kesedihan, maka ia mau bersenang atas kesedihannya. Nyatanya, hidupnya memang menyedihkan. Selama ini ia berjalan agar kesedihan itu lenyap dari sisinya. Tapi ketika ia akan menemui akhirnya, ia mengakui bahwa ia kalah. Ia tetap menyedihkan karena menghentikan perjalanannya. Yang dapat ia lakukan adalah bersenang atas kesedihannya.


Hidup dengan segala kerumitan sejak kecil membuatnya tak mengerti apa itu kebahagian. Yang ia tahu adalah ia mencarinya. Hingga ia merasa hampir menemukannya, namun ia mengambil arah lain untuk mendapatkannya.


"Aku kalah," ujarnya masih terus membelai lembut rambut Vino.


Vino mengerjapkan kedua matanya dan menggenggam erat tangan Veroniccha yang sudah berada di dadanya.


"Kau lelah?  Aku pasti sudah sangat lama tertidur ya?" Vino bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Veroniccha masih dengan menggeggam erat tangan istrinya.


"Em.. Sampai kakiku mati rasa."


"Cih! Berlebihan." Vino berdecak kemudian tersenyum melihat wajah polos istrinya.


"Adikmu itu mengapa belum kembali? Mengapa kau ijinkan ia menarik Nina pergi?" Vino kembali melihat jam dan ia semakin gusar saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Jika hanya Dennis yang belum kembali ia takkah sekhawatir ini. Pasalnya adalah si tengil Dennis itu menyeret Nina pergi dari kantornya pagi tadi.


"Biarkan saja. Mereka harus menyelesaikan masalah mereka."


"Jadi kau sudah tahu dari awal bahwa Nina adalah mantan kekasih Dennis?"


"Sebenarnya hubungan mereka tidak pernah berakhir. Hanya saja Dennis sedikit bodoh."


"Tapi kau malah mendukung hubunganku dengan Nina. Apa itu tidak menyakiti adikmu?"


"Sebenarnya aku sengaja. Setidaknya Nina akan bahagia bersamamu. Setidaknya orang yang kami sayang berada pada orang yang tepat. Jadi kalau Dennis dan Nina tidak bisa bersama, aku tak khawatir jika Nina bersamamu."


"Aku tak mengerti."


Veroniccha tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vino. Ia kembali melihat tv dengan pandangan kosong. Entahlah, rasanya jika melihat Dennis ia kembali merasakan kesedihan itu


Ia dan Dennis adalah korban tak berperasaan orang tuanya. Masih teringat jelas kala ia melihat Mamanya dengan perut besar dan koper yang di seretnya. Di dalam koper itu baju, dan di dalam perut Mamanyalah Dennis berada.


Kala itu Veroniccha hanya bisa meraung melihat Mamanya perlahan menjauh dan tak terjangkau matanya. Sedangnkan tangannya dicekal oleh iblis tak berperasaan yang menyerupai wanita.


Papanya?


Ia bahkan tak melihatnya sampai dua bulan Mamanya menghilang.


"Melihat Dennis, aku kembali menginhat kenangan itu." Vino mentap istrinya dari samping. Tatapan Veroniccha kali ini adalah tatapan yang sama ketika ia hendak berpamitan akan melanjutkan perjalanannya.


"Dennis adalah simbol kepedihan dalam hidupku. Mama pergi meninggalkanku sendiri dengan Dennis di dalam perutnya." Vino masih terdiam menunggu Veroniccha bercerita lebih lanjut.


"Lalu Papa baru kembali dua bulan kemudian tanpa menjawab pertanyaanku tetang di mana keberadaan Mama. Papa datang dengan membawa perempuan asing bersama bayinya. Hidupku yang awalnya seperti di neraka karena hanya berdua dengan nenek semakin berasa di tempat lebih menyeramkan dari neraka saat Papa datang.


Yang aku tahu, perempuan itu adalah Tante Mariska, sahabat Mama. Kemudian Papa bilang bahwa bayi perempuan mungil itu adikku. Gladis. Dan yang kutahu, adikku yang berada di kandungan Mama adalah laki-laki karena Mama memberitauku dan kami mendekor kamar adik bayi bersama. Saat itulah, aku membencinya dengan segenap hatiku. Usiaku meski hanya 5 tahun namun aku merasakan kesedihan. Dan satu hal yang aku tahu, perempuan itu dan bayinya adalah penyebab kepergian Mama."


Vino sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Veroniccha. Ia tahu, mata perempuan yang dikasihnya itu memancarkan begitu banyak luka dan kepedihan.


"Lalu kapan kau bertemu dengan Dennis?" Veroniccha menghembuskan napasnya kasar kemudian menatap Vino sekilas.


"Ketika aku kelas 3 SMA. Saat itu aku sudah di batas kesabaran dengan tingkah Gladis yang semakin membuatku muak. Padahal aku tak pernah mencari masalah degannya. Sejak SD aku memutuskan untuk tinggal di Bandung dengan kakak Mamaku. Di situlah aku mengenal jiwa berpetualang Mama dan juga segala kenangan tentang Mama dan Papa. Lalu aku bertekad akan menghancurkan bukti kenangan indah itu. Nyatanya Papa tak pernah menemuiku atau mencari tahu keadaanku. Itu adalah bukti mutlak bahwa Papa sudah tak menginginkan Mama. Karena aku adalah bagian dari Mama.


Lalu ketika aku akan masuk SMA, bibi meninggal dan dengan terpaksa aku harus kembali ke Jakarta. Kerumah kenangan indahku bersama Mama. Di saat itulah Gladis sering berbuat ulah. Ia terus mencari masalah denganku dan berakhir dengan aku yang harus mengalah. Aku hanya mencoba bersabar dan mengabaikan segala tingkah memuakkannya. Kemudian ketika ia mengungkit Mama, aku mendorongnya dan ia jatuh dari tangga. Di saat itu Papa menamparku.


Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari tamparan Papa. Aku hanya mengurung diri di kamar dan tak pernah keluar sedetikpun. Bahkan untuk sekolah. Papa sudah berkali-kali minta maaf padaku. Namun rasanya hatiku seperti mati. Aku hanya mengijinkan bi Jimah memasuki kamarku untuk mengantarkan makanan dan mengajakku berbicara.


Selama sebulan aku bertahan sampai akhirnya Papa membawa Dennis kerumah. Tanpa Mama. Saat itu Dennis kelas 6 SD dan aku melihat wajah Dennis yang kebingungan melihat kami semua. Aku bahagia, karena aku bertemu dengan adikku. Juga sedih karena Dennis hanya datang sendiri. Bahkan Dennis tak pernah tahu ia memiliki orang tua. Ia memiliki kakak. Dan..." Veroniccha semakin terisak dalam ceritanya.


Ia kembali membayangkan masa-masa kelam dalam hidupnya. Sangat lebih menyedihkan karena ia merasa lebih beruntung dari Dennis. Ia pernah berada di antata hangatnya keluarga meski hanya 5 tahun.


Ia terus terisak dan semakin terisak saat Vino memeluknya begitu erat.


"Dan Mama tak pernah kembali bahkan sampai saat ini."


***


Veroniccha masih menyamankan dirinya dalam peluakan Vino. Setelah tadi ia menangis dan menjeritkan pilunya, kemudian ia tertidur. Lama sampai ia terbangun masih berada dalam pelukan Vino. Hanya saja kini mereka berada di atas ranjang.


"Mengapa terbangun?" Vino bertanya serak.


Veroniccha hanya menggeleng dan menatap wajah Vino yang berada di atasnya. Vino tersenyum manis kemudian semkin mengeratkan pelukannya.


Saat itu, ia sangat butuh sandaran. Namun tidak ada yang dapat dijadikan tempat bersandar. Saat itu, ia sangat butuh kehangatan. Namun tidak ada yang memeluknya erat. Saat itu, ia sangat butuh kekuatan. Namun tidak ada yang menggenggam tangannya erat.


Tapi saat ini, ia memiliki Vino.


"Sekarang ada aku yang akan memberikan sandaran ternyaman untukmu. Lalu akan memelukmu erat seperti ini."


Vino kembali menatao Veroniccha dan mengambil jemarinya lalu ia menggennggamnya erat. "Lalu aku akan meyalurkan kekuatanku. Aku akan mengenggam erat jemarimu-"


"Lalu ketika kau memutuskan untuk menggenggam erat jemari ini, jangan sekali-kali mencoba untuk melepasnya. Karena kau akan mati, berikut hatiku."


.


.


.


.


.


.


.