Sincerity And Faith

Sincerity And Faith
kemarahan brigitha



dikediaman aldo kini kedatangan mamah dan papah aldo, mereka sudah tibda dikota B karena ingin melihat perkembangan rumah tangga anaknya, dan kondisi papah aldo pun semakin membaik karena melihat putranya menikah.


"selamat siang" sapa mama dan papa aldo


"siang nyonya besar dan tuan besar" sahut bik yanti


"kok sepi bik, pada kemana aldo dan anita bik?" tanya mama aldo


"oh tuan tadi pergi buru buru tidak tau kemana nyah, tapi kalau nyonya anita hari ini sedang wisuda ditemani sama imah" sahut bik yanti


lah kok sama bik imah, kenapa gak ada ngabari ke kita yah pah?" tanya mamah ke papah 


"gak tau sih mah"


"pak mudi mana bik, boleh dipanggil bik" suruh brigitha


"baik nyah"


setelah pak mudi masuk rumah, mama brigitha langsung memberikan pertanyaan yang banyak


"pak mudi, beberapa hari ini aldo kemana saja, dan hari ini aldo kemana, kenapa pak mudi tidak ngantar aldo, kenapa pak mudi tidak telpon kami kalau anita wisuda, kenapa pak mudi tidak antarkan menantu saya ke acara wisudanya?" tanya mama aldo


"maaf nyah, tuan tadi pergi buru buru, dan tuan juga kasih kabar ke saya tidak usah mengantarkannya, kalau non anita tadi  non sendiri yang minta naik taksi" jawab pak mudi


"oh ternyata dia kembali kesikap dia yang dulu yah, sudah pandai dia yah, pantas saja dia semalam jawab telpon gugup, ini masalahnya" ucap brigitha


"jadi bagaimana mereka berdua selama ini bik" tanya mama aldo


"selama ini mereka hidup seperti orang tidak kenal nyah, dan lagi mereka sekarang tidur pisah kamar, oia nyah, tuan tidak pernah makan sama dengan non anita, belum lagi nyah saya melihat non anita sepertinya ingin menjauh dari tuan" ucap bik lia dengan penuh kemenangan


bik yanti yang merasa ada yang salah dengan ucapan itu pun langsung menarik lia dari sisinya


"eh, tuan, nyonya yang diucapkan lia tadi tidak benar nyah, non anita..." belum sempat bik yanti menjelaskan brigitha langsung menuju kamar aldo dan melihat semau yang ada dikamar aldo termasuk pakaian dan kamar mandi, yah semua menjelaskan kalau anita tidak tidur dengannya selama ini.


brigitha yang sedang emosipun kini merasa gagal menjadi seorang ibu, dan dio yang mendengarkan dan melihat kejadian ini merasa sesak nafas dan sedikit demi sedikit dio membenarkan nafasnya agar brigitha tak khawatir padanya.


tak lama terdengar suara mobil dari luar, yah itu taksi yang ditumpangi bik iman dan anita telah sampai dirumah itu, selang beberapa menit mobil aldo kini memenuhi garasi rumah itu, aldo yang terlihat sangat kusut itu langsung masuk kerumah begitu pula dengan anita dan bik imah, betepa terkejutnya mereka melihat mama brigitha dan papah dio kini sudah ada duduk di sofa dengan wajah yang sulit diartikan terlebih lagi mama brigitha seperti sedang menahan emosi yang meluap luap.


PLAKK...PLAK


yap tamparan itu mendarat dikedua pipi aldo, dan terlihat jelas tamparan itu sangat keras yang meninggalkan jejak kemeran di pipi mulus aldo


aldo dan anita serta yang lainnya terkejut dengan perlakuan mamanya itu


"kenapa mama tampar aku mah, apa salah aldo mah" tanya aldo pada mamanya itu


"dasar anak pembohong, kurang ajar, berani beraninya kamu membohongi kami" 


lagi lagi aldo terkejut mendengar pernyataan mamanya


"apa yang mama maksud, aldo gak negrti mah" tanya aldo


"sudahlah aldo, akui saja kesalahanmu tanpa harus menutupi semuanya, kami sudah datang lama dan kami sudah mengetahui segalanya" ucap dio membuka suara


"pernikahanmu dengan anita hanya kebohongan kan?" sahut brigitha dengan isak tangisnya


"maafkan aldo pah, semua ini salah aldo paj, aldo lakukan ini demi papah" ucap aldo memegang kaki papah dan mamahnya


anita yang tak tega melihat aldo dan mertuanya menangis akhirnya membuka suara


"pah, mah, ini bukan sepenuhnya salah mas aldo, jika kalian marah, marahlah sama anita, jika kalian benci, bencilah pada anita, jangan memarahi atau membenci mas aldo, anitalah yang bersalah mah, pah.. anita datang kekeluarga ini dengan banyak beban, dan itu semua berdampak buruk bagi kalian, anita mohon maafkan anita tapi jangan baut mas aldo menangis" ucap anita dengan tangisan pilunya


"memang kalian berdua salah semuanya, kalian berdua tidak menghargai kami selaku orang tua, kalian itu sudah dewasa, kalian sudah menikah, kalian pikir menikah itu main main, kalian telah berjanji dihadapn tuhan, tapi apa yang kalian perbuat? kalian merusak kepercayaan yang tuhan beri pada kalian" ucap papa aldo


"jadi setelah ini apa yang akan kalian lakukan ha? apa lagi. apa kalian akan melanjutkan kebohongan ini?" tanya mama brigitha


"aldo akan melanjutkannya mah, aldo akan berusaha memperbaiki diri aldo mah, aldo berharap papah tidak kepikiran ini lagi dan tidak mengganggu kesehatan papah" jawab aldo kepada orang tuanya.


anita terdiam seolah mulutnya tidak bisa berkata apa apa lagi, anita terpukul melihat aldo yang tengah hancur perasaanya itu, apalagi mendapati kedua mertuanya itu sangat marah besar hari ini, dan untuk yang pertama kali anita melihat mertuanya marah..


setelah marahnya brigitah terlampiaskan mereka langsung menuju rumah mereka dulu, karena hendak menenangkan pikirannya.


anita menghampiri aldo yang hendak mengajak aldo beristerahat itupun malah ditolak


"mas, istirahat dulu" ajak anita dan mendekatkan tubuhnya pada aldo, tapi bukannya menjawab aldo malah mendorong tubuh anita dengan kuat, anita yang tidak siap pun langsung terhempas ke meja kaca itu, tanpa disadari kening anita mengeluarkan darah segar.


setelah aldo mendorong anita aldo bangkit berdiri dan meninggalkan anita yang terjatuh, anita mencoba membangkitkan tubuhnya namun anita malah jatuh pingsan.


anita pingsan selama setengah jam dan anita banyak kehilangan darah, setelah pertengakaran itu, bik imah, bik yanti dan bik lia pergi menjuju kamar mereka masing masing untuk istirahat, karena itu adalah perintah brigitha.


bik lia keluar kamar dan melihat anita diruang keluarga tertidur, yah dia sangka anita kini tengah tertidur makannya bik lia tidak membangunkannya, bik lia mengajak bik yanti dan imah untuk memasak dan membersihkan rumah, saat bik imah menuju ruang keluarga bik imah kaget melihat banyak darah dan anita yang tertidur dengan wajah pucatnya, bik imah takut terjadi apa apa pada anita


"tuan.. tolong" ucap bik imah yang berlari menuju kamar aldo


"ada apa sih bik"


"tuan, non anita tuan, anu tuan,, itu tuan"


"yang jelas bik, apa sih anu, ini, itu" jawab aldo kesal


"tuann... nyonya tuan..." teriak bik yanti


"non anita pingsan tuan, ada darah dikeningnya tuan" jawab bik imah lancar


"apa?" aldo terkejut dan langsung berlari menuju tempat anita, yah kini aldo menyadari itu adalah perbuatan aldo


"bik tolong ambil peratan saya bik, cepat bik" ucap aldo sambil menggendong anita menuju kamar anita


"apa kau akan pergi anita, apa kau akan meninggalkanku, apa aku terlalu kasar padamu, maafkan aku anita, aku tak ada maksud mencelakaimu anita" batin aldo yang melihat wajah pucat anita layaknya orang mati.


setelah mengobati luka anita, aldo langsung membawa anita kerumah sakit, aldo membawa anita kerumah sakitnya dan langsung meminta beberapa kantong darah golongan A, aldo menyesal telah melakukan ini, tapi dia tadi tidak sengaja.


"bik, tolong bawa peralatan anita bik, dan tolong jaga anita bik, saya masih ada urusan dikantor bik" ucap aldo dan bik imah mengiyakan itu.