Set Me Free

Set Me Free
Episode 24



Eh?


''pacaran?''


''iya, pacaran''


''hmm...habiskan dulu sarapanmu Ell''


''jawab saja''


''kau lupa dokter...''


''iya, tidak boleh terlalu memikirkan dulu''


''gadis pintar''


''ck''


Setelah hampir 1 minggu Ellina dirawat intensif hari ini dia bisa kembali pulang kemasion Edgar, dan seminggu juga Edgar tidak kekantor karena Ellina yang manja luar biasa, setiap hari disuguhkan dengan kata kata manja Ellina dan sikapnya yang membuat Edgar menganga.


''huft...akhirnya pulang juga, aku penasaran seperti apa rumah kita''


Walaupun masih ada perban ditangan kanannya dan pelipisnya Ellina sudah boleh pulang dengan rawat jalan, dia bahkan terus memaksa Edgar untuk berbicara pada dokter untuk memperbolehkannya pulang. Memang tidak ada yang parah dengan kondisi kakinya, mengejutkan padahal saat kecelakaan Ellina berlari kencang hingga sebuah mobil menabraknya


''ayo''ajak Edgar.


''ayo''


Bahkan semangatnyapun masih sangat hebat, jika saja Ellina tidak lupa ingatan mungkin saat ini mereka sedang adu mulut penuh emosi yang berakhir dengan percintaan yang kasar, memikirkan itu Edgar bergidik ngeri tidak menyangka dia melakukan hal itu.


''kita sampai diparkiran, naiklah''


Ellina bahkan masih kagum ketika Edgar memperkenalkan Willy sebagai tangan kanan suaminya dan anak buah Willy sekaligus bodyguard Edgar begitu banyak dan sekarang saat mereka pulang mereka menaiki mobil mewah dengan dikawal 2 mobil didepan dan satu mobil dibelakang, Ellina yakin suaminya benar benar kaya raya.


''aku tidak menyangka kau sekaya ini''


''benarkah?''


''hmm...kau bilang juga menekuni beberap hotel''


''hmm''


''berapa banyak''


''apa?''


''berapa banyak hotel yang kau kelolah sayang''


''tidak banyak, hanya sekitar 35 bisa kurang bisa lebih''


''APA!!''


Edgar menjauh mendengar suara melengking Ellina.


''pelankah suaramu Ell''


''kau bilang tidak banyak, itu sangat banyak sayang, aku tidak bisa membayangkan seberapa banyak kekayaanmu''


''kenapa?kau sedang merencanakan menghabiskan uang suamimu ini, eh?''goda Edgar yang masih terus berpusat pada ipadnya.


''mungkin''


Jawaban Ellina sontak membuatnya menoleh dengan kaget, apakah Ellina yang sekarang berubah menjadi wanita sosialita matrealistis dengan membeli perhiasan mewah dan barang bermerek, tidak...bukan pelit atau tidak mampu, bahkan Edgar akan memberinya dengan cuma cuma hanya saja ini aneh.


''silahkan saja, aku yakin tidak akan habis''


''aku tidak sabar''


Tidak lama mereka sampai, mungkin bagi mereka tidak asing tapi bagi Ellina dia langsung ternganga dan diam terus memperhatikan.


''kau akan terus diam disitu?''


''ini...ini rumah kita?''


''lebih tepatnya masion, cepatlah''


Ellina turun, jika saja Edgar tidak menariknya mungkin Ellina akan tetap mematung memperhatikan masion ini.


''selamat datang kembali nona, kami senang anda baik baik saja''


Memang semua pelayan sudah tau keadaan Ellina yang lupa ingatan, tapi mereka masih yakin nonanya tidak berubah menjadi seseorang yang menakutkan.


''kalian...''


''kami pelayan dimasion ini''


''bahkan jumlahnya tidak bisa aku hitung, laki laki itu benar benar membuang uangnya dengan percuma''


''aku senang bisa pulang''


Ellina memeluk pelayan satu persatu membuat mereka semua terkejut bukan main dan melihat itu Edgar langsung menarik Ellina.


''kau harus istirahat''


''benar, aku akan istirahat''


''baik nona, selamat istirahat''


Para pelayan meninggalkan mereka berdua.


''dimana kamar kita?''


''kita?''


''iya, jangan bersikap seolah olah kita tidak tidur dalam kamar yang sama sayang, jangan seperti sinetron murahan''


Tidak, Edgar bukan kaget dengan hal itu nyatanya mereka berdua memang tidur dalam satu kamar tapi mendengar Ellina menyebut 'kamar kita' menghasilkan kesan aneh dalam benak Edgar.


''aku akan menunjukkannya''


''ini kamar kita''


''wah...aku benar benar tidak menyangka''


''istirahatlah, aku ada urusan dikantor''


''baiklah, kau pulang jam berapa sayang''


''hmm..entahlah, mungkin malam''


''aku akan siapkan makan malam, jadi jangan pulang terlambat''


''bukankah ada pembantu yang melakukannya''


''aish...aku tidak mau jadi istri yang hanya duduk manis, aku juga mau menghidangkan makanan kesukaanmu''


''terserah kau saja''


''bye sayang''


Edgar memutar matanya kesal, Ellina benar membuat dirinya merasa aneh.


''Ell...bisakah panggilanmu itu kau ubah?''


''kenapa?memang dulunya kita saling memanggil dengan sebutan apa, honey?baby?mama?my other half hmm...''


''stop, itu semua menjijikan''


''benar juga, tapi menurutku romantis, tapi sayang juga lebih sederhana''


''terserah kau saja''


Edgar memutuskan untuk kekantor, berada dimasionnya benar benar akan membuat dirinya gila.


''bagaimana keadaan nyonya, tuan?''


''aku benar benar tidak habis fikir Will, dia berubah sangat drastis''


''benarkah?''


''hmm...sikap manjanya dan wajah bahagianya benar benar membuatku kelimpungan''


''bukankah itu hal yang baik''


''jangan menggodaku Wil''


''jadi apa rencana tuan selanjutnya?''


''entahlah, aku hanya berharap ingatannya tidak pernah datang, jika saja dia amnesia permanen''


''jadi anda menyukai nyonya Ellina yang manja dengan wajah bahagianya''


''entahlah, tapi terkadang aku juga merasa kesal''


''saya jadi tidak sabar menemui nyonya''


''jangan menggodanya Will, dia istriku''


Willy tertawa dala diam, dia tau tuannya tidak pernah serius akan cintanya yang hilang karena dendamnya itu, nyatanya Edgar masih khawatir dengan Ellina.


Ellina hanya tidur beberapa menit, dia tidak mau makan malam yang sudah dia janjikan tidak tepat waktu.


''nona biar kami saja yang melakukannya''


''tidak apa, aku bisa''


''tapi...''


''apa aku yang dulu tidak pernah menyiapkan suamiku makanan?''


Pelayan itu diam, mereka tidak tau harus mengatakan apa.


''anda bisa memanggil saya jika perlu sesuatu''


Lebih baik menghindar dan mengalah dari pada nyonyanya itu terus memberondong dengan berbagai pertanyaan 'aku yang dulu' membuat mereka bingung setengah mati.


Menyiapkan makan malam tidak terlalu susah, Ellina tidak tau dari mana hobi masaknya ini berasal, sepertinya dia harus segera menanyakan hal ini kepada orang tuanya atau mertuanya.


''nona, tuan sudah pulang''


Tepat setelah sentuhan terakhir makan malam suaminya pulang, beranjak dan melihat Edgar dengan penampilan yang tidak rapi lagi.


''kau sudah pulang''


''hmm''


Berdiri didepan Edgar dan membuka jasnya, Ellina tau menjadi seorang CEO adalah hal yang berat, melihat itu Edgar hanya pasrah sepertinya Ellina sedang memainkan peran menjadi istri yang patuh.


''aku akan siapkan air hangat, mandilah lalu kita makan malam bersama''


''hmm''


Ellina menyipakan air hangat dan baju santai untuk Edgar, kembali turun dan tinggal menunggu Edgar dimeja makan. Edgar sudah siap turun tapi dia tidak tau apa lagi kejutan yang akan diberikan Ellina padanya.


''sudah selesai?''


''hm''


''duduklah''


Mereka makan dengan raut Ellina yang bahagia tapi tidak dengan Edgar, dia was was menanti Ellina yang akan melakukan hal gila apa lagi.


''sayang, aku tidak melihat mama dan papa waktu aku dirumah sakit dan orang tuamu juga, apa mereka sibuk?''


''uhuk...uhuk...''