
"bangunkan dia" ucap mama aldo
bik minah pun membanggunkan anita dengan mengoyang goyangkan tubuhnya dengan lembut
"non, bangun, non, ini sudah pagi" ucap bik minah
"dia bukan majikan disini. statusnya sama dengan kalian bahkan lebih rendah" mreasa tidak sabar mamah aldo menarik kaki anita. memnbuat anita merasakan sakit ditubuhnya dan langsung bangun seketika.
"suruh dia bekerja, aku tak ingin dia tidur enak - enakan disini, sementara putraku harus bekerja untuk memberinya makan" ucap mamah aldo
anita merasa sakit, pasalnya aldo tak pernah memberikan uang sepeserpun pada anita, bahkan anita hanya bisa makan nasi putih dengan telur saja, tidak lebih.
setelah anita menyelesaikan pekerjaannya anita berangkat kerja, sebelum sampai ditempat kerjanya anita membeli sarapannya dipinggir jalan yang seharga sepuluh ribuan, anita tak sanggup jika harus beli yang mahal mahal, cukup nasi dan lauk saja, yang penting maag anita tidak kambuh dan bayinya sehat sehat.]
anita mengelus elus perutnya yang masih rata itu, anita harus bekerja untuk biaya persalinannya nanti dan untuk memenuhi kebutuhan bayinya nanti.
setelah selesai anita kembali berjalan menuju cafe swiss, didalam cafe sudah terlihat samuel menantinya,
"hai anita" sapa samuel
"hai sam, tumbun pagi pagi udah kesini aja"
"iyah, soalnya aku rindu nih sama kamu"
"ih gombal aja, oh yah aku kebelakang dulu yah, udah waktunya kerja. bye" ucap anita
melihat respon anita samuel merasa langkahnya untuk mendapatkan anita semakin mudah, dengan cara ini juga samuel bisa mendapatkan asset asset peninggalan ayah anita.
dilain tempat, aldo sedang menuju rumah sakitnya untuk melihat keadaan rumah sakit itu dan untuk sekedar berkunjung melihat pasien pasiennya.
"rob, gimana kapan lu nikahnya?" tanya aldo duduk disofa kantor robbi
"tenang bro, aku udang lu dengan binik lo nantinya, bawa binik lu biar kita kita tidak penasaran seperti apa binik lu itu, apakah secantik fany atau bahkan lebih cantik lagi" ucap robi
"kalau gitu mending lu gak usah nikah deh" ucap aldo sambil membaringkan tubuhnya disofa
robbi yang tau permasalahan aldo itupun langsung diam dan tidak melanjutkan kata katanya, karena takut aldo jadi marah.
"dok, ada pasien yang sedang menunggu, dan sudah ada janji dengan beliau" ucap suster itu yang tak lain adalah vinny.
"baiklah" robbi langsung pergi begitu saja meninggalkan aldo yang sudah tertidur disofa itu, vinny yang melihat itu langsung mengambil kesempatan agar bisa berduaan dengan aldo, viny berpura pura membersihkan ruangan robbi. aldo tersadar adanya vinny diruangan itu bangun dan pergi meninggalkan rumah sakit itu.
selesainya robi dengan pasiennya dia langsung balik untuk melihat aldo, namun saat sampai robbi melihat ruangannya sudah sepi itu artinya aldo tellah pulang. robbi pun merebahkan tubuhnya dikursi kebesarannya
TRING....TRING...
robi melihat ada panggilan dari kekasihnya
"ada apa sayang?" tanya robbi
"sayang, mamah dan papah ingin kita segera menikah, karena menghindari perjodohan dengan rekan bisnis papah" ucap rere sang kekasih.
"kenapa bisa sayang"
"yah, mereka memaksa papah untuk menikahkanku dengan anaknya"
"baiklah, aku akan diskusikan dengan mamah dan papahku, nanti aku kabari lagi" ucap robbi
robbi yang mendapat kabar itupun langsung mengabari kedua orang tuanya melalui panggilan telepon.
lama berbincang akhirnya orang tua robbi menyetujuinya dan pernikahan mereka akan diadakan satu minggu lagi. dan juga sudah disepakati oleh orang tua rere.
*****
dicafe sudah menunjukkan jam enam sore, itu artinya anita sudah bisa pulang, kali ini anita berencana untuk melihat rumahnya meski kini anita tidak bisa lagi untuk menempati rumah itu walau hanya sekedar masuk saja, karena sudah diambil alih oleh aldo.
"andai keluarga kecil kita seperti itu mas, betapa bahagianya kita" batin anita melihat sepasang suami istri dan Bersama dua anak kecil. lama anita memandang mereka, anita pun tersadar dan kembali melanjutkan perjalanannya, setelah sampai anita melihat perkarangan rumahnya dan sesekali mempoto dan berkata
"mah, pah, aku gagal untuk mempertahankan rumah ini, maaf anita tak bisa menjaganya lagi, semoga mamah dan papah bisa mengerti" gumam anita dengan mata yang sudah mending
anita berjalan pulang menuju rumahnya, setelah sampai anita langsung masuk kekamar untuk membersihkan dirinya.
"non, apa non tidak makan malam, kasihan bayinya kalau non tidak makan non, makanlah non" ucap bik minah
"bik, anita kepengen makan nasi goreng bik, pakai telur bebek bik, bolehkan bik?" tanya anita
"tapi non, kita tidak ada persediaan telur bebek non, kan biasanya telur ayam non"
"tapi kali ini anita benar benar pingin makan itu bik"
"apa non anita ngidam yah?"
"tidak tau bik"
"BIK MINAH....." teriak mamah aldo
bik minah lari sampai ngos ngosan
"iyah nyah? ada yang bisa saya bantu nyah" tanya bik minah
"tolong pijitin kaki saya" ucap mamah aldo,
bik minah heran, tapi mengiyakan, karena baru kali ini bik minah disuruh mijitin kaki mamah aldo tapi saat melihat senyum licik diwajah brigitha bik minah jadi tau maksud brigitha, ternyata dia hanya ingin menjauhkan bik minah dari anita.
anita yang menunggu kedatangan bik minah pun bosan, orang yang sedari tadi ditunggu tak kunjung dating, anita melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
anita yang merasa keinginannya harus terpenuhi itu pun keluar kamar dengan pakaian jaket dan membawa syal, anita keluar rumah untuk mencari kesana kemari tapi tidak ada yang menjual nasi goreng telur bebek, setengah jam anita mencarinya namun tak kunjung dapat, karena lelahnya anita duduk di kursi taman dan melihat sekeliling yang sudah mulai sepi.
"bro, itu seperti anita, ngapai dia malam malam ketaman?" tanya angga yang melihat anita dikkursi taman, yah mereka melewati taman itu karena mereka juga baru pulang dari kantor.
"kita lihat saja, berhentilah"
anita yang merasa kedinginan itupun langsung memakai syal yang dia bawanya tadi, anita berjalan menuju kediaman aldo, anita melihat warung kecil kecilan dan berniat membeli telur bebek, dan syukurnya mereka menjualnya, anita membeli telur bebek itu dan membawanya kerumah.
aldo yang sedari tadi melihat anita merasa ada yang mengganjal, belum selasai sampai situ, aldo melihat anita menuju dapur dan mengeluarkan nasi dan bumbu dapur, aldo melihat itu dari kejauhan agar anita tak melihatnya.
"hmm, wangi" ucap aldo seketika perutnya berbunyi, aldo yang belum makan dari siang itupun merasakan lapar yang serius, aldo turun kebawah dan menuju dapur. anita belum menyadari kedatangan aldo dan saat anita mau menghidangkan nasi goreng itu kemeja makan, anita terkejut dan nasi goreng itupun terjatuh dan berserakan dimana mana. suara pecahan piring itu pun membangunkan orang orang yang ada dirumah itu.
"apa apaan ini, kamu kira piring itu murah haa?" bentak mamah aldo
anita langsung mengutip setiap pecahan piring itu dengan mata berkaca kaca dan tubuh yang bergetar hebat, aldo yang melihatnya merasa iba namun karena gengsinya yang besar aldo hanya bisa melihatnya saja.
bik imah dan bik yanti yang datang untuk membantu anita pun tidak diperbolehkan oleh mamah aldo
"tidak ada yang boleh bantu dia, jika saya melihat kalian membantunya, saya tidak akan segan segan memecat kalian. paham!!" ucap brigitha
air mata anita menetes begitu saja, saat matanya sudah penuh dengan air mata penglihatan anita menjadi buram dan tiba tiba
"Aww" ucap anita yang merasa perih dijari telunjuknya
namun tak ada satupun yang menolong anita, anita sadar kini dirinya hanya menjadi bahan tontonan saja didapur itu, anita menghapus air matanya menggunakan lengan tangannya, anita membersihkkan dapur itu sambil menahan rasa sakit dihatinya dan dijarinya.
aldo yang melihat itu langsung pergi begitu saja, aldo merasa sakit saat melihat anita seperti itu, aldo masuk kamar dan membaringkan tubuhnya, dia bingung dengan perasaannya saat ini.
setelah dapur bersih, anita merasa lapar berencana ingin membeli telur itu lagi. saat anita keluar aldo melihatnya dan mengikuti anita dari belakang.
anita kembali kewarung itu lagi, tapi sayangnya warung itu tutup, anita berjalan menyusuri jalanan itu tapi tetap tak kunjung dapat, sampai akhirnya anita Lelah, anita memilih berkunjung kerumahnya yang dulu, anita duduk tepat didepan rumahnya dan menangis sejadi jadinya, anita mengeluarkan kegudahan yang anita rasakan, setelah puas dirasa anita merasa akan tidur diluar saja, anita tak ingin balik kerumah itu untuk sementara.
itu semua tak lepas dari penglihatan aldo.