
''I can't''
''tinggalkan aku jika itu untuk kebahagiaanmu''
''jangan bodoh Ell kamu juga kebahagiaan aku''
''kebahagiaan tidak membuat yang disayanginya menjauh Daren, aku enggak mau hubungan kamu dengan keluarga kamu menjauh karena aku itu sama saja menumbuhkan rasa bersalah ke aku Ren, I m oke, aku akan mulai bekerja besok''
''bekerja?''
''yup, jadi berhenti membiayai hidupku dan aku tidak akan kembali ke club malam lagi''
''promise?''
''ya, I am promise''
''kau akan bekerja dimana?''
''Daren, cobalah untuk sedikit menjauh dariku dan lebih pentingkan dirimu dan keluargamu, bukan aku melarangmu untuk menemuiku dan membuat kita menjauh tapi aku mencoba untuk menjalani hidupku sendiri, sudah sangat cukup perhatian kamu selama ini''
''aku Cuma takut...''
''kerjaan aku halal kok, 100%''
Daren tersenyum, dia sangat khawatir dengan Ellina tapi dia perlahan sadar Ellina akan bersikap dewasa entah itu kapan.
''janji untuk kasih kabar ke aku, kalo ada apa apa langsung kasih tau aku, oke''
''siap kapten''
Ellina hormat layaknya prajurit, dia tersenyum tapi dalam hatinya sangat berat meninggalkan laki laki yang sudah cukup lama menghabiskan waktu bersamanya dan kini perlahan mereka akan saling menjauh.
''ya udah aku harus siap siap buat kerja besok''
''oke, jaga diri baik baik''
''hm''
Daren pergi dan Ellina harus kembali menyusun kebohongan selanjutnya, sejujurnya Ellina tidak bekerja dia hanya takut Daren memicu pertengkaran dengan keluarganya lagi, lagi dan lagi karena Ellina, mungkin ini yang terbaik pikir Ellina.
''kerja?''
Ellina berhenti melangkahkan kakinya saat suara itu kembali terdengar ditelinganya.
''kamu enggak perlu buat kebohongan itu babe''
Ellina memutar bola matanya saat tau siapa yang tengah menganggu dirinya, lagi lagi laki laki bernama Edgar itu muncul disaat yang tidak tepat.
''sana pergi''
''babe enggak seharusnya kamu bohongin Daren tentang kalo kamu udah kerja''
''stop panggil aku babe''
''bukannya kita udah pacaran ya''
Ellina menatap tajam laki laki dibelakangnya itu, meneliti sebuah canda dibalik matanya itu.
''kapan aku bilang kalo kita pacaran''
''nah itu kamu baru aja bilang''
Ellina menggeram kesal, laki laki ini benar benar membuat hidupnya tidak tenang.
''apa niatmu mendekatiku tuan?''
''tidak ada, hanya melindungi kekasihku saja''
''huft...dengar tuan Edgar, apa mudah bagimu langsung jatuh cinta pada seseorang yang baru beberapa hari kau temui?''
''love at firt sight''
''apa?jangan bodoh itu hanya omong kosong''
'tidak, dulu aku memang tidak percaya tapi saat pertama kali melihatmu yang akan bunuh diri entah apa yang membuatku ingin melindungimu''
''kau tau sepasang kekasih adalah ketika seorang wanita dan laki laki saling mencintai, sedangkan kita, hanya kau saja yang mencintaiku dan aku tidak''
''bertepuk sebelah tangah, eh?''
''oh ayolah, jangan mempersulitku''
''tenang saja babe aku akan membuatmu mencintaiku, bukankah cinta datang karena terbiasa jadi mulai saat ini aku akan terus berada disampingmu''
Ellina menyerah, berbicara dengan laki laki ini sama saja membuat dirinya mati perlahan lahan.
''tidak, kau cukup menjadi kekasihku dengan dirimu sendiri bukan sebagai orang lain, percayalah babe menjadi diri sendiri jauh lebih baik''
''baiklah sepertinya kita membutuhkan café untuk introgasi''
''introgasi?''
Ellina berjalan menuju tempat yang tidak asing lagi dengan laki laki ini masih setia mengikuti dibelakang.
''silahkan duduk''
Ellina memanggil pelayan dan memesan satu green tea dan black coffe untuk dirinya.
''wah suatu kemajuan, bahkan kau ingat aku suka green tea''
''lupakan, jadi ceritakan tentang dirimu''
''tentang diriku?''
''yap, aku tidak mau menjadi wanita yang tidak mengenal 'kekasihnya' walau kau kekasih dalam tanda kutip''
Ellina memeragakan jarinya seperti tanda kutip disamping kepalanya.
''baiklah, namaku Edgar Devo Switlog, aku bekerja disebuah perusahaan ternama...mungkin dengan gaji yang cukup, aku tingal disebuah masion yang dekat dengan kantor, aku punya 2 adik perempuan bernama Gevany dan Crely, aku lulusan Harvard University dengan nilai yg cukup baik, lulus dan bekerja kemudian aku menjadi kekasihmu, umurku...haruskah aku juga mengatakannya?''
Ellina mengangguk pasti.
''umurku 28 tahun''
''baiklah tuan Switlog, sepertinya tidak ada yang mencurigakan tentang kehidupanmu, tapi sepertinya aku tetap harus waspada''
''jadi ceritakan tentang dirimu juga''
''bukan cerita yang bagus''
''hey ayolah, ini tidak adil, aku akan tetap mendengarkanmu babe''
''baiklah...huft...namaku Ellina Wetzel .G. jangan bertanya apa kepanjangan dari huruf belakang namanku karena aku tidak akan menceritakannya, aku tidak bekerja dan aku memiliki sahabat bernama Daren, aku mengenalnya semenjak 3 tahun yang lalu dan kita sangat dekat, selesai''
Edgar menganga, dia melongo tentang cerita Ellina yang hanya sebatas umum saja, bahkan Edgar tau semua itu.
''babe, kau tidak adil''
''Ed...bukankah aku sudah bilang, ceritaku hidupku tidak bagus dan aku masih belum mempecayaimu, aku berharap punya cerita kehidupan normal yang bisa aku ceritakan pada orang lain''
Raut muka Ellina berubah sedih, Edgar menyadari hal itu dan langsung tersenyum dan mengenggam tangan Ellina yang dingin dan basah karena keringat.
''hey...jangan terlalu memaksa, baiklah kita sudahi introgasi kali ini dan kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih''
Ellina memutar bola matanya saat laki laki ini mengatakan sepasang kekasih, menurutnya itu kata kata yang paling menjijikan.
''hey kau belum mengakuinya babe''
''baiklah, kita sepasang....kekasih''
''oke deal''
Pesanan datang dan mereka hanyut dalam damai yang sedikit canggung itu, tidak tau harus mengatakan apa lagi.
''hmm...Ell, apa kau suka music?''
''hmm...ya, ada apa?''
''tidak, jika kau memang ingin bekerja aku memiliki teman, dia mempunyai café yang cukup bagus, mungkin kau bisa bekerja disana dengan bermain music atau...bernyanyi mungkin''
''benarkah?''
''ya''
''aku bisa bermain piano dan bernyanyi, aku rasa suaraku tidak terlalu buruk, apa tidak merepotkan?''
''hey kau ingat beberapa menit yang lalu kita sudah sepakat menjadi seorang kekasih''
''baiklah, kapan kau akan mengatakan pada temanmu?''
''besok bagaimana?''
''besok...baiklah''
''oke aku jemput''
Ellina tersenyum, dia berfikir laki laki ini tidak terlalu buruk untuk menemani dirinya setelah Daren tidak terlalu peduli lagi dengan hidupnya.
''kau tidak diharapkan, gadis bodoh...pergi dari dunia ini, kau tidak pantas...PERGI!!DAS....''