
''percayalah seorang wanita yang menyimpan kesakitan akan selalu berusaha untuk tetap tersenyum''batin Ellina.
Tidur dengan tenang sebelum esok dia akan kembali merasakan apa itu kesakitan.
Membuka mata saat mentari mulai melakukan tugasnya, nyawa yang masih tidak sepenuhnya berada dalam tubuh tapi seakan mata terus berusaha untuk membuka.
''permisi nona, tuan sudah menunggu dimeja makan''
''aku akan mandi terlebih dahulu''
Ellina turun dan melihat Edgar duduk dikursinya dengan ipad diatangannya, pakaiannya yang terkesan santai membuat Ellina mengerutkan dahinya, bertanya dimana laki laki itu tidur semalam dan mengganti pakaiannya padahal semalam hingga pagi hari Ellina tidak merasakan Edgar masuk kedalam kamarnya.
''silahkan nona''
Laki laki itu masih terus berkonsentrasi dengan pekerjaannya seakan tidak ada habis habisnya.
''tinggalkan kami''
''baik tuan''
''baik, permisi tuan dan nona''
Meninggalkan sepasang suami istri ini dengan aura yang tidak enak, hingga laki laki ini memecahkan keheningan.
''tidak mau mengatakan apa apa setelah apa yang kau katakan kemarin''
''maaf Ed''
''habiskan sarapanmu''
Bahkan hanya sebuah kata saja Edgar sudah menuntut sebuah kata maaf dan penyesalan dari Ellina lalu bagaimana dengan Ellina yang selalu dia sakiti setiap hari entah itu batin atau fisiknya bahkan kata maafpun tidak akan pernah cukup.
Ellina sungguh muak, sudah hampir 2 minggu Edgar selalu berada dirumah dan tidak pergi bekerja, entah dia sudah dipecat atau apa Ellina tidak tau, penyiksaa?jangan ditanya, selalu ada saja yang Edgar permasalahkan hingga membuat Ellina kembali mendapatkan tamparan, jambakan pada rambutnya, bantingan atau hal yang lebih buruk, setiap pagi selalu berusaha berjalan menuju kamar mandi disaat selangkangannya selalu terasa perih.
Beberap hari ini perut Ellina selalu sakit, dia berfikir jika ini efek dari pil yang setiap hari dia minum tapi padahal Ellina sudah mengkonsumsinya hampir 2 bulan dan sakit itu semakin hari semakin menjadi.
''nona apa anda sakit''
''tidak, hanya saja perutku belakangan ini terasa sakit''
''perlu saya panggilkan dokter Frans?''
''tidak, mungkin ini hanya efek dari pil kontrasepsi''
''benar tidak apa?''
Ellina hanya tersenyum tanda tak apa dan tidak lama pelayan itu pergi meninggalkan Ellina dikamarnya sedangkan laki laki itu sedang berada diruang kerjanya.
''sstthh...''
Ellina meringis dan terus mencengkram perutnya berharap bisa mengurangi rasa sakit, belum lagi tubuhnya lemas dan wajahnya pucat.
Ellina memilih keluar dari kamarya dan turun untuk sekedar menonton televise, mungkin kartun bisa membuatnya tertawa untuk melupakan sakit diperutnya. Berjalan menuju ruang tengah untuk menonton televise dengan jarak yang bisa dikatakan lumayan jauh dilihat dari luasnya masion ini, bukan tidak ada televise dikamarnya, hanya saja Ellina bosan terus berada disana, lagipula laki laki itu sedang sibuk diruang kerjanya.
Turun dan berpegang pada pegangan tangga mencoba mentranfer rasa sakit yang kian bertambah.
''YA TUHAN DARAH!!''
Mendengar itu Ellina menghentikan langkahnya dan melihat kini kakinya dipenuhi dengan darah yang keluar dari selangkangannya dan tiba tiba Edgar keluar dari ruang kerjanya setelah mendengar teriakan pelayannya.
''siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang''
Willy berlari menyiapkan mobil setelah perintah tuannya dan Edgar langsung membopong Ellina menuju mobil, memang saat berjalan keluar kamarnya Ellina masih merasakan sakit tapi rasa sakitnya semakin menjadi seilir darah yang terus keluar.
''cepat Will!!''
''jalanan macet tuan karena sekarang jam makan siang''
''shit!!''
Ellina masih berusaha kuat, menggenggam tangan Edgar seakan mencari kekuatan dari sana.
''sa...kit''
Setelah sampai Ellina langsung dibawa keruang gawat darurat, pakaian santai yang dikenakan Edgar sudah banyak bercak darah Ellina.
''apa yang terjadi!''
Salah seorang kepala pelayan yang ikut bersama rombongan merasa takut karena tidak tau apa yang terjadi hingga istri tuannya seperti ini.
''saya tidak tau tuan hanya saja nona sering merasa kesakitan dibagian perutnya, saya sudah ingin memanggil dokter Frans hanya saja nona menolak, dia berfikir jika ini hanya efek dari pil kontrasepsi yang dia konsumsi seperti sebulan lalu''
''brengsek!!''
Hampir 3 jam menunggu dan Edgar benar benar gila dibuatnya hingga seorang dokter yang menangani Ellina keluar.
''bagaima keadaannya''
''untuk saat ini Mrs. Switlog sudah cukup stabil, apa dia mengkonsumsi pil kontrasepsi?''
''ya dok, sudah hampir 2 bulan ini''
''apa tidak ada efek apa apa dari pil itu''
''sebulan yang lalu dia muntah muntah dan dokter Frans sudah memeriksanya dan hanya efek pil itu dan tidak akan berakibat buruk''
''memang sebagian wanita seperti itu, tapi Mrs. Switlog sangat hebat, rahimnya sangat kuat bahkan pil kontrasepsipun tidak kebal dan efek yang timbul sebulan lalu mungkin itu tanda jika pil itu menolak, rahimnya sangat kuat terlebih dia mendapatkan pembuahan dari kualitas ** yang bagus...dan dengan sangat menyesal saya mengatakan jika Mrs. Switlog hamil 2 minggu dan 2 jam yang lalu dia keguguran karena pil yang terus memaksanya untuk tidak hamil''
JEDAR!!
Jika dulu hampir saja bom nuklir hampir meledak untuk saat ini bukan hanya bom nuklir tapi bom super hebat seperti saat pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki.
''tapi jangan khawatir tuan, dia masih bisa hamil lagi asal dia tidak kembali keguguran''
Dokter itu pergi tapi Edgar masih diam seakan tubuh membeku, dia senang istrinya tidak jadi memiliki anak tapi apa dia juga senang seorang wanitanya akan mendengar berita jika janinnya pergi karena efek dari pil yang terus Edgar suguhkan.
''aku tau, aku juga mendukungmu, aku juga tidak mau memiliki anak yang aku takut dia membenci orang tuanya, mamanya yang bodoh dan lemah dan papanya yang kejam, aku tidak mau nanti anakku juga menanggung dosa seseorang, tersiksa karena perbuatan orang lain...like as me''
Benar, Edgar pernah mendengar istrinya itu mengatakan jika dia juga tidak menginginkan seorang anak, lalu Edgar tidak perlu mengkhawatirkan hal itu bukan?
''bagaimana keadaan anda nona''
Kepala pelayan itu menunggu Ellina diruang inapnya 3 jam yang lalu dan beberap menit yang lalu nyonyanya itu sadar.
''aku baik''
''syukurlah, apa perut anda sudah tidak sakit lagi?''
''tidak, bukankah janinnya telah diangkat''
Pelayan itu diam, sungguh dia tidak memberitahukan apapun tapi seakan insting seorang ibu tidak pernah salah akan bayinya.
''benarkan?''
''maaf nona''
''syukurlah, Edgar dan aku sama sama tidak menginginkan seorang anak jadi jika aku keguguran itu jauh lebih baik''
''ya jauh lebih baik dia pergi dari pada menderita seperti ibunya''
Pelayan itu juga seorang wanita, dia tau Ellina terpukul akan hal itu dan dia sangat menginginkan seorang bayi yang lahir dari rahimnya hingga dia yakin sebuah air mata membasahi pipi Ellina dan detik berikutnya wanita itu membuang muka menyembunyikan semua itu.
Ellina sudah boleh meninggalkan rumah sakit setelah hampir seminggu dia dirawat dan percayalah laki laki itu tidak menjenguk Ellina sedetikpun, tidak...laki laki itu menjenguk Ellina hanya saja disaat Ellina terlelap dalam mimpinya, dia tidak tau harus bersikap seperti apa jika menjenguk Ellina saat sadar, dia takut melihat air mata yang lebih menyakitkan dari siksaannya, melihat Ellina yang tertidur lelap membuat Edgar sedikit bernafas lega wanitanya baik baik saja walau hatinya tidak, setelah ini dia tidak tau akan apa lagi, dia tau perlakuannya selama ini sudah menebus semuanya tapi seakan sebuah nyawa tidak pernah bisa dibalas jika bukan dengan nyawa juga.
''anda sudah pulang nona, senang anda bisa kembali, bagaimana keadaan anda?''
Bahkan semua pelayan disini menyambut kedatangan Ellina dengan senang.
''aku baik saja, terimakasih sudah bertanya''
Ellina melihat Edgar yang berdiri dibelakang beberapa pelayan yang menyambutnya, wajahnya seakan menyiratkan kerinduan, kesedihan, marah dan lainnya yang tidak yakin Ellina ketahui dari ekspresi wajah itu.
''bagaimana keadaanmu?''
''aku baik''
Pelayan telah pergi semua meninggalkan dua sejoli ini.
Ellina tersentak saat beberapa detik setelah Ellina menjawab pertanyaan Edgar laki laki itu memeluk Ellina erat, memejamkan matanya dan mengisi energy setelah Ellina tidak berada disampingnya.
''kau baik baik saja bukan?''
''ya''
''syukurlah''
''hmm...syukurlah janinnya keguguran, jadi aku tidak perlu susah susah untuk mengugurkannya, bukan?''
Edgar mengggeram, tidak...ini bukan saat yang tepat untuk kembali menyiksa Ellina, wanitanya itu baru pulang dari rumah sakit.
''jangan sakit lagi...''
''...itu membuatku khawatir dan menyiksaku sayang''