
''uhuk...uhuk...''
''astaga....ada apa, minum cepat''
Padalah Edgar baru saja akan memuji makanan Ellina tapi mendengar hal itu entah kenapa makanan ini seperti terasa hambar, apa pembantunya lupa membeli garam?bodoh.
''habiskan makan malammu Ell''
''baiklah''
Edgar memang sengaja memperlambat makannya, dia yakin setelah makan selesai Ellina pasti akan bertanya lagi.
''kau sudah selesai?biar aku yang bereskan''
Edgar tidak sadar jika piringnya sudah bersih, bukankah tadi dia bilang makanannya terasa hambar?entah Edgar kelaparan atau tidak konsentrasi dengan makanannya.
Setelah membereskan semuanya mereka berdua sedang duduk diruang keluarga, menunggu Edgar untuk menjawab pertanyaan yang sudah Ellina ulangi.
''Ed...''
''Ell, tidak bisakah kau istirahatkan dulu tubuh dan fikiranmu''
''tapi aku bingung Ed''
''baiklah apa yang mau kau tanyakan tapi aku tidak bertanggung jawab atas apa yang setelah itu terjadi''
''dimana orang tuaku dan keluargamu''
''papaku meninggal akibat kecelakaan, mama bunuh diri, adik pertamaku amnesi permanen dan adik keduaku depresi''
Kalimat itu keluar dengan lancar tanpa ada kendala apapun, biasanya Edgar akan merasa sesak jika membahas keluarganya tapi entah saat ada Ellina kekuatan itu datang.
''Ed...''
Ellina sudah berkaca kaca mendengar semua yang dikatakan suaminya itu, betapa berat kehidupan yang dilalui suaminya itu, tidak menyangka dia merasakannya seorang diri.
''kenapa kau menangis?''
''maaf Ed, pasti kau begitu berat menanggung semua ini, aku akan menjadi istri yang baik Ed dan selalu mendukungmu, membuatmu bahagia tentunya''
Edgar menarik ujung bibirnya, Ellina tidak tau jika yang membuat senyumnya tidak pernah terlihat lagi adalah suaminya sendiri dan sekarang Ellina akan membuat Edgar bahagia?
''lalu mama dan papaku?''
''Ell...''
Ellina diam melihat raut wajah Edgar yang sedikit membuatnya bingung, hingga ia mulai mengerti.
''apa mereka meningga juga?''
Skak!!!mati saja kau Ed...
''Ell...''
''benarkah, bukankah mereka bahagia dulu lalu apa yang terjadi, apa sebuah kecelakaan juga?''
''hmm...mungkin''
''hiks...hiks...''
''ya tuhan, Ell aku sudah mengatakan padamu''
''mereka...hiks....meninggalkanku...''
Edgar tidak tahan untuk tidak merengkuh Ellina dalam dekapannya, memeluk Ellina dengan erat yang masih terus menangis membasahi bajunya. Dari dulu Edgar sangat ingin memeluk Ellina saat sedang sedih tapi tidak karena egonya sangat tinggi tapi kali ini karena Ellina tidak ingat apapun mungkin sedikit membuat kelegaan bagi Edgar.
''cukup Ell...hidup kita sama sama berat, jika kau ingin membuatku bahagia begitupun denganku''
''Edgar bodoh''
''cukup, sebaiknya kita tidur oke''
''ide yang bagus, aku juga mengantuk''
Ya, jauh lebih baik jika mereka tidur dari pada Ellina yang terus bertanya dan membuat Edgar merasa bodoh.
''tidur dengan posisi yang benar Ell''
Tidak, bukan tidak suka, malah Edgar sangat suka tapi jika Ellina tidur dengan memeluk Edgar membuat Edgar tidak bisa tidur dengan menahan sesuatu dibalik celananya.
Shitt!!
''aku sudah nyaman sayang''
''huft...''
Ellina sudah hampir memejamkan matanya tapi entah dia merasa jika Edgar tidak nyaman dengan tubuh yang tegang.
''sayang kenapa kita masih belum memiliki anak''
''kau menginginkannya?''
''tentu saja, kau tidak?''
''aku juga''
''what are you fucking think Ed!!apa yang tengah ada dalam fikiran bodohmu Edgar, kau banyak membuat kebodohan dalam sehari''
''jadi...''
Ellina sudah siap dengan nada manjanya dan tangannya yang terus mengelus dada bidang Edgar membuat Edgar benar benar frustasi.
''kau menginginkannya kan sayang''
''apa?''
''jangan menahannya Ed, aku tau ka...hmmptt''
Edgar tidak tahan, bukankah Ellina juga memberinya lampu hijau, salahkan Ellina yang membuat dirinya begairah.
kau tidak akan menyakitinya dengan percintaan yang kasar lagi kan tuan Switlog?
Edgar masih terus berkonsentrasi dengan aktivitasnya dan tidak memusingkan apa bisikan batin sialannya itu, yang dia mau hanya Ellina.
Hingga malam itu mereka isi dengan malam yang panas dan desahan, entah sudah berapa kali tapi Edgar masih tidak puas, Ellinanya yang dulu atau sekarang tetap Ellinanya yang sanggup membuat Edgar terus menginginkannya. Malam ini adalah malam pertama dengan mereka yang saling menikmati satu sama lain, tanpa kekerasan atau tamparan seperti biasa.
''jangan gila!!kau bisa mati''
''memang itu yang aku inginkan''
''apa?berfikirlah jernih, jika kau mati keluargamu akan sedih, kekasihmu akan menangisi kekasihnya dan teman temanmu akan...''
''mama meninggal dunia dan papa masuk rumah sakit jiwa, kekasih?kau gila, tidak akan ada yang sudi memiliki kekasih yang menyedihkan sepertiku dan teman...aku tidak punya teman, kau puas''
''kau...maaf, aku tidak ber...''
Nafas yang sudah memburu dan keringat yang bercucuran belum lagi cengkaraman pada sepreinya.
''hey...Ell...wake up''
Edgar masih terus mengguncang tubuh Ellina yang sedari tadi tidak bisa tenang.
''hey cewek bunuh diri''
''ELLINA WAKE UP''