Stay

Stay
Episode 17



Davino menekuk wajahnya. Ia masih kesal perihal Veroniccha yang mengijinkan kekasihnya, ralat, MANTAN KEKASIH nya menginap di rumahnya. Sia-sia saja usahanya yang memaksa Mario membawa pulang Dio hari ini.


Misi hari ke-6 nya hancur sudah. Seharusnya malam ini mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Antara seorang laki-laki dan perempuan, berada dalam satu ruang, saling mencintai, berpandangan di atas ranjang, lalu wajah mereka saling mendekat dan....


Akh!  Davino kesal membayangkan malam yang indahnya bersama Veroniccha!


Mengapa ada saja penghalangnya! Padahal ia sudah menjamin malam ini akan berhasil dan tak lama Veroniccha akan mengalami fase mual di pagi hari, kemudian mereka pergi ke dokter, membawa kabar bahagia bagi seluruh keluarga, lalu ia akan menjadi suami siaga yang akan memenuhi keinginan istrinya yang disebut fase mengidam, lalu ia menyaksikan betapa seksinya Veroniccha dengan perut yang kian membuncit, lalu muncullah Davino junior ke dalam hidup mereka.


Tapi, jika laki-laki dengan kelakuan tengil itu muncul, yang katanya adalah kekasih istrinya, kapan ia akan mewujudkan impiannya itu?


Apakah ini balasan karena ia sudah mengacuhkan dan menduakan Veroniccha saat awal pernikahan mereka?


Tapi mengapa balasannya menyebalkan sekali?!


"Vino..." suara istrinya mengalun indah memasuki gendang telinganya, menghancurkan fantasi kekecewaannya dengan malam ini.


Davino hanya melirik Veroniccha sekilas dan kembali memasang wajah merajuknya.


"Mengapa kau biarkan ia tidur di kamarmu?" Davino dengan segala kekesalannya menatap Veroniccha tajam.


Veroniccha mengambil duduk di samping Davino dan menautkan kedua tangannya di atas pangkuan.


"Hanya ada dua kamar yang layak pakai di rumah ini. Aku tidak mungkin menyuruhnya tidur di kamarmu bukan?"


"Sudahlah aku mengantuk!" Davino beranjak menaiki ranjang dan menari selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.


Veroniccha ikut beranjak dan bergabung dalam selimut itu. Hanya gelap yang ia dapat saat mencoba menatap wajah murung Davino.


Lama mereka seperti itu sampai Veroniccha menurunkan selimutnya hingga sebatas dada. Ia tak tahan!


"Vino! Jangan marah.." Veroniccha merengek dan mencoba menurunkan selimut yang membalut seluruh tubuh hingga kepala suaminya.


Davino menurunkan selimutnya dan menyipit menatap Veroniccha. Sebenarnya ia tak tega melihat wajah bersalah istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar kesal malam ini. Malam romantis yang sudah ia siapkan hancur seketika.


Mereka hanya saling bertatapan dengan Veroniccha dengan wajah bersalahnya dan Davino wajah kesal menyebalkannya.


"Kau bilang kau takkan menduakanku? Omonganmu tak bisa dipercaya. Apa kau ingin balas dendam karena aku menduakanmu waktu itu?!" ujar Davino berapi.


"Bukan seperti itu! Aku benar-benar tidak menduakanmu. Sebenarnya-"


"Sudahlah. Aku tahu kau yang menduakannya, kan? Kali ini aku akan mengabaikannya. Aku anggap ini sebagai hukumanku karena aku menolakmu waktu itu. Tapi besok kau harus memutuskan hubunganmu dengannya dan suruh ia pergi dan jangan menganggu kita lagi."


"Tapi Vin-" Davino mengabaikan ucapan Veroniccha dan menariknya kedalam pelukannya.


Veroniccha menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Tempat ternyaman yang pernah ia miliki. Setelah pelukan ibunya.


"Tidurlah! Aku tak marah padamu asal kau mengakhirinya besok."


Veroniccha terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya. Ia menghirup aroma mints Davino dalam-dalam. Aroma menyegarkan yang sangat ia sukai. Membuatnya selalu betah menyandar pada suaminya.


***


"Wow! Nasi goreng!" Dennis berseru dan mengambil duduk di meja makan. Dengan semangat dan mengabaikan tatapan sinis Davino ia segera menuangkan nasi goreng kedalam piringnya.


"Ini belum jam 8," ujarnya di sela kunyahan nasi gorengnya.


Mereka makan dalam diam dengan pandangan sinis Davino yang tak lepas dari Dennis.


"Akh! Kenyang sekali! Masakanmu memang yang terbaik!" Dennis mengusap perutnya kemudian mengacungkan jempolnya pada Veroniccha.


"Habis ini, cepat bersiap, kau bilang ingin ke kantorku bukan?" tanya Davino dan Veroniccha hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Aku juga ikut!" ujar Dennis yang sudah menghabiskan makanannya.


"Aku tidak mengajakmu. Sehabis ini kau rapihkan barang-barangmu dan pergi dari rumah ini. Hubunganmu dan Veroniccha sudah berakhir!"


Dennis tertawa mengejek, "aku tidak akan mengakhiri hubunganku jika kau tak mengijinkanku ikut."


"Cih!  Kekanakan."


**


"Kantormu besar juga. Apa ada lowongan kerja di sini?  Sepertinya tak buruk kerja di sini." Dennis duduk di sofa dalam ruangan Davino dengan kaki kanan diletakan pada kaki kiri dan kedua tangannya menyilang di depan dada lalu mulai berbicara menyebalkan menurut Davino.


Davino hanya berdecih jengkel menatap tingkah tengilnya. "Kalaupun ada aku tidak akan mengijinkanmu berkeja di kantorku."


Mereka kembali berdiam dengan Davino yang memeriksa tumpukan berkas-berkasnya dan Veroniccha memainkan ponselnya serta Dennis yang sudah berdiri di depan jendela dan mengamati Jakarta dari sana.


Lama seperti itu sampai ketiga orang tersebut melihat ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan sepasang manusia yang hendak masuk.


"Kau sudah datang?" Davino bangkit dari kursi kerjanya dan ikut duduk di kepala sofa. "Duduklah!"


"Nina!" Veroniccha berseru saat Nina ikut duduk di sampingnya.


"Kenapa kalian datang bersama?" tanya Davino.


"Tadi kami bertemu di lobi."


"Darel?" Dennis berjalan dari tempat berdirinya dan menghampiri seseorang yang kini juga ikut bangkit dari kursinya.


"Dennis? Kau di Indonesia? Dan sedang apa di sini?" tanya Darel dengan wajah bingungnya.


"Menemani kekasih," jawabnya santai tanpa memperdulikan tatapan jengkel Davino.


Darel kembali duduk dan tertawa keras pada tempatnya. Ia menatap Veroniccha dan jelas mengetahui bahwa Veroniccha adalah istri Davino dan dia, "kau masih mengakui kakakmu adalah kekasihmu? Mengapa kau masih menyedihkan sampai sekarang?"


Dua orang di sana terkejut mendengarnya. Veroniccha hanya menghembuskan napasnya dan Dennis tersenyum bodoh. Ia lupa bahwa Darel adalah orang dekatnya dan mengetahui hampir seluruh rahasia hidupnya. Termasuk perempuan yang sedang menunduk saat ini.


"Jadi dia adalah adikmu?!" Davino berjengit di tempatnya.


.


.


.


.