
"Kau sedang apa?" Veroniccha tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan melingkari perutnya dengan sempurna dari belakang. Tanpa menolehpun ia tahu, lengan siapa yang sedang melingkari perutnya ini.
"Memasak," jawabnya.
Vino kini menyandarkan kepalanya pada punggung Veroniccha dan memejamkan matanya. Ia sangat senang melakukan hal ini. Menempel pada Veroniccha memang dapat membuat suasana hatinya tenang.
Sejak dua hari yang lalu Vino gelisah. Apalagi hari ini. Ia sangat sangat gelisah. Besok adalah hari dimana Mamanya berjanji akan memberi tahu semuanya pada Vino. Karena itu suasana hatinya menjadi tak karuan. Hanya menempel pada Veroniccha lah ia jadi sedikit tenang.
"Kau sudah sembuh, tapi mengapa semakin kelewat manja seperti ini?" Veroniccha menarik lengan Vino dari perutnya setelah mematikan kompor. Setelah itu ia membalikkan badannya dan menatap Vino.
"Ada sesuatu yang mengganggumu?" Veroniccha meletakan jemarinya pada pipi Vino dan mengusapnya lembut.
Vino menghela napasnya berat. Diraihnya jemari Veroniccha, dan dikecupnya lembut. Lalu ia menarik Veroniccha dalam dekapannya.
"Aku ingin berdua denganmu." Veroniccha terkekeh dalam dekapan Vino. Lucu sekali suaminya ini. Sikap manjanya terkadang membuat Veroniccha gemas sekaligus kesal.
***
"Ve?"
"Hm.."
Vino terdiam. Masih asik memainkan rambut Veroniccha yang berada di dadanya. Setelah mereka menyelesaikan makan siang, Vino menggiring Veroniccha memasuki kamar. Dan disinilah mereka. Dengan Veroniccha yang menyenderkan kepalanya pada dada bidang Vino sembari membaca majalah, dan Vino memainkan rambutnya.
"Ve?"
"Hm.."
Vino kembali terdiam yang membuat Veroniccha gemas sendiri. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang dirisaukan Vino. Tapi laki-laki bermata coklat itu tak mau membagi masalahnya.
Dengan gemas, Veroniccha menutup majalahnya dan menegakkan duduknya kemudian menatap Vino gemas.
"Ada apa, sayang?" Vino tersenyum saat Veroniccha memanggilnya 'sayang'. Mendadak hatinya berbunga. Euforia menghantam jiwanya. Tadi, ia seperti berjalan di padang pasir. Kehausan dan tak menemukan mata air. Namun hanya karena 'sayang' yang diucapkan Veroniccha, hujan tiba-tiba saja turun. Mengguyur tubuhnya hingga kuyup. Lalu dingin menyentaknya.
Hah! Vino butuh kehangatan saat ini.
"Kau ingin punya anak berapa?" jiwanya benar-benar dingin dan butuh kehangatan.
Veroniccha menaikkan alisnya. Kemudian jantungnya berdetak kencang saat dilihatnya tatapan Vino menggelap. Apa yang salah dengan kalimatnya tadi? Mengapa Vino jadi terlihat lapar sekarang?
Bagi Vino itu salah! 'Sayang'nya Veroniccha terdengar memanja di telinganya. Apalagi saat mata Vino menetap pada bibir pink itu. Benda kenyal itu terlihat melambai meminta kecupan.
"Aku ingin punya anak banyak!" kata Vino lagi semakin menekatkan wajahnya.
Cup.
Satu kecupan manis semanis gula. Vino merasakan panas sekarang. Berbeda dengan Veroniccha yang sibuk mendengarkan detak jantungnya.
"Kau ingin membuatnya sekarang?" wajah Veroniccha semakin memanas. Seiring dengan wajah Vino yang kian mendekat.
***
"Kau yakin ingin mengetahuinya, nak?" Vino mengangguk mantap. Ia yakin, dan sangat yakin.
"Mungkin ini akan merubah sikapmu nanti. Itu yang mama khawatirkan. Mama lihat kau sudah berbahagia dengan Veroniccha. Apa tidak sebaiknya masa lalu dilupakan saja?"
"Tidak, Ma. Aku ingin semuanya jelas. Mungkin Veroniccha terlihat bahagia saat ini. Namun aku tahu, ia menyimpan kepedihannya rapat. Seolah telah hilang begitu saja." Yulia menghembuskan napasnya pelan. Kembali mengingat kenangan dulu yang benar-benar menyakitkan.
Lalu setelah dewasa, kami menikah. Mama telah memilikimu dan Mario, Rania memiliki Veroniccha dan sedang mengandung anak kembarnya.. Mariska sedang hamil. Suaminya meninggal. Hanya calon anaknyalah yang dimiliki Mariska saat itu.
Tapi karena kejadian itu, Mariska keguguran. Membuat Rania dengan bodohnya menyerahkan suaminya pada perempuan itu."
Vino teridam. Mencoba mengerti semuanya. Kejadian yang benar-benar awal dari masalah penderitaan orang yang sangat disayanginya saat ini.
"Kejadian apa, Ma?"
"Saat itu, kami sedang belanja bersama. Lalu saat di parkiran dan akan pulanh, kau dan Veroniccha berlarian tanpa pengawasan kami karena Mariska merasakan sakit pada perutnya. Kemudian Veroniccha berteriak. Kau disandra orang gila. Mama dan Rania panik. Kami berlari mencoba menolongmu. Mama sangat panik dan mengabaikan segalanya saat orang gila itu menusuk lenganmu dengan pisau.
Tapi saat berlari, Rania tanpa sengaja mendorong troli dan troli itu mengenai batu dan terjatuh tepat di perut Mariska.
Setelah Mariska keguguran, Rania benar-benar gila merasakan rasa bersalah. Mariska menyalahkan Rania. Karena hanya calon anaknya lah yang Mariska miliki.
Setiap hari, Rania meminta maaf pada Mariska. Namun tak ada jawaban. Lalu Mariska mengajukan satu persyaratan yang langsung disetujui begitu saja oleh Rania. Mariska ingin Tio menikahinya juga.
Semua tidak hanya sampai di situ. Mamanya Tio yang memang tidak suka dengan Rania benar-benar menambah penderitaannya. Rania diusir begitu saja saat Tio sedang merawat Mariska.
Akhirnya, Mariska tinggal bersama kita. Lalu kejadian sekali lagi yang membuat semuanya seperti ini.
Saat itu, Rania menyelamatkanmu yang hampir tertabrak truk. Tapi, kalian berdua malah tertabrak mobil yang membuat kalian berdua koma. Sykurnya, Rania dapat melahirkan anak kembarnya. Saat itu dia tak tahu jika anaknya kembar. Hanya Gladis yang terlahir sehat. Sedangkan Dennis harus melalui beberapa pengobatan dan harus tinggal dirumah sakit lebih lama.
Saat Gladis diperbolehkan pulang, kau sadar dan mengalami amnesia. Tapi tidak dengan Rania yang masih dalam komanya.
Tio dan Gladis kembali kerumah dengan Mariska. Saat Tio sedang sibuk dengan Veroniccha yang memberontak, Rania sadar dari komanya dan menghilang begitu saja dengan Dennis. Kami semua mecarinya. Namun tidak ada hasil.
Lima tahun kemudian, ibu Rania menghubungi Tio bahwa Dennis berada degannya. Tapi tidak dengan Rania. Ibunya tidak menjelaskan apapun. Sampai saat ini, kita tidak ada yang mengetahui di mana Rania berada."
***
Vino meluruh di tempatnya. Jika seperti ini kenyataannya, sungguh, ia menyesali sudah mencari tahu. Lalu sekarang apa yang akan terjadi?
Veroniccha pasti membencimu, Davino!
Vino meringis sendiri membayangkan itu. Ia tak mau menjadi seperti ini. Ia mau hidup bersama selama-lamanya dengan Veroniccha.
***
"Ve, tetaplah bersamaku apapun yang terjadi. Aku mencintaimu." Vino menggenggam tangan Veroniccha erat dan langsung memeluknya. Menenggelamkan wajahnya pada leher Veroniccha.
Veroniccha menaikan alisnya bingung. Semalaman ia khawatir karena Vino tak pulang dan tak ada kabar. Lalu tiba-tiba datang pagi buta seperti ini dan langsung memeluknya yang baru membuka mata.
Veroniccha tahu, Vino mengalami sesuatu yang berat. Tapi Veroniccha takkan memaksanya memberi tahu. Ia akan menunggu sampai waktunya Vino yang mengtakan kepadanya.
"Aku juga," Veroniccha membalas dekapan itu tak kalah eratnya.
.
.
.
.