
''uhuk...uhuk''
''Edgar sialan!!''
Ellina langsung meminum susunya yang tinggal sebagian, sedangkan laki laki itu dia sudah selesai dengan sarapannya dan sedang tertawa renyah hingga menunjukkan lesung pipinya yang dalam dan dia terlihat...
''tampan...eh?''
''hey kenapa kau ketawa''
''kau lucu babe''
''jangan bercanda Ed''
''aku serius babe, menikahlah denganku''
''kau harus menyaring dulu semua kata katamu Ed, jangan bodoh kita baru menjalin hubungan 2 hari''
''lalu?''
''lalu?ya tuhan aku bisa gila, menikah tidak semudah itu Ed''
''babe jangan mempersulit sesuatu''
''bukannya aku mempersulit tapi menikah adalah hal yang sacral, kau gila''
''apa aku kurang romantis''
Liat liat...bahkan sekarang Edgar menggoda Ellina denga kalimatnya itu sambil manaik turunkan alisnya dan jangan melupakan senyum jahilnya.
''jangan menggodaku Mr.Switlog''
''aku tidak menggodamu Mrs.Switlog''
''enough Ed''
''oke oke, tapi aku serius''
''dan aku serius mengatakan kau tidak waras''
''aku akan pergi ke toilet sebentar''tambah Ellina.
''perlu aku temani''
''enough Ed''
Edgar hanya tertawa lepas melihat Ellina yang salah tingkah, walau marah tapi Edgar yakin baru saja melihat Ellina merona.
Selesai sarapan mereka berdua langsung menuju sebuah café yang sudah dijanjikan Edgar sebagai tempat Ellina dapat bekerja sebagai penyanyi café.
''jadi ini gadis yang kau katakana Ed''
''ya, dia Ellina''
''aku Ellina''sapa Ellina.
''aku Marcel''
''dia pemilik café ini babe, dan kau jangan mencoba mendekatinya, dia milikku''
''baik tuan yang terhormat''goda Marcel.
Sunggu Ellina sempat kagum dengan tempat ini, sebuah café yang tidak seperti café tapi masih terlihat nyaman dengan kemegahan dan kemewahan didalamnya.
''baiklah Mrs. Ellina kau mau mulai bekerja kapan?''
''hmm kapanpun tuan Marcel''
''cukup panggil aku Mark''
''dan cukup panggil aku Ellina''
''baiklah, sepertinya kita tanyakan pada tuan posesif ini''
''berhenti Mark, biarkan Ellina bekerja mulai besok''
''baiklah, Ellina kau bisa mulai bekerja besok''timpal Mark.
''tentu''
Edgar menatap Ellina tajam.
''ada apa?''
''kau tidak berterimakasih padaku babe''
''ck...''
Ellina memutar bola matanya malas, dia tau Edgar akan seperti ini.
''...terimakasih Ed''
''aku tidak butuh ucapan babe, baiklah sebagai ucapan terimakasih nanti malam kau harus terlihat cantik, kita akan dinner''
''kau selalu seperti itu Ed''
''yes I am''
''baiklah tuan pemaksa''
''ekhem''
Mereka berdua melupakan satu orang yang masih setia berdiri didepan mereka sambil mendengar perdebatan yang lucu itu.
''eh...maaf Mark, sebaiknya kau kembali bekerja karena aku dan kekasihku akan pulang''
''baiklah terserah kau saja Ed''
''terimakasih sekali lagi Mark''senyum Ellina.
''tentu''
Mereka berdua langsung pulang menuju tempat masing masing untuk bersiap siap sebelum nanti malam mereka akan dinner.
''jam 7 oke babe''
''oke''
Hari semakin terik dan berganti yang sebentar lagi matahari akan terganti oleh bulan dilangit gelap, Ellina masih berkutat dengan baju baju miliknya...oh sepertinya Ellina terlalu berlebihan menyikapi ajakan Edgar.
''ayolah Ell untuk apa semua ini, kau hanya akan makan malam''ucapnya pada dirinya sendiri.
Ellina tidak pernah merasa seperti ini, terkahir kali dia merasakan hal seperti ini sudah sekitar 8 tahun yang lalu saat semuanya terlihat normal.
Ddrttt...
Ell...
''Daren''
Benar, laki laki itu bahkan baru mengirimnya pesan malam hari.
Ada apa?
Ellina berusaha untuk memenangkan hatinya disaat egonya mengatakan untuk tidak perlu membalas pesan Daren tapi hatinya berkata lain.
Bagaimana kabarmu?
Ellina menyerngitkan keningnya, biasanya juga Daren tidak pernah menanyakan kabar Ellina, bukan tidak perhatian kepada Ellina tapi seolah Daren sudah tau jika Ellina membalas pesannya berarti Ellina baik baik saja.
Aku baik
Bisa kita bertemu?
Malam ini aku tidak bisa Ren
Kau sibuk?
Ada sedikit urusan
Ellina tidak mungkin membatalkan janjinya dengan Edgar, bukan tidak mementingkan sahabatnya, hanya saja Ellina sudah terlanjur janji untuk makan malam bersama Edgar.
Minggu depan aku menikah, aku harap kau bisa datang Ellina