
''Gev?''
Gadis yang Edgar panggil dengan Gev tetap diam tanpa kata, pikirannya menerawan kapan adiknya ini dapat kembali normal.
''maafkan kakak yang lama tidak mengunjungimu, aku sudah menemukan gadis itu sayang dan aku akan membuatnya merasakan apa itu kesakitan jadi kembalilah Gev, kakak merindukanmu''
Edgar memilih kembali, dia tidak tahan melihat pemandangan yang menyayat hatinya, memang Crely sudah menganggapkan sebagai kakak tapi seakan kenangan indah mereka terhapuskan tapi Edgar bersyukur karena Crely tidak mengingat memori yang menyakitkan itu disaat keluarganya hancur dan saat Crely bertanya dimana orang tuanya Edgar hanya menjawab mereka sudah bahagia disyurga tanpa mengatakan apa yang menyebabkan mereka pergi dengan cepat sedangkan Gevany kondisinya masih tetap tanpa peningkatan sama sekali.
''kita pulang''
''baik tuan''
Edgar pulang dan melihat wanitanya itu tertidur dengan lelap, pergi mandi dan ikut berbaring disamping wanitanya itu dan menariknya agar lebih dekat, sunggu tidak Edgar pungkiri setelah dia menikah dengan Ellina dan mereka tidur dalam satu kasur membuat Edgar tidur dengan nyenyak seakan masalahnya menguap begitu saja, bangun dipagi hari dan melihat seoang wanita yang sudah menjadi istrinya tidur dengan lelap membuat Edgar beberap detik melupakan jika wanita ini objek balas dendamnya tapi beberapa malam yang lalu dia melihat sisi lain dari wanitanya itu, tertidur dengan tidak tenang yang Edga yakini adalah sebuah mimpi buruk.
''apa jika kau mati aku akan hidup tenang dan jawabannya adalah tidak, apa jika aku menyiksamu seperti ini akan membuatku merasa puas dan jawabannya...tentu tidak''
Ellinanya tetaplah miliknya yang tidak akan pernah berubah, tetap wanita yang dia cintai tapi seakan egonya memimpin yang membuat wanitanya itu tersakiti akibat ulahnya.
''nona bangun''
Ellina perlahan membuka matanya, hari sudah mulai gelap dan dia tertidur cukup lama tanpa mimpi itu.
''tuan menunggu anda dibawah''
''aku akan mandi dulu''
Setelah mandi Ellina langsung turun kebawah dengan perasaan takut, melihat laki laki itu yang sedang sibuk dengan telephone pintarnya.
''Ed?''
''duduk!''
Ellina duduk didepan laki laki yang kini menatapnya saja tidak, hanya aura yang tidak menyenangkan yang dia keluarkan.
''makan makanan mu''
Mereka makan malam dalam diam, Ellina yakin setelah mereka selesai makan Edgar akan mengatakan sesuatu yang mungkin kembali menjadi sesuatu yang buruk bagi Ellina.
''jangan pernah lupa untuk meminum obatmu, aku sudah mengatakan tidak mau memiliki bayi dari rahimmu itu''
Ellina tersenyum miris, dari pagi tadi Ellina sudah tau jika obat yang diminumnya pagi tadi adalah pil kontrasespi.
''aku tau, aku juga mendukungmu, aku juga tidak mau memiliki anak yang aku takutkan dia membenci orang tuanya, mamanya yang bodoh dan lemah dan papanya yang kejam, aku tidak mau nanti anakku juga menanggung dosa seseorang, tersiksa karena perbuatan orang lain...like as me''
''JAGA MULUTMU JALANG!!''
''aku sudah kenyang''
Berdiri dari kursinya dan langsung mendapat sambutan sebuah cengkraman dilengan kanannya dan...
Plakk
''jaga bicaramu''
''apa aku salah?''
Pipi yang sudah memerah belum lagi darah diujung bibir yang awalnya memang sudah sobek akibat tamparan Edgar beberapa waktu yang lalu kini semakin parah.
''sepertinya kau merindukan sesuatu sayang''
Menarik rambut Ellina dengan tidak manusiawi dan membawanya kekamar mereka, menghempaskan tubuh Ellina dikasur dan kejadian dimalam itu terjadi lagi, menyetubuhi Ellina dengan tidak lembut seaka teriakan kesakitan yang Ellina keluarkan adalah nyanyian merdu bagi Edgar.
Melakukan berulang kali hingga tubuh Ellina kelelahan luar biasa dan bergetar hebat, setelah Edgar merasa puas kembali memakai pakaiannya dan pergi meninggalkan istrinya itu layaknya seorang jalang.
''like a *****''
Kalimat terakhir Edgar yang dia dengar yang kemudian laki laki itu pergi yang entah kemana.
''huek...huek...''
Pelayan yang mendengar hal itu langsung berlari menuju kamar nyonya dan tuannya, melihat kini seorang wanita berada diwastafel dengan wajah pucat.
''nona apa yang terjadi''
''aku tidak tau''
''bukankah anda hanya sarapan sereal dan fresh milk?''
''sepertinya aku hanya mas...''
''ada apa!!''
Laki laki itu datang dengan membuka pintu dengan tidak sabaran, melihat istrinya yang lemas dan pucat.
''saya tidak tau tuan, nona muntah muntah padahal pagi tadi hanya sarapan sereal dan fresh milk saja''
Edgar menggelengkan kepalanya, dia takut sesuatu yang dia takuti terjadi dan jika itu benar Edgar tidak segan segan membuatnya kehilangan hal itu.
''panggil dokter Frans''
''baik tuan''
Ellina berbaring dikasurnya beberapa menit kemudian dokter yang pernah memeriksa Ellina datang, tersenyum sebelum pergi dari kamar itu dan menemui sang tuan rumah.
Ellina masih takut hal buruk terjadi tapi dia tidak memiliki perasaan hal apapun tentang ini.
''jaga dia''
''baik tuan''
Ellina kira Edga akan kembali menyiksanya dan menyuruhnya untuk melakukan hal yang buruk tapi yang dia lihat laki laki itu hanya memerintahnya pelayan untuk menjaga Ellina dan pergi entah kemana.
''tidak apa apa, ini hanya efek dari pil kontrasespinya, memang sebagian wanita merasakan hal ini dimana pil itu harus beradaptasi dengan keadaan yang berbeda, beberapa wanita memang harus merasakan muntah muntah bahkan ada beberapa yang sampai jatuh pingsan karena efek dari pil kontrasespi itu, tidak perlu khawatir beberapa hari mungkin keadaannya akan membaik''
Sungguh Edgar masih ingat kata kata dokter pribadinya itu, seakan sebuah bom nuklir yang siap meledak tapi beruntung bisa dijinakka hingga tidak terjadi ledakan.
Makan siang seorang diri setelah sebelumnya sang orang kepercayaan suaminya mengatakan jika Edgar akan pulang besok karena ada urusan pekerjaan diluar kota dan mendengar itu Ellina sangat bersyukur.
''keadaan nona beberapa waktu yang lalu baik baik saja, dokter Fran mengatakan jika kondisi anda normal dan itu karena efek dari pil kontrasepsi yang anda konsumsi setiap hari''
''syukurlah''
''eh...Will''panggil Ellina tidak yakin.
''iya nyonya''
''aku tau kau baik dan semua yang kau lakukan aku tau hanya tugasmu saja...''Ellina berhenti sejenak dan menatap laki laki yang kini berdiri didepannya dan memberikan senyum hangat untuknya.
''...aku tau kau tidak jahat, apa kau memiliki kekasih?''
''ya?eh...ya, kami sudah bertunangan dan akan merencanakan pernikahan''
Ellina tersenyum miris, dia sungguh iri mendengar hal itu.
''benarkah?aku turut senang, aku tau kau laki laki yang baik dan aku yakin kau bisa membuat gadismu bahagia, jangan pernah membuatnya menangis, percayalah air mata wanita yang tersiksa akan berdampak pada seseorang yang melakukan hal itu, percayalah air mata seorang wanita mahal harganya, kau harus membuatnya bahagia dan senang dan dia akan manangis terharu atau kau harus membuat dia tersiksa dengan berat dan membuatnya sakit hati dengan teramat buruk dan dia akan menangis dengan tersiksa, seorang wanita mudah menangis tapi jika itu menyiksa dirinya dia akan berusaha menahannya dan jika dia sudah meneteskan air mata itu adalah sesuatu yang benar benar menyakitkan untuknya''
Setelah diyakini makan malamnya habis dengan meneguk pil terkutuk itu Ellina berdiri dari kursinya, melihat laki laki itu dengan raut kebingungan dan masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja nyonyanya katakan.
''dia beruntung memilikmu''
Pergi menuju kamarnya hingga setetes air mata membasahi pipinya.
''percayalah seorang wanita yang menyimpan kesakitan akan selalu berusaha untuk tetap tersenyum''batin Ellina.