Set Me Free

Set Me Free
Episode 14



''huek...''


Ellina tidak tahan, dia langsung berlari menuju kamarnya dan masuk kedalam kamar mandi, memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.


''ya tuhan nona, anda sakit?''


''huek...huek''


Sungguh tenaga Ellina terkuras habis, badannya lemas dan wajahnya pucat.


''anda masuk angin?''


''tidak, aku tidak biasa sarapan dengan menu yang berat''


''ya tuhan, seharusnya anda mengatakan hal itu''


Ellina tersenyum miris, jangan bodoh dia masih ingat bahkan sangat ingat akibat dari kejujurannya itu.


''dan tuanmu akan memarahiku lagi, dia bahkan tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi padaku''


Pelayan itu menunduk, dia tau tuannya tidak akan menerima alasan apapun.


''saya bantu anda untuk istirahat''


Pelayan itu membantu Ellina berdiri dan menuju kasurnya.


''ada apa''


Bahkan suara itu tidak menyiratkan kekhawatiran sama sekali.


''maaf tuan, sepertinya nona tidak bisa sarapan dengan menu yang berat dan dia muntah''


Edgar mengerutkan dahinya, dia ingat pernah membujuk Ellina dengan sarapan omellete dan apa waktu itu gadis itu memuntahkan sarapannya juga Edgar sedang memikirkan hal itu.


''oh''


Lalu, Edgar pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun, bekerja dan meninggalkan gadis malang itu seorang diri didalam kamar.


Ellina menatap kosong pemandangan dijendela dalam kamarnya, bahkan Ellina sudah tidak tau seperti apa rasanya semilir angin diluar sana, Edgar benar benar membuatnya seperti tawanan. Ellina terus berfikir kapan hidupnya berubah, padahal dia ingin sekali hidup bahagia setelah tuhan merebut semuanya tapi seakan dosa Ellina tidak terhapuskan dan kesalahan yang tidak termaafkan, kesakitan itu terus datang dan bertambah buruk.


''lihat ma, hal yang kau lakukan dulu dan kesalahan yang kau perbuat dengan bahagia berdampak pada anak satu satunya yang kau miliki, aku bahkan harus merasakan semuanya seorang diri ma, kau bahkan tidak pernah datang dan membantuku untuk keluar dari penderitaan yang kau ciptakan sendiri, kepada siapa aku harus menyalahkan semua ini ma, bisakan aku merasakan kebahagiaan sebentar saja sebelum aku pergi menyusulmu?''


''besok aku akan menikah ma, kau bahagiakan melihat anakmu ini akan menikah dengan seorang laki laki yang pernah...aku cintai tapi seakan cintanya hilang saat tau aku tidak beruntung dengan lahir dari rahimmu ma''


Ellina tersenyum miris ditengah tengah air matanya yang terus berlinang.


''dan laki laki itu menjanjikan sebuah pernikahan yang mewah dan megah, aku pernah bercerita pada mama jika aku menginginkan pernikahan yang mewah dan megah dan aku tidak akan melupakannya...dia, laki laki itu mengabulkannya ma, dia bahkan menyiapkan pernikahan kami dengan sangat baik, kau harus ingat ma saat aku menyusulmu nanti jangan pernah berharap aku mau menemuimu, kau...kau yang menyebabkan semua ini ma...hiks...hiks...setidaknya bantu aku...aku mohon''


Ellina merosot, duduk dengan kaki yang dia tekuk dan wajah yang dia sembunyikan dikedua lututnya, menangis meratapi nasibnya yang terus memburuk.


Tidak, Edgar tidak mau menepis jika dia tidak mendengar semuanya, semua yang baru saja gadis itu katakan dengan penuh kesakitan tapi yang Edgar lakukan hanya diam seakan hatinya menghilang, kebaikannya lenyap dan perasaannya terkubur dalam dalam, pergi dari kamar itu dan kembali melanjutkan apa yang sempat terhenti karena mendengar tangisan memilukan gadis yang dia kurung dalam rumahnya beberapa hari ini.


Hari ini hari pernikahan Ellina, dia sudah siap dengan gaun dan riasan yang melekat ditubuh dan wajahnya, meremas jari jari tangannya, dia grogi bahkan di hari pernikahan yang tidak dia inginkan. Ellina menatapa pantulan dirinya dicermin, sosok gadis dengan balutan gaun mewah sedang berdiri.


''nona bersiaplah''


Beberapa menit yang lalu mereka memang sudah sah menjadi sepasang suami istri dan Ellina sedang menunggu pesta itu dimulai. Sebuah pesta pernikahan digedung berbintang lima yang mewahnya tidak main main.


''nona silahkan''


Ellina berdiri dari kursinya, keluar dari ruangan rias itu dan melihat laki laki yang sedang bersandar dengan smartphone ditangannya.


''permisi tuan''


Seketika focus Edgar langsung tertuju pada gadis yang sudah beberapa menit yang lalu sah menjadi istrinya.


''ayo, kau harus tersenyum diluar sana dan jangan menimbulkan kecurigaan''


Mereka berjalan menuju gedung diadakannya pesta pernikahan seketika para tamu undangan langsung tertuju pada pasangan ini, terdengar bisik bisik dari sekeliling mereka.


''mereka sangat cocok''


''lihat pengantin wanitanya sangat cantik''


''wah mereka sangat serasi''


Ellina tersenyum miris tapi detik berikutnya dia menggantikan senyuman itu dengan senyuman manis bak perempuan yang sangat bahagia dihari sakralnya. Tidak lupa cahaya blitz yang dikeluarkan para wartawan yang terus mengabadikan momen penting ini.


''sebenarnya sepenting apa Edgar hingga banyak wartawan yang datang?''


Sungguh Edgar tidak main main, bahkan mereka sudah berdiri selama 6 jam untuk menyambut para tamu tapi seakan tamu tidak ada habis habisnya belum lagi sepatu sialan yang ingin membunuhnya dengan tinggi yang tidak main main, bukan tidak biasa menggunakan sepatu berhak 15 cm hanya saja ini melebihi batas waktu sewajarnya.


''baik''


Pelayan itu pergi setelah Edgar memerintahkan sesuatu padanya dan menit berikutnya dia datang dengan nampan berisi air putih.


''silahkan nona''


''terimakasih''


Ellina tau Edgar tidak akan membiarkannya mati kelelahan dan kehausan dihari pernikahan mereka ditambah Edgar masih belum puas membuat Ellina tersiksa.


''kau lelah?''


''aku baik baik saja''


Entah itu kekhawatiran atau hanya basa basi Ellina tidak memikirkannya, yang dia pikirkan saat ini adalah kapan acara ini berakhir dan tamu segera pergi.


''apa masih banyak?''


''apa''


''tamu''


''baru setengahnya''


Sungguh Ellina tidak tahan dan ini masih separuh dari tamu undangan dan Ellina ingin mati.


''kau lelah?''


Edgar ingin memastika istrinya ini tidak pingsan dihari penting terlebih banyak rekan kerja yang datang, dia tidak mau membuat malu dengan Ellina yang jatuh pingsan dihari pernikahannya.


jangan berbohong, aku tau kau mencemaskannya


''batin sialan!!''


''ada apa?''


''tidak''


Edgar tidak membuang waktu lagi, dia langsung membawa Ellina masuk kedalam ruang rias, mendudukkan Ellina didepan cermin dan membiarkan istrinya itu mengistirahatkan tubuhnya sedangkan laki laki itu berdiri didekat pintu dan mengeluarkan kotak kertas dan mengeluarkan isinya.


''kau merokok''


''hmm''


''itu tidak baik Ed''


Ellina bodoh, bahkan dia masih perhatian pada dewa pencabut nyawanya, siapa yang peduli jika rokok itu menggerogoti tubuhnya dan membuatnya mati, bukankah itu menguntungkan bagi Ellina untuk lepas dari Edgar.


''tidak, aku tidak setega itu, biarkan saja dia menyiksaku, bukankah itu juga kesalahanku''


''bukan urusanmu''


Ellina memilih diam, setidaknya dia sudah memperingatkan suaminya itu.


''kau butuh sesuatu untuk mengisi perutmu''


Ellina sempat ragu tapi dia tidak bisa berbohong akan hal itu


''mungkin...cake dengan rasa yang manis, tadi aku melihat beberapa cake dimeja buffet dan aku menginginkannya, bisakah?''


Edgar memalingkan wajahnya, dia tersenyum, tidak...bukan senyum yang dipaksakan tapi senyum yang biasa dia berikan pada gadisnya itu dulu.


''lihatlah Ed, dia tetap gadis yang kau temui dulu, dia tetap Ellinamu yang tidak bisa makanan makanan berat tapi suka hal yang manis''


''aku akan mintakan pada pelayan''


''tidak perlu Ed, biar aku saja''


''jangan membantah''


Edgar pergi dan beberapa menit kemudian dia datang dengan nampan berisi 5 sampai 7 jenis cake yang berbeda dengan rasa yang manis tidak lupas segelas fresh milk, melihat itu Ellina hampir saja meneteskan air liurnya.


''tutup mulutmu, air liurmu hampir saja menetes, kau menjijikan''


Ellina langsung menutup mulutnya, langsung mencicipi semua cake itu dan menghabiskannya dengan rakus.


''andai saja Ed kau tetap seperti ini''