Stay

Stay
Episode 11



"Ve, kau lama sekali. Nina sudah lama menunggumu!" Davino berteriak dari ruang TV. Nina yang menyasikan itu terkikik geli. Mantan kekasihnya ini banyak berubah semenjak kehadiran istrinya.


Hari ini Veroniccha ingin mengajak Nina ke salon untuk melakukan beberapa perawatan. Sebenarnya ia mengajak Davino turut serta. Namun tanpa berpikir Davino menolaknya. Apa yang dapat diharapkan dari perempuan dan salon. Lebih baik ia tidur di rumah menghabiskan akhir pekannya.


"Astaga. Aku tak tahu Veroniccha selama ini!" Davino menggerutu kesal dan hendak berdiri sebelum Nina memegang tangannya.


"Sudahlah. Sebentar lagi ia akan turun." Davino kembali menempelkan bokongnya pada sofa.


"Kau banyak berubah, Dave." Nina menatap Davino dengan senyum lembutnya.


Davino mengerutkan keningnya bingung, "berubah bagaimana?"


"Kau lebih berekspresi."


"Jika yang kau maksud adalah marah-marah memang benar. Kurasa kadar darah tinggiku naik selama Veroniccha tinggal di sini."


Nina tertawa sekali lagi.


"Ya. Mungkin kau benar. Tapi, selain marah-marah aku sering melihatmu tertawa semenjak Veroniccha di sini."


Davino hanya diam bingung ingin menjawab apa. Sebenarnya ia pun merasakan banyak yang berubah dari dirinya semenjak tinggal bersama Veroniccha. Davino memang bukan tipe lelaki yang kaku dan dingin. Sifatnya datar-datar saja. Tanpa marah dan tertawa. Kehidupannya sebelum Veroniccha singgah biasa saja. Tidak ada yang istimewa.


Setiap hari bekerja dan akhir pekan istirahat di rumah. Mengahbiskan waktu dengan Ninapun jarang. Mereka memang sering bertukar kabar melalui media sosial. Namun untuk berkencan bisa dihitung jari. Davino sangat mencintai pekerjaannya. Dia hampir tidak pernah membolos barang seharipun. Namun semenjak kedatangan Veroniccha,  semuanya berubah. Ia sudah tak tahu berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk membolos bekerja. Veroniccha selalu bisa memintanya tetap tinggal. Meski terkadang alasannya begitu konyol. Namun entah mengapa Vino seperti tak memiliki alasan untuk menolaknya.


"Kau mencintainya, Dave," ujar Nina lagi.


"Mungkin belum sampai tahap aku mencintainya. Kalau kau katakan aku menyayanginya aku takkan berbohong. Ya. Aku menyayanginya. Kaupun juga menyayanginya kan?"


Nina mengganggukkan kepalanya dan kembali tersenyum.


"Aku selalu berdoa untuk kebahagianmu, Dave. Kau sudah seperti kakak bagiku." Davino hanya tersenyum. Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya.


Jujur,  ia kecewa dan marah saat Veroniccha menyuruhnya untuk menikah dengan Nina dan menceraikannya. Ia tak bisa. Veroniccha sudah masuk dalam kehidupannya. Sulit rasanya untuk melihat Veroniccha pergi. Ia selalu lebih bersedih setiap mendengar Veroniccha mengigau pada sepotong malam. Ia selalu ingin tahu kepedihan apa yang gadis itu rasakan. Ia ingin gadis itu memberikan kepedihannya padanya.


Lalu ketika kemarin Veroniccha berkata bahwa ia akan pergi. Ingin rasanya Davino melarangnya. Ia tak ingin Veroniccha jauh dengannya. Namun apa yang dapat ia lakukan? Menyuruh Veroniccha makanpun gadis itu menolaknya.


Lalu apa arti dirinya bagi gadis itu?


Peduli setan dengan semuanya. Yang terpenting saat ini adalah Veroniccha masih di sisinya. Besok biarlah besok.


"Astaga maaf sepertinya kau menunggu saat lama." Veroniccha terlihat menuruni tangga lalu tatapannya beralih pada Davino yang tidak terlihat seperti biasanya. Kemudian perempuan itu bertanya pada suaminya, "ada apa denganmu?" Veroniccha menatap Davino dengan wajah cemasnya.


Davino hanya melihat Veroniccha lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul. Istrinya itu terlihat mengkhawatirkannya.


"Kalian bertengkar?  Mengapa aku melihat kau.. Wajahmu.. Murung?"


Nina hanya menyaksikan keduanya. Sampai tangan Veroniccha menjulur dan membelai rambut suaminya dengan lembut. Diusapnya kepalanya dengan tatapan yang tak kalah lembutnya. Tanpa ditanyapun, orang-orang yang melihatnya tahu kalau mereka berdua saling menyayangi.


"Pekerjaanmu akan baik-baik saja. Percaya padaku," ucap Veroniccha. Berharap kalimat penghiburnya tadi dapat membuat Davino melupakan permasalahannya yang ia pikir masalah pekerjaannya meski hanya sejenak.


Davino memang sempat bercerita pada Veroniccha perihal kantornya yang sedang mengalami masalah. Namun bukan masalah besar. Ia terbiasa bercerita tentang kegiatan hari-harinya pada Nina yang kini telah terganti Veroniccha.


Nina belum menghilangkan senyum dari bibir kecilnya. Ia tahu Davino sudah memberikan hatinya.


"Yasudah aku pergi dulu. Karena kau di rumah dan bersedih karena pekerjaanmu tidak baik,  lebih baik kau merapikan rumah. Menyapu,  mengepel tidak buruk untukmu." Veroniccha menarik tangan Nina dan segera pergi.


*__*


Davino kembali memikirkannya. Sebenarnya,  mengapa mamanya ingin sekali menikahkan dirinya dan Veroniccha. Juga,  apa maksud dari mamanya yang meyuruh agar ia mengembalikan Veroniccha seperti sedia kala.


Apa yang terjadi dengan gadis itu?


Veroniccha selalu penuh dengan teka teki. Ia selalu menyimpan kelam itu sendiri. Kemudian akan tersenyum ceria dan bertingkah konyol untuk menutupinya dan semuanya memang sudah seharusnya seperti itu.


Tak bisakah ia membagi kisahnya dengan Davino?  Apa Davino tak ada artinya bagi gadis itu sehingga ia tak ingin membagi kisahnya?


"Halo. Bisa kita bertemu?"


"..."


"Aku kesana sekarang."


Davino mematikan panggilannya dan segera bersiap untuk menemui Mario. Ia akan mencari tahu semuanya.


Lalu di sinilah ia. Menyesap kopinya dengan pikiran terpusat satu hal. Veroniccha.


"Aku mohon. Kau pasti tahu alasan mama memintaku untuk menikahi Veroniccha. Tidak nyaman menjadi orang bodoh seperti ini. Ketika kau hanya bisa bingung saat melihat hal baru yang terjadi. Setidaknya kau harus membatuku." Davino kembali berbicara pada kakaknya.


Mario menghembuskan napas panjang. Apa harus sekarang?  Tapi apa kapasitasnya memberi tahu apa yang terjadi?  Namun ia pun tak tega melihat adiknya seperi ini.


"Entahlah. Aku takut yang kukatakan padamu akan membuatmu berubah."


"Tapi,  bagaimana caranya membuat Veroniccha seperti sedia kala sedangkan aku tak tahu bagaimana ia sebelumnya."


"Kau hanya perlu membuat Veroniccha tinggal di sisimu dan menghentikan perjalanannya. Kalian hidup bersama. Saling mencintai. Punya anak, cucu. Bahagia sampai maut memisahkan. Seperti itu."


Davino mendengus keras. Apakah dapat semudah itu?


"Lalu bagaimana caranya?  Sedangkan aku tak tahu mengapa Veroniccha melakukan perjalanan-perjalanan itu. Aku tak tahu apa-apa tentang dirinya. Kau tak tahu betapa bingungnya aku saat kerumah ayahnya. Melihat ia yang tak akur dengan keluarganya. Kau tak tahu betapa sedihnya aku setiap malam melihat ia mengigau dan tak tahu penyebabnya. Kau tak tahu betapa gelisahnya aku menunggu esok karena ia akan pergi esok!  Kau takkan tahu. Aku bahkan tak bjsa mengerti dirinya karena aku tak tahu apa-apa. Aku merasa sangat bodoh setiap memikirkannya!" Davino terengah. Napasnya memburu. Ia berhasil mengeluarkan semuanya. Ia berduka karena kebodohannya.


"Aku takkan menolak untuk bahagia bersamanya. Tapi bagaimana caranya?" gumamnya kemudian. Davino menundukkan kepalanya.


"Baiklah. Aku akan memberimu sedikit pengertian. Jika kau ingin mengetahui semuanya,  tanyakan langsung pada istrimu."


*__*


Davino menatap hambar pada TV di depannya. Ia tak tahu harus menyelas atau tidak mengetahui semuanya.


"Semua ini karenaku?"