
Davino masih terpejam. Mencoba untuk memasuki dan menjelajahi alam mimpi. Namun nihil. Ia masih gelisah dan terus bergerak sana-sini.
"Jika kau masih seperti cacing kepanasan lebih baik pindah ke kamarmu. Kasihan Dio nanti dia terganggu," kata Veroniccha yang telah membuka matanya dan menatap Davino.
Davino membuka matanya dan memiringkan badannya menghadap Veroniccha. Veroniccha masih menempatkan tangannya pada punggung Dio dan menepuknya lembut.
"Ini salahmu," ucap Davino pelan.
Veroniccha mencibirkan bibirnya, "kau yang meminta kopi. Aku hanya membuatkan."
Davino mendengus dan mengganti posisi tidurnya menjadi terlentang.
Davino dan Veroniccha memang sudah berada dalam satu kamar sejak Veroniccha sering menangis dalam tidurnya. Iapun mulai sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan Veroniccha yang aneh. Seperti tidak ingin keluar kamar sebelum pukul 8 lewat.
Biasanya ia hanya tidur berdua dan mendekap Veroniccha. Meskipun jiwa lelakinya tertantang namun ia berusaha menahannya karena Veroniccha pun memberi kenyamanan dalam tidurnya. Biasanya jika ia tidak bisa tertidur seperti ini, Davino akan mendekap Veroniccha dan menyuruhnya menepuk punggung belakangnya seperti yang Veroniccha lakuakan pada Dio kini. Namun kini ia tak mendapatkannya karena ada Dio di antara mereka.
Huh.. Sekarang ia merasa cemburu pada keponakannya sendiri.
"Pejamkan matamu dan cepat tidur," kata Veroniccha lagi.
"Kau tidak lihat sedari tadi aku memejamkan mataku dan mencoba tertidur. Tapi tetap saja tak bisa."
"Tidak ada yang menyuruhmu minum kopi."
Davino kembali mendengus mengingat beberapa jam yang lalu ia menghabiskan dua gelas kopi yang dibuat Veroniccha. Bukan karena apa-apa. Ia hanya sedang bingung berpikir bagaimana caranya memberi tahu Veroniccha bahwa hubungannya dengan Nina sudah berakhir dan Veroniccha bukanlah merebutnya dari Nina. Namun Nina yang memang merelakannya.
Davino tahu bahwa Veroniccha takkan mudah menerimanya. Ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Apalagi hubungannya dan Nina cukup dekat.
Davino kembali terbayang saat Veroniccha berkata bahwa pelukan Davino bukanlah mikiknya. Padahal hanya Veroniccha yang ia peluk sepanjang malam. Tidak sadarkah wanita itu?
"Tidak bisakah kau bertukar posisi dengan Dio?" Habis sudah kesabarannya. Masa bodoh dengan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Karena kini ia tengah merengek pada Veroniccha seperti bayi yang minta dikeloni ibunya.
"Kau tak malu berkata seperti itu?" ucap Veroniccha sarkas. Davino kembali mendengus dan membalikkan badannya memunggungi Veroniccha dan Dio.
Apa wanita itu tidak tahu ia tengah menekan malunya kuat-kuat saat tadi merengek padanya?
Davino merasakan pergerakan di belakangnya dan tak lama ia merasakan sebuah tangan tengah menepuk punggungnya halus.
"Tidurlah." Sebuah suara lembut menyapanya. Davino membalikkan badannya dan menatap Veroniccha yang menghentikan usapannya pada punggungnya.
"Dio takkan terjatuh?" tanyanya.
Veroniccha memutar kedua matanya dan kini tangannya mengelus kepala Davino pelan.
"Makanya kau cepat tidur agar aku bisa memindahkan Dio." Davino tak membantah dan kini menempatkan kepalanya pada ceruk leher istrinya.
*__*
"Kenapa tak dimakan wortel dan brokolinya?" tanya Davino saat melihat Dio menyisihkan sayurannya.
"Dio tak suka papa. Tidak seenak ice cream," jawab Dio masih terus menyisihkan wortel dan brokoli.
"Tidak ada wortel dan brokoli yang memiliki rasa seperti ice cream. Tapi Dio harus memakannya agar sehat." Dio tak menjawab dan masih terus menyisihkan sayurannya.
"Jika tidak dimakan papa tidak akan membelikan Dio ice cream dan papa akan mengadu pada ayah dan bundamu."
Dio mengerucutkan bibirnya sebal. "Mama juga tidak memakan sayurannya," katanya.
"Ve, makan sayuranmu," perintah Davino saat melihat istrinya tengah melakukan hal yang sama seperti Dio.
"Dio benar Vin. Wortel dan brokoli tidak seenak ice cream."
Davino kembali mendengus melihat kelakuan istri ajaibnya yang seperti anak kecil. Hey, kau pun seperti anak kecil. Tidak ingatkah semalam kau merengek pada istrimu?
Sisi lain Davino berbicara yang mebuatnya bertambah kesal. Mengapa ia masih terbayang dengan tingkah kekanakannya semalam?
"Baik, jika kalian tidak memakan sayuran, tidak ada ice cream untuk kalian berdua selamanya." Davino menggeretak yang membuat keduanya protes bersama. "Tidak bisa seperti itu."
Dengan mulut masih mengerucut keduanya dengan terpaksa memakan wortel dan brokoli yang tadi disisihkan dengan tak ikhlas. Davino tersenyum penuh kemenangan di ujung meja makan.
*__*
"Jadi, kalian ingin kemana hari ini?" Davino bertanya setelah menyelesaikan makan siangnya. Mereka memang masih berdiam di rumah. Dengan Veroniccha yang harus menjalankan kewajibannya memberesi rumah dan Davino menemani Dio bermain.
Sesuai agenda yang telah Davino buat. Hari kedua ia akan mengajak Dio dan Veroniccha keluar kota selama tiga hari untuk liburan.
"Dufan!" seru Veroniccha dan Dio bersama.
Davino **** senyumnya. Dengan wajah sok merasa bersalah ia menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali. Hari ini tidak ada dufan."
Veroniccha dan Dio mendesah sebal. "Lalu mengapa tadi bertanya," ucap keduanya kesal.
Salahnya juga memang tadi ia bertanya pada keduanya. Ia hanya ingin menggoda istri dan keponakannya yang memang sangat sehati itu. Sifat mereka sangat mirip. Dio yang memang seperti anak pada umumnya dan Veroniccha yang kekanakan.
"Kita memang tidak ke dufan. Tapi kita akan berlibur ke Bandung."
"Bosan! Bandung tidak sekeren dufan." Dio menolak dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Siapa bilang? Di Bandung juga ada Transtudio yang tidak kalah keren. Selain transtudio papa akan mengajak kalian ke Bosca. Dio bilang ingin melihat bintang dengan terpong besar. Bagaimana?"
"Mau!" Dio bersorak gembira dan turun dari kursinya kemudian memeluk kaki Davino erat. Davino mengangkat Dio duduk di pangkuannya.
"Mama bagaimana? Setuju?" Davino menoleh pada Veroniccha yang masih terdiam.
Veroniccha merasakan hatinya kembali menghangat saat Davino memanggilnya 'mama'. Sebenarnya ia ingin menolak, tapi karena Davino memanggilnya seperti itu Veroniccha tak memiliki alasan untuk menolak dan hanya menganggukkan kepalanya.
*__*
Veroniccha masih berkutat dengan baju-baju miliknya, Davino dan Dio yang tengah ia susun dalam koper. Ia kembali menggerutu saat mendengar gelak tawa Davino dan Dio di bawah sana sedangkan ia sibuk mengurusi perlengkapan mereka.
Veroniccha tak bisa dibuat seperti ini. Dengan langkah pasti ia keluar kamar dan mendongakkan kepalanya kebawah.
"Bisakah kalian berdua membantuku?" teriaknya yang membuat kedua lelaki itu menghentikan aktifitasnya.
Dengan malas Davino dan Dio menaiki tangga untuk membantu Veroniccha.
"Berapa hari kita di sana?"
"Tiga."
"Baiklah sekarang bantu aku memuat pakaian ini kedalam koper." Veroniccha kembali memasukkan pakainnya kedalam koper dan berhenti saat melihat Davino memasukkan pakaiannya ke dalam koper kecil yang masih kosong.
"Hey, koper itu tidak untuk pakaian! Semua pakaian akan dimuat ke dalam koper yang besar ini dan koper itu hanya untuk makanan ringan." Veroniccha menunjuk koper besar yang di dalamnya sudah tersusun beberapa pakaian.
"Kau bercanda? Itu tidak akan muat untuk kita bertiga! Belum lagi jika nanti Dio mengompol."
Dio segera menatap sengit pada Davino. "Aku tidak mengompol, papa. Usiaku sudah 4 tahun." Dio menunjukkan 4 jarinya pada Davino.
"Kau tenang saja. Aku sudah biasa berpergian. Serahkan semua pada mama." Veroniccha berucap bangga.
Davino dan Dio bangkit dari duduknya dan segera melangkah keluar.
"Kalian ingin kemana?" kata Veroniccha yang menghentikan langkah kedua lelaki itu.
"Mama bilang serahkan pada mama," jawab keduanya kompak.