Stay

Stay
Episode 28



Dennis menatap khawatir pada Veroniccha yang sejak tadi bolak balik masuk kamar mandi. Wajahnya pucat sekali. Namun ketika Dennis menanyakan keadaannya, Veroniccha berkata bahwa ia baik-baik saja dan itu membuat Dennis kesal.


"Iccha, sebaiknya kita kedokter. Kau tidak sedang baik-baik saja," kata Dennis pada Veroniccha yang baru keluar dari toilet.


"Aku tidak apa apa, kau tenang saja. Aku hanya butuh istirahat." Veroniccha berjalan sembari memegangi perutnya yang terasa mual sekali.


Dennis berdecak untuk yang kesekian kalinya dengan jawaban itu. Apalagi saat Veroniccha yang memutar arah kembali menuju kamar mandi.


"Kau tidak sehat, Iccha! Kita ke dokter sekarang!" Perintah Dennis tanpa mendengar jawaban Veroniccha dan bergegas memapah Veroniccha keluar.


***


"Sudah berapa lama?" Veronica kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya pada Dennis.


Dennis hanya menatap malas pada Veroniccha dan bergegas keluar kamarnya dengan nampan di tangannya.


"Itu adalah pertanda bahwa Tuhan memberimu jalan agar kembali pada Dav, Iccha. Jangan keras kepala dan hanya memikirkan egomu saja. Pikirkan kandunganmu juga." Dennis berbalik pada Veroniccha sebelum benar-benar menutup pintu kamarnya.


Dennis memasang senyum manisnya selama perjalanan menuju dapur. Veroniccha hamil dan ia akan memiliki keponakan. Dan yang lebih membuatnya senang adalah, Veroniccha akan menemukan kebahagiaannya kembali.


"Nin, kau tahu, Iccha hamil!" ujar Dennis semangat setelah meletakkan nampan di atas meja makan dan segera menghubungi Nina untuk memberi tahu berita ini.


"Benarkah?!  Kau tidak bercanda?!" Nina memekik di seberang sana. "Dave pasti akan senang sekali!"


"Tapi, Nin, kurasa kau jangan memberi tahu hal ini dulu pada Dave. Aku pikir lebih baik Veroniccha yang memberi tahu berita bahagia ini."


"Hmm.. Ku pikir juga seperti itu baiknya. Baiklah, aku takkan memberi tahukan berita ini pada Dave. Oh ya, lusa aku akan kesana."


"Oh ya?  Bagus sekali. Aku sudah sangat merindukanmu di sini... "


Lalu percakapan selanjutnya adalah kalimat romantisme receh yang dikeluarkan Dennis.


Semenjak kembali bersama Nina, Dennis lebih banyak mempelajari bagaimana berperilaku dengan wanita agar wanita tidak bosan dan memutuskan berselingkuh. Karena demi apapun, Dennis sangat cemburu dengan Kedekatan Nina dan Darrel yang membuatnya melakukan kesalahan sekali lagi. Maka kali ini, setelah ia berdamai dan mendapatkan Nina kembali, Dennis sudah berjanji akan melakukan yang terbaik untuk Nina.


***


Veroniccha masih terus mengusap perutnya dan senyum kembali mengembang di wajahnya.


Buah hatinya dan Vino yang sudah menetap 5 minggu di dalam perutnya.


Oh senang sekali!


Sejak mendengarkan petuah dari dokter akan cara menjaga dan merawat kandungan, Veroniccha telah bersungguh sungguh untuk menjaga buah hatinya.


Sebenarnya Veroniccha ingin sekali menghubungi Vino dan memberi tahukan berita ini padanya. Tapi egonya melarang.


Untuk apa? Toh selama tiga minggu ini ini Vino juga tak pernah menghubunginya.


Tapi sungguh, Veroniccha merindukan laki-laki itu.


Sebenarnya pun, perihal tentang Vino adalah penyebab awal Veroniccha kehilangan keluarganya, Veroniccha sudah menghilangkan rasa benci itu perlahan. Ia pun sadar, bahwa Vino tak menginginkan hal ini terjadi.


Biara bagaimanapun Veroniccha cukup gengsi untuk tiba-tiba menghubungi Vino dan mengatakan ia akan kembali kerumah.


Lagi pula, kenapa sih, suaminya itu tak pernah menghubunginya?


Apa ada perempuan lain?


Perempuan?


Veroniccha tersentak akan pikiran negatifnya dan segera mengambil ponselnya di atas nakas.


"Gee, apa Vino sering bertemu dengan perempuan lain?" tanyanya langsung tanpa menghiraukan gerutuan Gladis di seberang sana.


"Kau benar-benar Iccha!  Kau mengganggu tidur nyenyakku hanya untuk bertanya perihal suamimu?! "  Omel Gladis di seberang sana.


"Jawab saja, Gee."


"Belum. Jadi sebelum hal itu terjadi sebaiknya kau pulang dan berhenti menggangguku."


"Terimakasih Gee. Kabari aku setiap hari perihal Vino dan jangan sampai kau biarkan ia bersama perempuan lain. Dan omong-omong, aku hamil." Veroniccha menutup panggilannya dan mengabaikan Gladis yang sedang memaki di sana.


"Iccha hamil?  Benarkah? Astaga!"  Gladis menutup mulutnya terkejut.


Lalu setelah lama terdiam, ia kembali menutup matanya untuk menanti esok pagi dan kembali dengan kerumitan perintah Veroniccha.


***


Gladis berjalan angkuh memasuki kantor Vino dengan bekal makan siang di tangannya. Ia mengabaikan semua gosip mirip tentangnya dan Vino yang beredar di kantor ini. Persetan dengan semua berita itu. Ia pun takkan mau melakukan ini kalau bukan Veroniccha yang merengek padanya.


Satu kantor ber gosip tentang dirinya yang menjadi orang ke tiga antara rumah tangga bosnya dan sang istri. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka mengetahui bahwa Gladis adalah adik Veroniccha dan hubungan mereka tidak akur. Entah dari mana berita itu beredar. Untung saja Gladis sudah terlatih menjadi gadis sombong dan menjengkelkan sejak kecil. Jadi celaan macam itu takkan membuatnya kesal karena lebih banyak celaan yang sering ia dengar sebelumnya.


"Kau datang lagi?" itu bukan Vino yang menyapa. Melainkan Darrel yang sedang duduk santai di kursi ruangan Vino.


Vino walaupun dengan terpaksa dan sudah seperti kehilangan nyawanya, berkat paksaan Darrel, Farrell dan juga Gladis, akhirnya laki-laki itu mau kembali ke kantor.


Tapi kabar buruknya adalah, Vino menjadi seseorang yang gila kerja dan melupakan segalanya. Termasuk makan siang dan malam yang membuat Gladis harus repot membawakan makan siang ke kantor setelah itu memesankan makanan online ke rumah Vino. Itu semua perintah Veroniccha.


Beruntunglah Veroniccha karena Gladis menyayanginya.


"Jika aku tak datang, temanmu ini pasti akan mati," jawab Gladis dan langsung menghidangkan makan siang itu di atas meja kemudian menarik paksa Vino untuk makan.


"Sepertinya akhir-akhir ini kau sering sekali datang ke sini. Apa kantor mu pindah ke sini?" tanya Gladis yang melihat Darrel ikut mengambil makanan.


"Tentu saja. Setelah tahu kau sering membawakan makan siang untuk Dave, itu adalah kesempatanku agar mendapat kan makan siang gratis. Kalau bisa berikut yang memasak." Darrel tersenyum miring dan pipi Gladis bersemu merah.


.


.


.