
''...itu membuatku khawatir dan menyiksaku sayang''
Sayang sekali Edgar tidak bernyali untuk mengatakan kalimat terakhirnya.
''ya, aku tidak akan sakit sebelum kau puas menuntaskan dendammu''
Edgar melepas pelukannya, menatap Ellina dengan tatapan tajam dan mengapalkan tangan, 2 kalimat Ellina sudah membuat emosinya kembali memuncak.
''aku masuk kamar dulu, jahitan setelah operasi masih sedikit terasa sakit''
Tersenyum pada laki laki itu yang kemudian berlalu dan masuk kedalam kamarnya.
Hari hari kembali seperti semula, dan laki laki itu belum menyentuh Ellina semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Edgar hanya beberapa kali menampar Ellina karena Ellina yang terus membantahnya. Saat ini mereka tengah sarapan dan Ellina kembali menemukan pil terkutuk itu setelah hampi 5 hari yang lalu Edgar tidak menyuguhkan pil terkutuk ini.
''kau berniat membunuhku?''
Edgar menghentikan aktivitas menyuapkan sarapannya, menatap Ellina dengan tatapan bertanya.
''kau berniat membunuhku dengan pil ini lagi''
Terlihat kilat amarah dari mata Edgar, Ellina yang melihat itu dengan perlahan memasukkan pisau makan yang dia gunakan pada lengan baju panjangnya, menyembunyikan pisau itu dan mengeluarkannya jika dibutuhkan.
''jaga bicaramu dan habiskan sarapanmu''
''beserta pil itu, benar bukan?''
''Ellina habiskan sarapanmu sebelum aku bertindak lagi''
''benarkah?''tersenyum miris tersirat akan kebencian.
Ellina beranjak dari kursinya, pergi tapi sebelum itu Edgar sudah mencengkram lengan Ellina.
''kau membantah Ellina''
''ya...aku membantahmu, aku sudah muak dengan semua ini, kau...laki laki brengsek!!''
Plakk
''tampar aku sesuakamu jika perlu sampai matipun, aku lebih rela mati dari dari pada selalu kau jadikan pelampiasan amarahmu dan budak nafsu bejadmu!!''
Ellina mundur melihat kilat amarah dimata Edgar yang tidak pernah Ellina lihat, cengkraman tangannya sudah lepas tapi ini sesuatu yang lebih buruk dari biasanya.
Jika Ellina bersikap waras mungkin dia sudah bersujut meminta maaf kepada Edgar tapi kali ini Ellina sudah tidak tahan lagi, dia ingin mati dan menyusul orang tuanya...ya, hal ini lebih buruk setelah kemarin Ellina menguping pembicaraan laki laki ini dengan Willy.
''dia sudah meninggal tuan''
''aku tau, aku mendengarnya beberapa menit yang lalu dari suster yang mengurusnya''
''sepertinya tuan Groug tidak dalam kondisi yang stabil hingga dia bunuh diri''
''sepertinya, dan aku tidak tau bagaimana cara memberitahu anaknya itu''
Ya, memang papa Ellina sudah menyusul mamanya terlebih dulu, yang Ellina tau jika papanya bunuh diri tapi Ellina yakin jika ini ulah dari suami jahatnya.
''maaf? aku melakukan kesalah kecil dan kau menuntut kata maaf dari mulutku, lalu apa yang harus kau lakukan untuk memaafkan semua perbuatanmu padaku?bahkan 1000 kata maafpun tidak akan pernah cukup''
''cepat minta maaf sebelum ak...''
''bunuh saja aku!!bunuh saja aku setelah apa yang aku rasakan, hidupku sudah hancur, mamaku merusak keluarga harmonis kami, papa gila dan sekarang dia sudah pergi menyusul mama, kenapa...kau terkejut mendengar aku juga mengetahui hal itu, penantianku selama 8 tahun berharap papa bisa kembali hidup normal sia sia, dia juga pergi meninggalkanku, sahabat yang aku cintai pergi meninggalkanku dan tidak peduli lagi setelah dia mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan ketika aku bertemu denganmu seakan ada secercah cahaya kebahagiaan yang datang aku sudah berharap aku bisa keluar dari duniaku yang dulu dan hidup bahagia dan ketika kau mengajakku menikah, aku sangat senang akhirnya aku bisa hidup bahagia...tapi setelah kau tau aku yang tidak beruntung dengan lahir dari rahim seorang jalang...''
Ellina menghentikan kalimatnya mengambil nafas setelah mengatakan kalimat barusan dengan lancar tanpa mengambil nafas dan melihat laki laki yang berdiri sedikit jauh darinya tidak bergeming apapun.
''...aku harus menanggung akibat dari perbuatan dosa mamaku sendiri, aku kira aku akan bahagia bersamamu, kau laki laki yang aku kenal dengan senyuman hangat dan pelukan yang selalu membuatku merasa aman hilang dan terganti dengan laki laki yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya dan kini aku kehilangan bayiku...''
Ellina sudah siap dengan sesuatu dibelakangnya, sekarang tinggal dia mendengarkan pendapat dari laki laki ini.
''bukankah kau juga tidak menginginkan seorang bayi, jangan munafik Ellinaku sayang...bukankah kau sendiri yang tidak menginginkan seorang bayi lahir dari rahimmu itu''
Padahal Ellina tidak akan melakukan hal ini jika saja laki laki itu menyesal dan mengatakan satu kata maaf, tapi kalimat barusan membuktikan jika laki laki ini memang seorang iblis dalam tubuh malaikat.
''ya...aku memang pernah mengatakan hal itu, tapi satu hal yang harus kau tau semua wanita yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak yang lahir dari rahimnya, tapi karena aku tidak beruntung menikah dengan iblis sepertimu aku harus menanggung tidak bisa mewujudkan mimpi seorang wanita normal''
Ellina melakukan aksinya, Edgar tidak tau jika Ellina melakkan sesuatu dibalik punggungnya, tangan yang dia sembunyikan dibalik punggunya dan jangan melupakan pisau makan yang dia sembunyikan dibalik lengan bajunya, dia keluarkan dan memutus urat nadi pergelangan tangannya jika saja Edgar tidak mengatakan hal itu mungkin Ellina tidak akan melakukan hal ini, darah yang dia tadahkan dengan satu tangannya yang lain berharap laki laki ini tidak menyadari hal itu sebelum darahnya benar benar habis.
''kau akan menyesal kehilangan apa yang kau miliki dengan tidak menjaganya''
''kau kembali membuatku murka sayang, harus kau tau...''
''DARAH!!''