
''amnesia''
''apa?''
''nona Ellina amnesia karena benturan keras pada kepalanya, tidak permanen hanya saja mungkin butuh waktu yang lama mengingat pendarahan hebat diotaknya''
''berapa lama?''
''saya tidak bisa memastikan, terkadang kilasan ingatannya berupa teka teki dan potongan potongan dan saya tekankan untuk tidak memaksanya untuk mengingat yang akan berakibat buruk pada kondisinya, saya menyesal mengatakan ini tuan Switlog, kami sudah berusaha semampu kami''
''terimkasih dok''
Kembali menyesalpun percuma, semuanya tidak akan kembali pada waktu yang lalu.
''tuan, nyonya sudah sadar dan dalam pemeriksaan dokter, sebentar lagi akan selesai''
''hmm...aku akan masuk sebentar lagi''
''anda baik baik saja tuan?''
''tentu, kau urus kantorku''
''baik, jika ada sesuatu anda bisa langsung hubungi saya, saya meninggalkan 3 anak buah saya untuk menemani anda disini''
''pergilah''
Dokter sudah pergi dari ruangan Ellina 15 menit yang lalu tapi Edgar masih belum bergerak sedikitpun, dia sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan didalam sana.
Akhirnya setelah bertarung dengan pemikirannya Edgar memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Ellina.
''hay''
Ellina terdiam beberapa saat meneliti laki laki yang masuk kedalam ruangannya, sosok yang asing baginya tapi wajahnya seakan mengingatkannya pada seseorang.
''kau siapa?''
''aku?aku Edgar Devo Switlog''
Ellina semakin bingung, bukan nama yang dia maksud tapi siapa dia dalam hidup Ellina.
''aku tau aku amnesia karena kecelakaan, dokter yang memeriksaku mengatakannya''
''lalu?''
''aku bertanya siapa kau, bukan siapa namamu, apa kau kakakku? temanku? Sahabatku atau bi...''
''suamimu, aku suamimu''
Entah keberanian dari mana Edgar mengakui dirinya sebagai suami Ellina, memang dia suami Ellina hanya saja sikapnya belakangan ini tidak mencerminkan seorang suami.
Ellina sempat tersentak, dia terdiam beberapa saat mencerna perkataan laki laki yang duduk dipinggiran ranjangnya.
''jangan memaksa, ini...ini cincin pernikahan kita''menunjuk jari manis kirinya yang melingkar sebua cincin perpaduan warna putih dan kuning dengan satu berlian ditengahnya.
Jujur Edgar tidak pernah memakainya setelah hari pernikahan mereka, hanya Ellina yang bertahan terus memakai cincin pernikahan itu dan kali ini Edgar memakainya entah untuk apa.
''aku sudah menikah?''
''hmm''
''apa kita memiliki anak?''
Edgar diam, dia tidak menyangka Ellina akan menanyakan ini.
''aku tau, aku juga mendukungmu, aku juga tidak mau memiliki anak yang aku takut dia membenci orang tuanya, mamanya yang bodoh dan lemah dan papanya yang kejam, aku tidak mau nanti anakku juga menanggung dosa seseorang, tersiksa karena perbuatan orang lain...like as me''
Kilasan itu kembali mengingatkan Edgar, tapi kali ini entah kenapa rasanya berbeda.
''tidak, kita belum memiliki anak''
''tidak...seharusnya aku mengatakan kita tidak akan pernah memiliki anak''
''benarkah?''
''hmm''
''kenapa aku kecelakaan?''
''bukankah dokter bilang jangan terlalu memaksa ingatanmu, biarkan ingatanmu perlahan datang''
Tidak, Edgar masih belum siap untuk menerima Ellina dengan ingatannya, entah kenapa dia melihat Ellina yang sekarang jauh lebih polos dan lugu.
''baiklah, maafkan aku sudah menyusahkanmu''
''jam berapa sekarang?''tanya Ellina.
''jam 10 pagi''
''aku lapar sayang, tidakkah kau mau menyuapiku?''
Edgar tersentak lagi dan lagi, kata kata 'sayang' dan nada manja yang dikeluarkan Ellina membuat dirinya diam dengan waktu yang cukup lama.
''hmm...apa tanganmu masih sakit''
''tentu saja, dokter mengatakan untuk tidak banyak bergerak''
''aku akan membelikan sereal dan fresh milk, tunggulan dulu''
''tunggu''
Edgar menghentikan pergerakannya saat dia akan beranjak dan membelikan Ellina sarapan.
''sereal dan fresh milk?''
''ya, ada apa?''
''apa aku anak umur 5 tahun kau memberiku sarapan sereal dan fresh milk, ayolah sayang aku tidak sakit''
''tidak...ini benar benar bukan Ellina, dia selalu suka sarapan dengan sereal dan fresh milk''
''aku mau egg benedik, beberapa roti gandum mungkin dan low fat milk''
''Ellina bahkan tidak pernah takut akan gemuk tapi kenapa sekarang dia mau meminum susu rendah lemak?''
''ada apa sayang?''
Ellina memang ditempatkan dalam kamar VVIP dan Ellina tidak sakit yang mengharuskan dia makan makanan rumah sakit yang hambar.
''tidak, kau yakin mau low fat milk''
''tentu, aku tidak mau badanku terlalu berisi karena tidak berolahraga saat ini''
''bahkan Ellina tidak pernah mau membuang waktu untuk olahraga''
''baiklah, tunggu sebentar''
Edgar benar benar akan gila jika sikap Ellina seperti ini, dia bahkan merindukan Ellina yang dulu yang selalu memasang tatapan sinis dan dingin, membantah Edgar dan meluapkan emosinya, Edgar bukan tidak suka dengan Ellina yang sekarang hanya saja Ellina yang dulu saja hampir membuat Edgar menyerah membalaskan dendamnya apa lagi Ellina yang manja, lugu dan tanpa emosi pasti Edgar benar benar akan membuang jauh jauh balas dendamnya.
''aku akan panggilkan suster''
''untuk apa?''
''menyuapimu''
''aku mau kau saja sayang yang menyuapiku''
''tapi Ell...''
''ayolah, kenapa kau tidak romantis sama sekali''
''baiklah''
Edgar pasrah, Ellina benar benar membuat Edgar kelimpungan dengan sikap manjanya belum lagi panggilan asing itu.
''sayang kau bekerja apa?''
''aku mempunyai perusahaan''
''apa maksudmu mempunyai?''
''pemilik''
''CEO?''tanya Ellina ragu.
''hm''
''perusahaan apa?''
''properti dan beberap hotel''
Bahkan Ellina yang dulu tidak pernah mau tau apa pekerjaan Edgar, yang ada dalam otak Ellina yang dulu hanya bagaimana caranya lepas dari cengkraman Edgar.
''wah...aku tidak menyangka bisa menikah dengan seorang pengusaha kaya, berapa lama kita pacaran''
Eh?