Sincerity And Faith

Sincerity And Faith
nasi basi



aldo bangun dari tidurnya dan merasa haus, ia menuruni anak tangga unntuk mengambil minum di dapur, tapi saat dia melihat anita keluar dari pintu belakang dengan pakaian kerjanya dan melihat wajah pucat anita yang dipenuhih keringat.


"apa dia tidak sarapan, kenapa dia keluat lewat pintu belakang?" pikir aldo


tidak lama terdengar suara seseorang dari pintu depan


"sayang" ucap mamah aldo


aldo menoleh ke arah pintu itu dan dia terkejut melihat mamahnya sudah ada dihadapannya


"mah, katanya seminggu, tapi kok udah disini aja" ucap aldo sambal menyalim tangan brigitha


"iyah, urusan mamah sudah selesai, jadi mamah mau cepat cepat kesini"


"baik lah mah"


"oh iyah, kemana dia?" tanya mamah aldo


"dia siapa mah?" tanya aldo balik yang tak mengerti ucapan mamahnya


"yang kamu nikahin itu"


"oh dia baru aja pergi mah"


"kemana dia sepagi ini"


"entalah mah"


yaudah deh, mamah capek mau istirahat"


"baiklah mah, aldo berangkat kekantor yah mah, kalau ada perlu minta sama bibik ajah"


"iyah, hati hati dijalan ya"


brigitha awalnya menyayangi anita seperti dia menyayangi aldo, tapi semenjak dio meninggal dia telah membenci anita karena menurutnya anitalah ppenyebab suaminya meninggal, dan dia menyesal telah merestui aldo dan anita untuk menikah.


****


anita telah sampai di cafe, dan seperti biasanya anita bekerja dan sesekali anita menghibur pengunjung cafe tersebut, dan tak lama mata anita tertuju pada samuel yang melambaikan tanganya kepada anita, anit pun menghampiri samuel.


"maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya anita


"bisakah kamu duduk disini sebentar?" pinta samuel


"tapi saya masih ada pekerjaan tuan" tolak anita


"saya sudah bilang ke bos mu, dan dia mengizinkannya" ucap samuel, anita pun menyetujuinya.


selang beberapa lama mereka berbincang, perihal mengapa anita sampai keluar dari perusahaannya sampai tidak disadari bahwa ada mata yang melihat mereka, yah dia adalah aldo, aldo memanng sering kecafe ini karena cafe ini sudah termasuk tempat favoritenya saat jam makan siang, saat samuel memegang tangan anita, anita dengan cepat menarik paksa tanganya dan aldo yang melihatnya merasa muak dan terbawa emosi.


"bukannya itu binik lu bro" tanya angga yang melihat kedekatan anita dengan pria


"hmm, perempuan gak benar akan memanjakan laki laki lain kan?" jawabnya


"apa dia kerja disini bro"


angga terkejut, karena dengan santainya aldo membiarkan anita bekerja ditempat ini, sementara dia kelimpahan harta.


"apa lu gak kasih dia uang bro, sampai dia harus kerja seperti ini?" tanya angga


aldo terkejut karena sejak mereka menikah aldo memang tak memberi anita uang bahkan aldo juga hanya memberikan anita makan dengan nasi dan telur. aldo merasa bersalah pada anita.


"gue pergi bentar" ucap aldo kemudian meninggalkan angga dan menemui yudis untuk meminta izin memulangkan anita


"eh tuan" jawab yudis saat melihat aldo memasuki ruang kerjanya


"aku minta kau memulangkan anita, karena aku lihat dia sakit, surulah dia pulang, jika aku masih melihatnya disini siang ini, maka kau akan melihat cafe mu ini hancur" ucap aldo lalu pergi meninggalkan yudis. yudis pun langsung memanggil anita menjumpainya


"anita, aku lihat kau sedang tidak baik, jadi kau boleh pulang" ucap yudis


"tapi pak, anita masih kuat kok pak"


"tidak, kamu pilih, kamu pulang sekarang, atau kau bekerja dan besok kau dipecat" ancamnya


"baiklah pak, saya pulang, terimakasih pak" pamit anita dan menuju lokernya untuk mengganti pakaiannya.


"nit, mau kemana?" tanya lukman


"mau pulang"


"kok cepat amat, tumben" tanya tika


"iyah, aku kurang enak badan" jawab anita bohong


sesamapinya anita dirumah, anita membersihkan tubuhnya dan menghempaskan tubuhnya dikasur miliknya sampai larut malam anita baru terbangun dari tidurnya, dia merasa lapar sekali.


dan saat anita kedapur dia melihat mamah mertuanya dan suaminya sedang berbincang dimeja makan, anit langsung membalikkan badanya dan pergi menuju kamarnya, aldo menyadari kedatang dan kepergian anita, ada sesak didadanya saat melihat anita yang takut padanya dan mamahnya.


sampai dikamar anita menangis, pasalnya kini mamah aldo telah membencinya, bahkan untuk melihat wajah anita saja sudah tak sudi lagi, anita menangis sambal menggenggam poto keuda orang tuanya, anita merasa kesepian dan takut, anita melihat ponselnya ternyata batrai ponselnya tinggal sepuluh persen lagi, anita langsung mengambil carger ponselnya dan mencargernya untuk senter sebegai penerang kamarnya.


setengah jam berlalu anita keluar dari kamarnya dan menuju dapur. anita tidak melihat ada mamah mertuanya dan suaminya, kini anita bisa tenang, anita melihat meja makan yang kkosong dan hanya melihat nasi yang tinggal sedikit lagi, anita melihat kulkas namun naasnya kulkas itu pun kosong, anita yang merasa nyeri dibagian perutnya itu pun langsung berjongkok, pasti maagnya kambuh akibat anita yang belum makan dari pagi, apalagi kini anita tengah hamil, anita tak ambil pusing, anita mengabil nasi itu dan memakannya sambal berjongkok karena tidak bisa lagi berdiri akibat nyeri diperutnya, sesekali anita menghapus air matanya.


anita meratapi hidupnya sampai kini tak ada kebahagian yang anita dapat dari pernikahan ini, dan itu juga tak luput dari pandangan aldo, yang tadinya aldo mau ambil air minum tapi dia melihat anita menuju dapur dia mennghentikan langkahnya dan melihat anita yang sedang mencari makanan.


aldo merasa sakit saat melihat anita makan sambal berjongkok dan sesekali menghapus air matanya, kemudian aldo melihat anita berjalan menuju kamarnya sambal memenggangi perutnya, aldo berfikir mungkin karena sakit perut atau karena maagnya.


setelah sampai dikamar anita mengelus - elus perutnya yang amsih rata seraya berkata


"apapun yang terjadi, mamah akan memperjuangkanmu sayang, mamah harap kamu bisa mengerti ya sayang, maaf kan mamah belum bisa kasih kamu nutrisi yang baik" ucap anita sedih


aldo menuju dapur dan diliahtnya meja yang kosong dan kulkas yang kosong, hanya hancur saat tau anita memakan nasi basi, rasanya aldo tak tahan melihat ini, aldo bergerak menuju kamar anita, dia mendaratkan daun telinganya kepintu anita dan mendengarkan ucapan anita


"mah, apa anita terlahir akan menjadi bahan ocehan orang? apa anita tidak memiliki hak untuk bahagia? apa anita tidak pantas untuk hidup layak,"


"ahh,, sakit aduh aku juga lupa beli obatnya, Tuhan kenapa begitu banyak beban yang aku berikan padauk yang lemah ini" ucap anita menahan sakitnya


"mah, pah, apa kaliah tau, aku menikah? apa kalian tau nasib pernikahanku? apa kalian tau, setiap malam aku takut, takut gelapnya Gudang ini, aku selalu meneranginya denga senter hp ku, aku selalu bersabar menghadapi semuanya, tapi aku takut jika suatu saat dia menceraikanku dan mengusirku, aku tak tau kemana akan pergi, pah apa papah tau, wanita yang papah nikahi itu telah menjual semua isi rumah, dan apa kalian tau, kini rio telah menduduki perusahaan papah, apa aku tidak pantas untuk meneruskan perushaan papah? apa aku terlalu bodoh?" nangis anita pecah saat mengingat bagaimana kehidupannya dulu dan membandingkan dengan yang sekarang.