
Epilog
Bocah kecil itu masih terus berlarian mengelilingi kolam air mancur, bajunya sedikit basah terciprat air tapi tidak menghentikan langkah kakinya yang terus berlari tanpa rasa lelah sedikitpun.
‘’berhenti berlari Ernan, jangan membuat papa hampir gila seperti minggu kemarin karena luka terjatuh, berhenti Er’’
‘’papa…’’
Teriakannya terus menggema seiring larinya yang terus semakin kencang sedangkan laki laki itu juga semakin melajukan larinya dan mengejar anak laki lakinya yang semakin lincah, menariknya dan menggendongnya, meninggikan bocah kecil itu dalam gendongnya hingga mengeluarkan suara tawa bahagia.
‘’papa’’
‘’anak papa nakal’’
‘’stop it, mama…’’
Sedangkan wanita yang dipanggil mama oleh bocah lucu itu hanya tersenyum, Ellina tidak merasa menyesal dengan keputusannya karena mungkin Tuhan memang tidak menulis jodoh untuk mereka berdua.
‘’jangan membuat papa khawatir Ernan’’
Suara Ellina semakin mendekat menuju bocah kecil itu dan laki laki yang masih menggendong anak kecil bernama Ernan itu.
‘’maaf, aku hanya senang ma’’
‘’maaf papa sibuk sampai tidak bisa mengajakmu jalan jalan kemarin’’
‘’hmm…mama bilang papa sedang mencari uang untuk Ernan habiskan’’
Tawa wanita dan laki laki itu pecah, Edgar menatap Ellina intens lalu detik berikutnya senyumnya merekah.
‘’terimakasih Ell’’
‘’setiap hari kau mengatakan itu Ed’’
‘’hm…rasanya terimakasihku tidak akan bisa membalas kebahagiaanku sekarang’’
‘’cukup sayangi Ernan itu sudah cukup untukku Ed’’
‘’ya, aku akan selalu menyayangi Ernan, menyayangi anak kita’’
‘’menyayangi ibunya juga, menyayangimu Ell’’tambah Edgar.
Senyum Ellina kembali muncul, dia sudah sepenuhnya memaafkan Edgar dan melupakan semuanya, mungkin jika hal itu tidak terjadi akan lain jadinya, mereka tidak akan seperti ini.
‘’pa, kenapa mama dan papa tidak tinggal serumah seperti teman teman Ernan’’
Mereka sudah siap dengan segala resiko yang akan diterima termasuk pertanyaan bocah kecil yang tidak mengerti apa apa.
‘’nanti sayang, nanti setelah Ernan dewasa akan mengerti kenapa papa dan mama tidak bisa serumah, tidak bisa seperti teman teman Ernan, apa Ernan sedih?’’
Bocah lucu itu hanya menggeleng, sebenarnya tidak masalah baginya dan teman temannya juga tidak mencemo’ohnya tentang hal itu.
‘’tidak, hanya saja Ernan akan senang melihat papa dan mama setiap hari’’
Memang Ernan atau Fernandes tidak hanya tinggal bersama Ellina tapi juga terkadang akan menginap selama seminggu dimasion Edgar dan kembali berada dirumah kecil Ellina seminggu kemudian tapi terkadang jika Edgar sibuk Ellina akan lebih lama bersama Ernan.
‘’papa dan mama akan sering bertemu apa masih kurang?’’
‘’tidak, Ernan bahagia’’
Tidak selamanya bersama seorang kekasih akan menjadi kebahagiaan, buktinya mereka memutuskan tidak bersatu tapi masih sangat merasa bahagia, setidaknya mereka tidak saling bermusuhan malah semakin dekat karena adanya anak yang menyatukan mereka walau tidak dalam konteks pasangan, Ellina dan Edgar sudah sangat bahagia, setidaknya mereka bisa saling memiliki dan menyayangi Ernan dengan cara mereka sendiri.
‘’aku mencintaimu Ell, dan selamanya akan begitu’’
Ellina hanya tersenyum, tidak berani mengatakan hal itu seperti apa yang dilakukan Edgar.
‘’aku menyayangimu dan anak kita, dan selamanya akan begitu’’
‘’*aku juga menyayangimu dan anak kita, dan selamanya akan begitu*’’Batinnya.
‘’hmm papa Ilos besok akan pulang kan ma?’’
Ya, Iros seseorang yang pernah menolong Ellina saat dirinya dalam keterpurukan, Ellina dan Iros tidak menikah seperti tuduhan Edgar saat pertama kali bertemu kembali dengan Ellina, Iros hanya membantu Ellina dan karena Iros memiliki anak angkat bernama Gevo tidak ada salahnya jika bisa membuat Ellina bisa memberikan Gevo kasih sayang seorang ibu.
‘’ya, besok papa Iros akan pulang’’
‘’yeay…aku ingin jalan jalan bersama papa Ilos’’
‘’Ernan tidak ingin jalan jalan dengan papa, padahal besok papa libur kerja?’’kecewa Edgar.
‘’hmm….ya sudah kita jalan jalan bersama’’
Jika sudah begini Ellina kesal, pernah beberapa kali mereka jalan bersama dimana ada dua laki laki tampan yang masing masing menggendong anak berumur 7 tahun dan 2 tahun dan Ellina berada ditengah tengah mereka yang terkadang sambil menyuapi kedua anak itu, Ellina merasa seperti poliandri padahal dirinya seorang janda yang tidak kembali menikah.
‘’kenapa mukamu kesal seperti itu Ell, kau tidak senang kita jalan bersama?’’
Edgar memang cemburu dengan kedekatan Ellina dengan Iros tapi Edgar tidak egois dan dia masih mengingat Iros menjaga Ellinanya saat pergi darinya dulu.
‘’aku suka kita jalan bersama tapi ayolah aku seperti seorang wanita yang poliandri’’
‘’kau mau?aku rasa aku bisa berbagi dengan Iros’’
Bugh…bugh…
‘’jangan gila Ed’’
‘’pukulanmu sangat hebat sayang’’
Dan disinilah mereka, hari ini Iros pulang dari Irlandia untuk mengurus pekerjaannya, berada difood court dengan lima kursi yang diisi oleh Edgar, Iros, Gevo, Ernan dan Ellina. Banyak orang yang melihat mereka dan selalu tertuju pada Ellina.
‘’biarkan mereka Ell’’ucap Edgar.
‘’kenapa?memangnya ada apa?’’tanya Iros.
‘’Ellina terlihat seperti seorang wanita poliandri’’
‘’enough Ed’’
‘’uwow…benar juga, kau dikelilingi dua laki laki dewasa super tampan dan dua bocah lucu yang tidak kalah tampan’’
Ellina memutar bola matanya kesal, Iros dan rasa kepercayaan dirinya yang over dosis tidak ada habisnya.
Ellina melihat mereka semua dan tersenyum
’’terimakasih sudah membuatku memiliki kalian semua’’
‘’we love you Ell’’
‘’ya, we love you mom’’tambah Iros.
Mereka memiliki cara tersendiri untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri, tanpa harus bersatu yang akan saling menyakiti. Begitulah cinta, semuanya akan berakhir bahagia walau tidak bersama, berakhir menyenangkan walau tidak bersatu dan penuh dengan tawa walau tidak menatap setiap saat. Edgar akan selalu pada perasaannya terhadap wanita ini tanpa bisa hilang dan Ellina juga akn terus mencintai Edgar dalam hatinya dan itu tidak akan pernah hilang dan menyayangi Iros dengan setulus hatinya.
END