Stay

Stay
Episode 29



Veroniccha terbangun dari tidurnya saat mendengar tawa dari luar kamarnya. Apa Dennis kedatangan tamu?


Dengan perlahan agar tak menyakiti kandungannya, Veroniccha berjalan keluar kamar dan seketika memekik saat menemukan Nina dan Dennis yang tengah bercengkrama di ruang tv.


"Nina! Astaga! Aku merindukan mu!" jerit Veroniccha segera berlari lalu menubruk Nina memeluknya erat.


"Astaga, Ccha! Kandunganmu!" pekik Dennis Panik.


Veroniccha melepaskan pelukannya dan segera memasang tampang paniknya juga.


"Astaga aku lupa. Aduh, bagaimana ini? Nak, kau baik-baik saja di sana bukan?" Veroniccha segera duduk di samping Nina dan mengusap perutnya lembut.


"Kau tidak bisa ceroboh seperti itu lagi, Ccha. Ada nyawa lain yang harus kau jaga," kata Nina ikut menatap perut Veroniccha.


"Iya, Nin. Aku terlalu senang karena melihatmu. Bagaimana kabar Vino?"


"Harusnya kau bertanya kabar Nina dulu," decak Dennis dan Veroniccha hanya terkekeh.


"Aku tidak tahu. Karena semenjak kau pergi aku berada di rumah ibuku karena beliau sedang sakit. Tapi kau tenang saja, aku sudah meminta Darrel agar menjaganya."


"Kau masih menghubungi Darrel?!" pekik Dennis tertahan.


"Ayok, Ccha. Lebih baik kita ke kamarmu." Nina mengabaikan Dennis dan segera membawa Veroniccha pergi. "Adikmu benar-benar membuat kesal."


"Hey! Nina! Aku bertanya padamu!" ujar Dennis tak percaya melihat Nina meninggalkannya begitu saja.


***


"Aku ingin bertemu Vino. Aku merindukannya! Nina! Aku merindukannya." Veroniccha kembali meraung dan menangis dalam pelukan Nina.


"Pulang lah, Ccha. Kau hanya menyakiti dirimu jika seperti ini."


"Tapi dia tak mengkhawatirkan ku, Nin. Dia tak pernah menghubungi. Sudah 4 bulan aku berpisah tapi dia tak pernah menghubungi ku. Dia tak mencintaiku lagi, Nin."


"Dav sangat mencintaimu, Ccha. Percaya padaku. Ia begitu hancur saat ku temui kemarin. Namun aku mengenal Dav. Ia berpikir kau telah bahagia dan tak ingin mengganggu kebahagianmu lagi. Jadi kau harus mengalah, Ccha. Kembali lah."


Veroniccha hanya dapat menangis kembali. Ia begitu merindukan suaminya. Namun entah mengapa egonya terlalu besar untuk datang lebih dulu pada Vino. Padahal jika Vino hanya menghubinginya saja, ia sudah berjanji akan kembali pada Vino. Namun ini, nihil! Vino tak pernah menghubinginya padahal usia kandungannya sudah 5 bulan.


Veroniccha ingin ketika melahirkan ditemani oleh Vino seperti perempuan lainnya. Apalagi saat ia periksa kandungan. Ia begitu iri dengan perempuan lain yang perutnya diusap lembut oleh suaminya. Sedangkan ia hanya datang di temani Dennis yang asik berchating dengan Nina.


***


Vino kembali melamun di halaman belakang. Ia tahu, ia adalah laki-laki pengecut di dunia ini yang tak berani membawa kembali wanitanya. Namun ia akan merasa sangat egois jika muncul dihadpan Veroniccha kembali setelah apa yang ia lakukan.


Namun, ia masih memiliki harapan agar bersama dengan Veroniccha. Ya, kini ia tengah menjemput harapannya dan jika berhasil akan memperjuangkan wanitanya kembali.


"Kau bisa menemuinya sekarang, Dav. Semoga semua berjalan lancar." Farel menepuk punggung Vino kemudian tersenyum ikhlas.


Ia benar-benar selalu berdoa untuk kebahagian sahabatnya itu.


"Terima kasih banyak, Rel," balas Vino.


Kini Vino sedikit memiliki harapan agar ia bisa kembali bersama Veroniccha. Sebenarnya bisa saja ia langsung membawa Veroniccha kembali bersamanya. Namun Vino yakin ia akan selalu dirundung rasa bersalah dan hubungan mereka akan terasa dingin.


Jadi lebih baik ia membenahi semua masalah ini terlebih dahulu baru kembali meraih hidupnya. Veroniccha.


***


Vino dengan langkah mantap mendatangi seorang wanita yang sedang duduk membelakanginya dengan yang sedang membelai kucing peliharaannya.


"Boleh saya duduk?" ijinnya kemudian.


Wanita itu hanya tersenyum sekilas memepersilahkan kemudian menatap Vino intens.


"Kau tampan. Cocok dengan putriku," kata wanita itu.


Wanita itu terdiam kemudian tersenyum. Ingatannya langsung beralih pada keponakannya yang menyebalkan. Huh, ia merindukan keponakannya itu.


"Ya, lagipula putriku sudah meninggal," Vino masih tenang di sampingnya meski tak mengerti ucapan wanita itu. "Adikku tidak di sini."


Vino masih diam menatap wanita di sampingnya yang kini sibuk kembali pada kucingnya.


"Tolong beritahu aku di mana keberadaan mertuaku, nyonya," mohon Vino pada perempuan itu.


"Mungkin sudah saatnya adikku keluar dari tempat persembunyiannya." wanita itu mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. "Temuilah dia. Paksa untuk keluar dari tempatnya."


Vino tersenyum menatap alamat yang tertulis pada lembar kertas itu. "Terima kasih, nyonya."


"Panggil aku bibi."


"Terimakasih banyak, bi."


***


Vino menatap sendu Veroniccha yang tengah mengusap perutnya di taman. Ingin rasanya ia berlari dan segera memeluk erat wanitanya itu. Namun ini belum saatnya. Sebentar lagi.


Ternyata dugaannya benar selama ini. Mertuanya ada di satu negara dengan istrinya dan kini sedang menatap Veroniccha dari jauh. Sama sepertinya.


Lalu kemudian Vino mengikuti langkah Mertuanya yang tengah meninggalkan tempat duduknya.


Kemudian langkahnya terhenti saat melihat ayah Mertuanya tengah memeluk ibu Mertuanya.


"Rania! Seharusnya aku tau kau di sini." Vino gagal melanjutkan langkahnya dan hanya mengamati mereka berdua dari jauh.


***


Tio masih memeluk Rania seerat yang ia bisa. Seharusnya ia sudah menduga bahwa keberadaan istrinya takkan jauh dari keberadaan putrinya.


"Mengapa kau meninggalkan kami?" tanya Tio setelah melepaskan pelukannya.


Rania tak menjawab. Ia hanya bisa menangis dan kembali memeluk Tio.


Ini seperti mimpi karena ia bisa memeluk laki-laki yang begitu di cintainya lagi. Ia memang bodoh karna sudah menjadi pengecut dan meninggalkan keluarganya. NamunĀ  ia juga sudah berjanji pada wanita yang melahirkan pria yang dicintainya itu agar melepaskannya.


***


"Apa kau pikir kami bahagia? Kami menderita Rania. Tidak satupun dari kami yang bahagia. Aku, Anak-anak kita, dan Mariska bahkan menderita Rania!" ujar Tio mengeluarkan apa yang dirasakannya selama ini.


"Aku.. Aku tidak bisa tenang jika melihat Mariska seperti itu karena ku, Tio. Juga ibumu yang selalu membenciku," kata Rania sesenggukan.


"Kita hanya perlu meyakinkan Mariska bahwa ia takkan sendiri. Dengan begitu ia akan kembali menemukan kebahagiaannya, Rania. Dan ibuku, kau sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku karena masalah itu!"


"Maafkan aku, Tio."


"Kau tahu? Veroniccha begitu menderita hingga saat ini. Ia meninggalkan suaminya saat tahu bahwa suaminya lah awal dari semua ini."


Rania kembali menangis pilu. Seperti yang ibunya Tio katakan. Rania hanyalah pembawa sial bagi semua orang.


"Ini semua salahku."


.


.


.


.