
Davino masih setia menatap wajah pulas istrinya. Kini ia mengalami fase di mana seseorang tersenyum dengan sendirinya, hanya dengan melihat wajah Veroniccha. Entah pelet apa yang diberikan istri anehnya itu. Belum genap tiga bulan dan ia sudah jatuh pada Veroniccha.
"Mengapa belum tidur?" Veroniccha membuka matanya setengah dan menatap Davino.
"Aku belum mengantuk."
"Kau benar-benar harus tidur dengan aku mengusap kepalamu lagi?" Davino mengerucutkan bibirnya sebal mendengar sindiran Veroniccha.
"Mau keluar sebentar? Langit malam bandung sangat bagus," ajak Davino yang sudah terduduk di ranjangnya.
"Dio bagaimana?"
"Dia takkan terbangun. Kita hanya berada di balkon menikmati secangkir coklat panas dan menatap bintang."
*__*
Kini di sinilah mereka. Menyesap coklat panas guna menyamarkan dinginnya bandung. Veroniccha menyandarkan kepalanya pada bahu Davino dan menatap gumparan bintang yang terlihat begitu indah terpampang di angkasa.
Ini sudah malam ke tiga mereka di bandung dan besok akan kembali ke jakarta. Tiga hari yang begitu menyenangkan. Davino merasa begitu lengkap seperti memiliki keluarga kecil yang bahagia. Ia selalu berdoa agar bisa selamanya seperti ini. Dengan nanti kehadiran seorang bayi di antara mereka.
"Bagaimana bandung? Indah bukan?" Davino membuka suara.
"Hm.. Aku menyukainya."
"Kau tahu, aku dan Nina berakhir." Veroniccha menegakkan duduknya dan menatap Davino dingin.
"Mengapa?" suaranya terdengar semakin dingin.
Davino masih berusaha santai meski ia sudah gelisah dengan nada dingin yang keluar dari bibir pink itu.
"Bukan karenamu. Aku dan Nina memang saling menyayangi. Tapi kami tidak saling mencintai. Tiga tahun selama aku bersamanya, perasaannya tidak pernah berubah. Kami hanya merasa kami cocok sehingga memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi aku dan Nina sama-sama tahu bahwa hubungan kami tak bisa melangkah melebihi itu.
Nina masih mencintai mantan kekasihnya. Dan aku, aku tak menemukan getaran saat dengannya. Kami hanya merasa cocok dan perlu memiliki tempat berbagi dan berkeluh kesah. Aku pikir aku lebih menganggapnya adik atau sahabat ketimbang kekasih."
Veroniccha menundukkan pandangannya, "tapi mengapa harus berpisah? Kau harus mencoba merebut hatinya."
"Aku tak ingin. Aku cukup nyaman dengan keadaan kami. Ninapun sama. Bahkan hubungan kami tak ada yang berubah. Kami masih dekat dan saling menghubungi."
"Tapi... Aku yakin kau mencintainya. Mungkin kau belum sadar."
"Aku tahu diriku, Ve. Hatiku tak bergetar untuknya. Aku memang sedih saat melihatnya sedih. Tapi tak tersiksa. Jika ia sedih aku akan mencoba untuk menghiburkan. Tak pernah terpikir untuk mengambil kesedihan itu dari dirinya. Jika ia senang aku memang senang. Tapi tak pernah terpikir untuk mencoba selalu membuatnya bahagia. Aku tak pernah mempunyai rencana hidup dengannya selamanya. Tak pernah memikirkan untuk membangun keluarga bahagia dengannya. Tak pernah membayangkan menggendong buah hati kami.
Aku menjalankan hubungan dengan Nina seperti air. Aku hanya membiarkannya mengalir tak tahu kemana arah tujuannya. Hubungan kami hambar."
"Tapi tak harus berakhir."
"Akan egois rasanya jika membiarkan Nina terikat padaku. Dia berhak merencanakan kebahagiannya sendiri karena aku sudah merancang kebahagianku."
Davino berbalik. Menatap kedua bola mata Veroniccha dan mencoba menyelaminya.
"Aku merancang kebahagianku. Membayangkan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Membayangkan menggendong seorang bayi. Membayangankan bagaimana rumahku begitu ramai dengan canda anak-anak dan omelan ibunya. Aku merancangnya dan membayangkan itu semua bukan bersama Nina. Tapi bersamamu."
Veroniccha tak sadar saat setetes air mata sudah meluncur membasahi pipinya. Ia ingin. Ia ingin merancang kebahagiannya dengan Davino. Tapi ia takut. Bahkan membayangkan saja ia tak berani.
Kini perasaannya nano-nano. Ia bahagia saat tahu Davino ingin bahagia bersamanya. Namun ia sedih. Ia merasa jahat karena merebut Davino dari Nina.
Davino masih menatap Veroniccha dalam. Kini tangannya menggenggam tangan Veroniccha erat.
"Kau tidak merebutku dari Nina. Nina menyayangimu. Aku yakin Nina akan menemukan kebahagiannya setelah lepas dariku.
Air matanya semakin deras. Ia memeluk Davino seerat yang ia bisa. Ia ingin. Sangat ingin. Tapi ketakutan menghantuinya. Ia takut bahagia.
"Aku takut,"
"Kau tak akan takut jika melihat ke depan. Melihatku. Kau harus tahu bahwa aku memiliki pelukan yang akan menghancurkan rasa takutmu. Peluk aku seerat yang kau bisa jika takutmu datang. Jangan melihat kebelakang. Hanya melihatku dan menikmati pelukanku yang hanya milikmu.”
Veroniccha mengangguk dalam dekapan Davino. Ia ingin bahagia. Dan Davino adalah jalannya.
*__*
Veroniccha masih terus berupaya membangunkan Davino yang entah mengapa pagi ini tidur seperti kerbau. Sulit sekali untuk dibangunkan. Bahkan Dio yang awalnya tertawa melihat mamanya membangunkan Papanya menjadi ikut kesal.
"Mama kita tinggalkan saja papa." Dio bangkit dari sofa dan menarik lengan Veroniccha yang masih mengguncang tubuh Davino.
"Vino ini kali terakhir aku membangunkanmu. Jika masih tak mau bangun aku akan kembali ke jakarta bersama Dio."
Davino terlihat mengerjapkan matanya dan melihat Veroniccha yang menatapnya dengan kesal. Iapun tak mengerti mengapa sulit sekali melawan kantuk saat ini.
"Cepat kumpulkan nyawamu lalu mandi." Veroniccha beranjak.
Veroniccha masih asik menemani Dio menonton TV ketika mendengar Davino memanggilnya. Ia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Davino.
"Astaga! Mengapa kau masih belum beranjak juga?" Veroniccha benar-benar gemas melihat Davino yang memejamkan matanya.
"Mataku tidak mau terbuka."
"Jangan kekanakan dan cepat mandi!"
"Beri aku ciuman dan aku akan segera mandi." Veroniccha semakin mendelik melihat tingkah kekanakan Davino. Mereka memang sudah sepakat semalam. Tapi Veroniccha tak tahu bahwa itu akan merubah Davino menjadi semanja ini.
"Cepat agar aku cepat mandi," kata Davino lagi.
Veroniccha mengecup kening Davino sekilas dan segera menarik tangan suaminya itu. "Cepat mandi!"
*__*
Ini sudah hari kelima dengan agenda yang Davino tulis tuntas semua. Hanya tinggal dua hari untuk menyelesaikannya.
Mereka telah sampai di Jakarta sejam yang lalu dan sedang bermalas malasan di depan TV. Davino kembali memikirkan bagaimana cara mengajak Veroniccha agar mau melakukan agenda ke enamnya besok. Pasti sulit sekali membujuk wanita itu.
"Aku besok akan pergi dengan Nina dan Dio," ujar Veroniccha ketika meletakan kembali ponselnya.
"Tidak boleh," larang Davino langsung. Bisa batal rencana mereka besok.
"Mengapa tidak boleh?"
"Mamaku menyuruh kita datang besok."