Stay

Stay
Episode 30



Ada beberapa alasan untuk seseorang pergi dari hidup bahagianya. Salah satunya adalah, ia takut. Takut kebahagiaan itu tiba-tiba saja lenyap. Tiba-tiba saja tergantikan oleh hal buruk yang selalu saja terbayang.


Seperti kala Rania waktu itu. Ia bahagia, memiliki Tio dan Veroniccha juga anak dalam kandungannya. Meski tak begitu sempurna karena seorang yang ia panggil Mama di rumah itu begitu membencinya. Selalu mengingatkan akan kebahagian yang akan berakhir sesaat lagi.


Rania tak siap. Ia begitu putus asa ketika peluru mengejarnya. Lalu ia memilih berbelok dan menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam jurang. Memilih menghilang dari elemen elemen kebahagian yang dia miliki.


Menyesal?


Penyesalan begitu membelenggunya. Terlebih saat orang yang ia sayangi tak juga bahagia. Namun ketimbang menyesal ia lebih pada takut. Takut akan segalanya yang belum tentu ia lihat kebenarannya. Juga pada rahasia mertuanya yang tak pernah terbuka sampai saat ini. Sampai jasad sudah terkubur tanah.


"Temui dia, Rania. Dia begitu merindukanmu." Tio masih menggenggam tangan wanita itu erat.


"Aku tak bisa, maaf." Sekuat tenaga Rania menarik tangannya dari genggaman hangat yang begitu ia rindukan. Setelah itu, ia memilih pergi dan menangis di kamarnya.


Kini Rania semakin yakin bahwa dirinya memanglah pembawa sial bagi semua orang. Juga pertemuannya dengan Tio lah awal kesialan itu dimulai.


Seharusnya ia tak usah mengiyakan keinginan laki-laki itu saat tahu bahwa orang tuanya dan juga orang tua Tio tak setuju dengan hubungan mereka. Lalu dengan kenekatan dan hal yang ia sebut cinta, ia berani melangkah. Mengabaikan semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


Seperti sekarang, semua kemungkinan itu telah terjadi dan ia begitu menyesal pernah mengabaikan ucapan semua orang.


***


"Vino masih belum menghubungi?" tanya Nina saat menatap Veroniccha yang terdiam di depan tv.


Gelengan kepala juga wajah sendu wanita hamil itu sudah menjadi jawabannya.


"Tiga bulan aku akan melahirkan dan dia belum datang. Vino benar-benar tidak mencintaiku, Nin," katanya.


Nina menghembuskan napasnya kasar dan menatap sedih pada Veroniccha. Sampai saat ini ia masih belum  tau apa alasan Vino terus mengatakan 'segera'  saat Nina memaksa laki-laki itu untuk menghubungi istrinya.


"Mungkin kau memang Harus yang memulai lebih dulu, Ccha."


"Tidak akan!" Veroniccha bangkit dari duduknya kemudian masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu.


Setelah itu ia menangis sembari memerhatikan layar ponselnya. Di sana ada wajahnya juga Vino yang sedang menciumnya dengan binar bahagia.


Setelah menangis, ia mengambil sebuah ponsel di dalam lacinya dan melirik pintu memastikan bahwa itu sudah terkunci.


Sekarang ponsel Nina di tangannya dan ia bersiap untuk menghubungi Vino. Setidaknya ia dapat mendengar suara laki-laki itu hari ini. Begitu juga dengan hari-hari kemarin.


Sebenarnya Nina tahu perihal Veroniccha yang suka menyembunyikan ponselnya dan diam-diam menghubungi Vino. Ia bahkan sengaja meletakkan ponselnya di atas sofa agar Veroniccha mudah menjangkaunya.


Pada dering ketiga Vino menjawab panggilan itu.


"Halo, Ada apa, Nin?" sapa Vino langsung. Tanpa sadar Veroniccha meneteskan air matanya. Beginilah yang biasa terjadi setiap ia menghubungi Vino.


"Kau merindukan ku? Ya, aku juga. Bagaimana kabar mereka? Mereka baik-baik saja bukan?"


Itu hanyalah ucapan yang Vino ucapkan dalam hatinya.


Vino tahu, Veroniccha lah yang sedang menghubunginya saat ini. Bahkan suara menahan tangis wanita itu pun Vino tahu.


Sudah lebih 30 menit dan mereka hanya terdiam seperti itu. Dengan isak tangis Veroniccha yang kini tak bisa tertahan.


"Aku merindukanmu. Aku mencintaimu juga anak-anak kita.  Jaga kesehatan dan kandunganmu, Ve." Vino memutuskan  panggilannya setelah kalimat itu terlontarkan begitu saja. Ia tak bisa menahan untuk tidak mengatakan itu. Kalimat yang sangat ingin ia katakan sejak lama.


Veroniccha menangis terisak setelah mendengar suara Vino yang ternyata mengenalinya. Astaga, kalimat itu, kalimat yang begitu ingin ia dengar sejak lama.


Juga, Vino ternyata mengetahui perihal kandungannya. Bahkan ia tahu bahwa anak mereka ada dua di dalam rahimnya.


***


"Masih belum mau menemuinya?" Vino menghapus air matanya saat Farel datang tiba-tiba.


"Aku masih memerlukan waktu untuk meyakinkan mertuaku," jawabnya.


"Tapi istrimu sedang hamil, Dav. Kau sangat egois jika seperti ini." Vino hanya terdiam dan kembali menyibukkan dirinya dengan kertas-kertas.


Inilah yang Farel tak sukai dari sahabatnya ini. Karena Vino suka yang sempurna dan terencana. Jadi ketika ia membuat rencana, ia mau itu sempurna. Dari atas hingga bawah.


"Setidaknya aku berharap kau akan mendampinginya ketika ia melahirkan. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu." Farel keluar dengan napas pasrah saat mengatakan itu.


Vino menjatuhkan kepalanya di meja kemudian mulai menangis kembali. Ia benar-benar rindu dengan istrinya. Namun, ia harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu baru bisa meraih kebahagiaan nya kembali.


***


"Aku mohon padamu." Gladis masih menundukkan kepalanya di depan Vino. Ia benar-benar memohon agar Vino mau menemui Veroniccha kali ini. Demi Tuhan, kakaknya itu sudah begitu kesakitan di usia kandungannya yang ke-8.


Vino tak menjawab apapun dan keluar dari ruangannya begitu saja. Sama seperti Veroniccha alami. Ia pun  begitu kesakitan di sini. Namun ketakutan kembali melarangnya  untuk datang.


Namun kali ini, ia tak memikirkan hal lain selain wajah Veroniccha yang semakin pucat saat dua minggu lalu ia kembali ke Swiss dan memerhatikan Veroniccha dari jauh. Wanita semakin kurus dan pucat.  Itu semua adalah kesalahannya.


***


"Aku ingin Vino! Aku ingin Vino sekarang!" Veroniccha kembali menjerit saat perutnya kembali nyeri. Ini belum masuk bulan ke-9 dan Veroniccha sudah di rawat inap di rumah sakit.


"Percaya padaku, Vino akan datang sebentar lagi. Kau istirahat dulu, Ccha. Kau harus tidur. Sudah seharian kau belum tidur dan hanya menangis." Nina kembali mengelus perut Veroniccha untuk meredakan sakitnya yang sebenarnya tidak berpengaruh apapun.


"Tidur lah." Nina keluar saat melihat Veroniccha memejamkan matanya.


Pintu kembali terbuka dan Vino melangkah mendekat pada Veroniccha yang sedang terlelap. Kemudian ia mendekap tubuh itu dengan erat seiring dengan air matanya yang kian jatuh dengan deras.


.


.


.


.