Stay

Stay
Episode 25



Banyak hal yang menyenangkan untuk dilakukan saat malam menyapa. Seperti menatap gumparan bintang misalnya. Ada sensasi yang berbeda saat kita membayangkan banyak rasi yang tercipta di sana. Lalu lebih terasa indah saat ada seseorang yang berada di sisi kita.


Seperti Veroniccha yang tak memudarkan senyumnya sejak tadi. Bahkan sampai sekarang ketika waktu menunjukkan tengah malam. Tidak ada rasa berbeda dan asing saat Vino tengah memeluknya seperti sekarang. Ia merasa nyaman, aman dan terlindungi.


Vinopun demikian. Kendati hanya memikirkan bagaimana nanti perubahan yang akan ia alami ketika Veroniccha mengetahui segalanya, lebih baik ia menikmati waktu yang masih tersedia bersama istrinya. Lupakan esok dan esok yang belum tentu kebenarannya.


"Kau bahagia?" tanya Vino yang masih asik membelai surai pelangi milik Veroniccha.


"Hm.. Sangat. Terimakasih untuk terus berada di sisiku, Vin." Veroniccha tersenyum dibalik dada Vino.


Mereka hanya perlu menikmati waktu saat ini. Melupakan segala masalah yang terjadi maupun yang akan terjadi nanti.


***


Vino sibuk mengumpat dan mengutuk seseorang yang sudah mengganggu tidurnya.


Demi apapun ini masih pagi buta dan seseorang menyebalkan itu sudah menerornya sejak tadi.


"Angkat dulu, Vin, mungkin itu penting," gumam Veroniccha dengan matanya yang masih terpejam.


Dengan kesal, Vino bangkit dari tidurnya dan meraih ponsel di atas nakas kemudian menjawab panggilan itu.


Wajah Vino semakin menekuk setelah menerima panggilan yang ternyata dari Fiya. Panggilan yang membawa berita buruk perihal Vino yang harus berangkat ke Bali pegi ini.


"Ve, aku harus berangkat ke Bali pagi ini dan akan kembali dua minggu kemudian. Bagaimana ini? Pasti akan sangat  buruk seminggu tanpamu." Vino mengusap kesal rambutnya saat tengah menyender pada bahu ranjang.


"Ckk.. Kekanakan sekali. Seminggu tidaklah lama, Vin. Lebih baik kau bersiap agar aku menyiapkan pakaian mu sekarang." Veroniccha beranjak dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.


Sebenarnya ia juga enggan ditinggal Vino selama seminggu. Selama ini, Vino jarang sekali pergi keluar kota dalam waktu yang lama seperti sekarang. Tapi apalah daya menolak karna ribuan nasib para karyawan bergantung pada suaminya.


Vino terpaku di tempatnya. Ia merasa tak tenang meninggalkan Veroniccha kali ini. Entahlah, perasaannya benar-benar tak tenang. Mungkin karena ia tak pernah berpisah lama dengan Veroniccha sebelumnya.


***


"Sudah, sana, berangkat! Fiya sudah menunggumu sejak tadi. Jangan lupa jaga kesehatan dan hubungi aku selalu." Veroniccha menepuk bahu Vino ketika usai memakaikan dasi suaminya.


Wajah Vino murung sejak tadi. Ia benar-benar tak ingin pergi sekarang. Tapi walaupun ia sudah berusaha agar Veroniccha mencegahnya pergi, istrinya itu tetap memaksa Vino berangkat.


"Yasudah, aku brangkat. Jaga dirimu dan jangan genit pada laki-laki lain." Veroniccha terkekeh geli dan mengecup bibir Vino sekilas.


Setelahnya hanya kesunyian yang menemaninya saat Vino benar-benar pergi. Seperti saat Vino sedang bekerja, yang Veroniccha lakukan adalah berbenah rumah dan memasak. Bedanya, hari ini ia malas memasak karena hanya seorang diri.


Tadi Vino memaksa Veroniccha agar mengajak Nina menginap di rumah. Tapi Veroniccha tidak mau mengganggu Nina yang sedang menyendiri di kampung halamannya. Ini semua karna Dennis yang begitu Kekanakan. Rasakan saja sekarang ia hanya berdiam di rumah Papanya dan tak berani menemui Veroniccha.


Jadi apa yang akan ia lakukan sekarang?  Menonton tv sepertinya bukan ide yang buruk.


***


Lama Veroniccha berada di ruang tv, hingga tak sadar waktu telah beranjak jauh dan matahari tampak terik sempurna. Lebih baik tidur siang.


Veroniccha bangkit dan melangkah menuju kamarnya sebelum membatalkan niatnya itu saat mendengar bel rumahnya berbunyi.


Disinilah ia, melihat Gladis dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


"Ada apa?" Veroniccha bertanya khawatir.


"Ma-mama meninggal, Ve." Veroniccha menutup mulutnya dengan tangannya. Cukup terkejut saat Gladis mengatakannya. Namun cukup merasa aneh juga saat Gladis datang menemuinya.


"A-aku tak sanggup menemuinya. I-ni semua sa-lahku," ujar Gladis sesunggukan.


***


Veroniccha berjalan ragu memasuki rumah yang sudah ramai dipenuhi para penyelayat. Sebenarnya ia tak ingin datang kesini. Namun ia tak tega dengan Gladis yang terus menangis tak ingin melihat Mariska padahal Veroniccha tahu, Gladis sangat ingin menemuinya.


Sejahat apapun perempuan itu pada keluarganya, perempuan itulah yang merawat Gladis sedari kecil dengan kasih sayangnya yang tulus.


"Masuklah. Kau harus menemuinya sebelum ia berada di tempat terakhir peristirahatannya." Gladis melalui pintu itu dengan langkah beratnya. Dan air matanya tumpah begitu saja saat melihat Mariska berbaring kaku di sana.


***


"Tapi mengapa?" tanyanya.


"Tante Mariska tertekan dengan sikap Gladis yang memusuhinya. Juga sikap Papa yang tidak pernah lagi berbicara semenjak Gladis memaksanya berbicara." Veroniccha terdiam. Juga merasa bersalah karena ternyata ada campur tangannya atas kematian Mariska.


Tapi, egonya menang. Mariska pantas mendapatkannya atas kelakuannya selama ini.


"Ve, kuharap setelah semua rahasia ini terkuak, kau tetaplah bahagia." Dennis memejamkan matanya. Ia tahu, setelah ini, akan banyak perubahan pada kakaknya. Apalagi menyangkut masalah sensitif yang menjadi penyebab kesedihan banyak orang.


Karna satu orang.


***


Ini sudah hari ketiga sejak kematian Mariska dan Gladis masih mengurung dirinya di kamar. Gadis itu benar-benar merasa sedih dan kehilangan. Ia memang tak pernah bertemu ibu kandungnya karna perempuan itu. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia begitu menyayanginya.


"Gee,  makanlah. Kau belum makan sejak kemarin." Veroniccha duduk di sisi ranjang Gladis setelah meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas.


"Aku belum lapar, Ve." Masih gelengan yang sama dari Gladis.


Veroniccha menghembuskan napasnya berat dan melirik pintu tempat di mana Papanya menatap sedih. Veroniccha kemudian bangkit dan menghampiri Papanya itu.


Hubungannya memang sudah tidak begitu buruk dengan Papanya sejak kematian Mariska. Ditambah lagi dengan keadaan Gladis yang butuh banyak dukungan dari orang-orang disekitarnya. Veroniccha sudah cukup merasa bersalah dengan adiknya itu selama ini.


"Papa ingin mengatakan semuanya kepadamu." Veroniccha terdiam. Menatap manik mata Papanya yang sudah terlihat renta dan lelah.


***


Kegelapan adalah hal yang tepat menggambarkan suasana hatinya saat ini. Juga pada keadaan kamarnya yang menggelap.


Veroniccha menatap datar pada foto di depannya. Foto pernikahannya.


Mengapa laki-laki itu tak menceritakan hal yang sebenarnya. Padahal, masalah ini masalah yang membuatnya banyak menderita.


Ia menyalahkan Vino atas segalanya. Ya, Vino bersalah. Vino bersalah.


***


Vino melangkah semangat memasuki rumahnya. Ia tak sabar bertemu dengan istrinya. Juga sebenarnya khawatir karena tiga hari belakangan ini Veroniccha jarang menjawab panggilannya. Juga ketika ia menjawab panggilannya, suara Veroniccha terdengar lesu dan tak bersemangat.


Mungkinkah istri anehnya itu sakit?


"Sayang! Aku pulang! Kau di mana?" Vino melangkah memasuki kamar dan mendapati kegelapan bersama istrinya yang sedang meringkuk di atas ranjang.


"Ve," Vino menyentuh lengan Veroniccha lembut. Dan tersenyum lembut saat Veroniccha membuka matanya.


"Mengapa kau tidak mengatakan semuanya? Mengapa kau menyembunyikan hal ini dariku?!"


Vino menegang. Kini detak jantungnya berpacu begitu cepat. Lalu ia tersadar. Saat ini kenyataan menghantamnya. Memaksanya bangun dari mimpi indah yang tlah ia dirikan.


Lalu sesuatu seperti menyayat hatinya saat melihat tatapan terluka dari Veroniccha dalam kegelapan siang itu.


.


.


.


.


.


.