Set Me Free

Set Me Free
Episode 21



''DARAH!!''


Teriakan seorang pelayan dibelakang Ellina menggema, membuat Edgar memusatkan pada lantai dibawah kaki Ellina sudah bercecer cairan berwarna merah.


''ada apa Ed??''


Edgar maju untuk meraih Ellina dan menghentikan aksi gila wanita itu tapi lagi lagi Ellina mundur.


''jangan gila Ell!!''


''kenapa?aku tidak bodoh Ed dengan menyerahkan diriku untuk kesenangan dirimu dan balas dendam bodohmu itu, jika kau tidak sanggup untuk membunuhku, aku dengan senang hati melakukannya sendiri''


Darah sudah mengalir dengan deras dan pisau makan yang Ellina gunakan sudah terjatuh entah kemana dengan banyak darah dipisau dan tangan Ellina, pandangannya sudah kabur dan tidak jelas, dia tau darahnya sudah cukup banyak terbuang sia sia, dia siap bertemu kegelapan dan tidak pernah bertemu dengan cahaya lagi.


''Ellina!!''


Jangan menyalahkan Ellina akan aksi gilanya itu, dia sudah terlalu sering melakukan hal yang akan merenggut nyawanya hanya saja Tuhan masih belum memberinya jalan dan kali ini dia berharap Tuhan merestui aksinya karena dia sudah tidak kuat jika terus berada posisi seperti ini.


Ini sudah hari kedua setelah Ellina melakukan aksi bunuh diri, Edgar tidak bergerak sama sekali, dia terus berada disamping Ellina berharap wanita ini akan segera sadar, jangan ditanya dia benar benar kekurangan darah dan jika Edgar menuruti macetnya jalan dan menunggu mobilnya berjalan ditengah macet dia benar benar akan kehilangan wanitanya, jika saja Edgar tidak menggendong Ellina dan berlari menuju rumah sakit disaat macet melanda berakhir sudah semuanya.


''tuan anda harus istirahat''


''pergilah Will jika kau terus mengatakan itu''


Entah sudah seperti apa penampilan Edgar, tidak mandi, tidak mengganti pakaiannya, tidak mencukur rambut halus disekitar rahangnya, tidak kekantor, dan hanya makan sedikit, tidak...dia tidak khawatir hanya saja dia tidak mau dituntut karena membunuh istrinya sendiri.


Bohong, kau mengkhawatirkannya


''batin sialan''


Bahkan pakaian yang dibawa Willypun tidak dia pakai, Edgar takut saat dia mandi Ellina malah terbangun.


Tok...tok


''maaf tuan tapi ada masalah dikantor''


''apa kau tidak bisa mengurusnya''


''tapi ini mengenai proyek kerjasama dengan perusahaan Swedia''


''shitt!!tidak bisakah mereka membahas itu nanti, pergilah aku akan mandi terlebih dahulu''


''baik''


Ellina memang terlahir menjadi sosok yang kuat, sebenarnya dia sudah bangun saat operasi penjahitan nadinya sejam yang lalu selesai, itu artinya dia sudah sadar dari kemarin hanya saja dia tidak mau melihat wajah laki laki itu dan menunggunya hingga pergi, bahkan Ellina tidak tau apa yang dilakukan Edgar sampai tidak mau beranjak dari kursinya, mengenggam tangan Ellina dengan erat memberi kesan hangat dan nyaman bahkan ketika laki laki itu sudah menyiksa Ellina sekalipun.


''aku mewakili mama untuk meminta maaf Ed tapi kelakuanmu padaku tidak bisa aku terima, ini begitu menyakitkan untukku''


Setelah dirasa keadaan aman, Ellina beranjak dari tidurnya, tubuhnya yang tidak bergerak selama hampir 2 hari penuh membuat sedikit kram disekitar ototnya, melepas jarum infuse dan segera pergi dari kamar ini sebelum laki laki itu kembali.


Edgar sudah bersiap untuk meningalkan rumah sakit setelah dirasa handphonenya tertinggal dinakas ruangan inap Ellina.


''tunggu Will, aku meninggalkan handphoneku''


''perlu saya ambilkan tuan''


''tidak, tunggulan disini''


Ellina tidak berlari, dia takut menimbulkan kecurigaan orang orang yang lalu lalang dirumah sakit ini, tangannya sudah bergetar hebat takut ada yang mengenalinya.


''Ellina?''


Edgar masuk kedalam kamar yang beberapa menit yang lalu dia tinggalkan dan dia tidak melihat wanita itu tertidur dikasurnya, dia hanya melihat infuse yang dibuka dengan paksa sehingga meninggalkan bekas darah.


''mama aku sayang banget sama mama, jadi aku mau sembuh''


Ellina berhenti berjalan ketika mendengar suara anak kecil disampingnya, melihatnya yang sedang memeluk wanita paruh baya yang dia yakini adalah mamanya, Ellina teringat dulu keluarganya begitu bahagia seperti halnya anak itu.


Kembali berjalan hingga dia sudah melihat pintu utama rumah sakit ini, sebentar lagi dia akan bebas dan pergi dari laki laki bak dewa pencabut nyawa itu.


''ELLINA!!''


Ellina tersentak dan berhenti ketika suara yang sangat dia kenal belakangan ini, menoleh dan benar saja laki laki itu berdiri tidak jauh dari Ellina dengan penampilan acak acakan dan nafas sedikit tersenggal, Ellina takut dan dia langsung berlari menabrak orang didepannya hingga melewati pintu utama berharap Edgar tidak menangkapnya, menoleh kebelakang sambil terus berlari dan melihat apakah laki laki itu masih mengejar Ellina dan ben...


Nyiiitt


Brakk


''Aaaa.....''


Teriakan orang orang dan suara keras itu menghentikan laju Edgar, wanita yang baru beberapa menit dia tinggalkan sedang tergeletak tidak bergerak dengan darah disekita tubuhnya.


''tidak..tidak...ini tidak mungkin...''


Kembali berlari dan membelah orang orang yang sudah mengelilingi tubuh Ellina, terjatuh disamping tubuh Ellina yang penuh dengan darah, Edgar bergetar hebat melihat kejadian ini tepat didepannya, meraih kepala Ellina berharap wanita ini membuka matanya dan bertahan sebentar saja.


''tidak...Ell...aku mohon jangan seperti ini...tidak...''


Para medis datang dan mencoba membujuk Edgar untuk melepaskan Ellina agar segera dibawa kedalam untuk pemeriksaan dan penanganan.


''maaf tuan anda membuang waktu, kita harus segera menolongnya''


Kini Edgar kembali berada diruang tunggu operasi, bedanya 2 hari yang lalu dia berada diruang tunggu operasi ringan tapi kali ini dia menunggu didepan ruang gawat darurat, sungguh dia begitu bodoh, seharusnya dia tidak mengejar Ellina saat itu tapi dia tidak ingin membuat Ellinanya pergi.


Sudah hampir 5 jam operasi berlangsung tapi masih belum ada tanda tanda dokter keluar dari ruangan terkutuk itu.


''tuan saya yakin istri anda akan baik baik saja''


''seharusnya aku tidak meninggalkannya''


''maaf tuan, saya menyesal''


''seharusnya aku tidak mengejarnya dan dia tidak akan lari ketakutan''


''saya menyesal tuan''


''seharunya aku tetap disampingnya, aku bodoh meninggalkannya''


1000 penyesalanpun tidak akan membuat waktu berjalan mundur, yang mereka lakukan hanya pasrah jika tuhan masih berbaik hati.


''apa tuan masih memikirkan balas dendam itu setelah nyonya Ellina sadar?''


Pertannyaan Willy seakan kembali pada kenyataan jika Edgar adalah laki laki brengsek perusak kehidupan seorang Ellina.


''aku tidak tau''


Ya, Edgar tidak akan pernah tau apa yang akan dia lakukan setelah ini yang ada diotaknya hanya keselamatan Ellina.


''keluarga pasien?''


Edgar langsung tersentak dari lamunannya, melihat laki laki paruh baya dengan seragam berwarna hijau khas rumah sakit, masker yang sudah melorot dilehernya tidak lupa sarung tangan silicon yang baru saja dibukanya.


''saya dok, saya suaminya''


''kita bicara diruangan saya''