Set Me Free

Set Me Free
Episode 17



''huh...huh...''


Nafas Ellina memburu, keringat yang bercucuran dan tubuh yang bergetar. Mimpi itu lagi tapi kali ini entah mimpi itu bukan hanya sepatah kalimat tapi bahkan Ellina dapat melihat mamanya dan...mama Edgar?


Edgar menatap Ellina yang masih bergetar hebat disampingnya, tangannya yang dingin, keringat yang bercucuran dan air mata...Ellinanya menangis.


''kau mimpi buruk''


''tidak, dia bersalah...dia yang menyebabkan aku seperti ini''gumam Ellina.


''hey tenangkan dirimu''


Ellina mentapa Edgar yan acak acakan khas orang bangun tidur dengan masih menggunakan setelan formal, melihat jam dinakas hingga dia terkejut sudah tidur selama itu, 6 jam.


Fikirannya masih terus berperang, mencoba tidak percaya tapi mimpi itu seakan tidak membiarkan Ellina tidur dengan nyenyak tapi jika dia percaya berarti mamanya tidak bersalah, tapi kenapa dia harus berselingkuh dengan laki laki yang sudah menyandang status suami orang.


''bersihkan dirimu, sebentar lagi kita akan makan malam''


''hmm''


Kini keduanya telah selesai membersihkan diri masing masing, makan malam dengan tenang tanpa pembicaraan apapun.


''jangan mengangguku malam ini hingga esok Will''


''baik tuan''


Padahal baru saja Ellina berfikir laki laki itu akan melepaskan Ellina setelah apa yang dilihatnya saat tidur siang tadi tapi dia langsung menepis fikirannya itu, tidak mungkin Edgar mau melepaskannya begitu saja.


''jika benar mama tidak bersalah apakah laki laki ini mau melepaskanku dan menerima kenyataan jika semua ini bukan kesalahan mama?''


Entahlah Ellina juga belum yakin akan hal itu.


Ellina melihat Willy membisikkan sesuatu pada tuannya itu lalu detik berikutnya Edgar mengangguk dan menatap tajam istrinya.


''kau bertemu Iros saat akan kembali kemari''


''i..iya Ed, hanya tidak sengaja''


''dan kalian memutuskan ingin bertemu lagi disebuah café''


''Ed, masalah itu memang benar tapi dia juga mengajakmu bukan hanya ak...''


''kau berniat selingkuh''


''tidak Ed sungguh, kami hanya bertemu dengan kebetulan''


''kenapa tidak mengatakannya padaku''


''aku lupa Ed sungguh''


Edgar memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis, Ellina dalam masalah.


''kau melupakannya dan kemudian kalian akan pergi berdua tanpaku begitu''


''tid...''


''wanita jalang, kau sama saja dengan ibumu, ikut aku''


Edgar menarik Ellina dengan keras, beberapa pelayan yang melihat itu hanya diam dan tidak menyangkan tuannya akan beebuat kejam pada seorang wanita dan Willy yang juga melihat itu menyesal memberitahukan tuannya itu.


Bruk


Menghempaskan tubuh Ellina kelantai tanpa belas kasihan sedikitpun, mencengkram kedua rahangnya dengan kuat hingga membuat Ellina meringis, air mata...jangan ditanya hal itu sudah sedari tadi membasahi pipi putih Ellina.


''wanita murahan''


Plak


Menarik rambut Ellina dengan kuat dan memaksanya untuk berdiri.


''maaf Ed''


''akan aku beritahu apa itu kesakitan''


Plakk


Menghempaskan tubuh Ellina kekasur, mencium bibirnya dengan brutal dan Edgar mengambil apa yang selama ini Ellina jaga, melakukannya dengan tidak lembut dan tanpa perasaan sedikitpun, Ellina berteriakpun sia sia karena laki laki itu seakan tidak mendengar apa apa.


Ellina baru tertidur saat jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi setelah Edgar menyetubuhinya dengan kasar bahkan laki laki itu hanya menikmatinya sendiri. Badan Ellina sangat pegal dan lengket dengan tanpa sehelai benangpun dan hanya selimut yang menutupi kedunya, Edgar tidur dibalik punggung Ellina dan melingkarkan tangannya pada perut polos Ellina. Pipinya memar dan merah akibat tamparan yang tidak sedikit dan darah diujung bibir yang mulai mengering membuat Ellina terlihat menyedihkan.


''kau jahat Ed...kau jahat dan aku membencimu..hiks...hiks''


Ellina terbangun dan menyadari laki laki itu telah pergi, sunggu Ellina benar benar seperti jalang, mencoba bangun dengan tubuh yang sakit ditambah selangkangannya yang masih terasa perih, marendam tubuhnya dengan air hangat membuat dirinya lebih baik.


Tok...tok...


Seorang pelayan masuk saat Ellina baru saja menyelesaikan mandinya dengan membawa nampan berisi sarapan.


''anda baik baik saja nona?''


Bahkan pertanyaan seperti itu tidak perlu ditanyakan, melihat kondisi Ellina seharusnya pelayan ini tidak perlu bertanya.


''maaf nona''


''tidak apa, aku baik baik saja''


''satu jam yang lalu tuan pergi bekerja, dia menitipkan pesan jika anda harus sarapan''


''baiklah terimakasih''


''saya permisi''


Ellina hanya bisa duduk disofa kamar ini sambil menikmati sarapannya yang bahkan terasa hambar dilidah Ellina, menyelesaikan sarapannya dan meminum air yang biasanya pelayan itu memberikan fresh milk untuk sarapan.


''apa ini?''


Laki laki itu memegang ucapannya membuat Ellina tersenyum miris dan meminum obat berbentuk kecil itu.


Ellina hanya berdiri dijendela yang memisahkan kamarnya dengan balkon, melihat pemandangan diluar dan anak anak yang masih berumur sekitar 4 sampai 5 tahun berlari lari bersama ibu mereka, terlihat lucu dan menggemaskan.


''tidak, aku juga tidak mau mempunyai anak yang aku yakini kelak dia akan malu memiliki orang tua sepertiku, menyedihkan dan tidak bisa membela diri sendiri, aku tidak mau melihat anakku yang juga merasakan kesakitan yang bukan akibat dari perbuatannya, aku tidak ingin hal itu terjadi dan mungkin Edgar mendukung hal itu''


Tidak, Ellina tidak mau bersikap kuat jika sebenarnya dia lemah dan dia benar benar ingin memiliki anak yang lahir dari rahimnya tapi dia tidak mau anaknya merasakan apa yang dia rasakan.


Tok..tok


''permisi nona, makan siang anda''


''terimakasih''


''saya permisi''


Ellina tidak melihat laki laki itu sedari tadi, tidak...bukan mengharapkannya datang bahkan Ellina sangat bersyukur akan hal itu tapi mungkin aneh padahal biasanya laki laki itu akan pulang cepat dari perkerjaannya yang Ellina masih tidak tau.


Dilain tempat seorang laki laki masih melihat seorang gadis dari kejauhan, tatapan kosong dan penuh kesedihan, berdiam diri dengan seorang wanita berpakaian serba putih disampingnya.


''hay''


Yang disapanya hanya diam, dan sekilas menatap lalu kembali pada tatapan kosongnya.


''Gev?''