
''jika kau berfikir keluargamu hancur akupun begitu Ed, kau masih beruntung ada adikmu yang hidup normal walaupun tidak mengingatmu tapi bagaimana dengan aku yang tidak punya saudara, tidakkah kau berfikir akan hal itu Ed''
Bukan tidak mau, tapi Ellina malah ingin sekali mengakhiri hidupnya yang sebentar lagi akan jauh lebih buruk, tapi seakan Edgar sangat tau tentang Ellina bahkan dikamar ini tidak ada benda tajam satupun yang bisa Ellina gunakan untuk mengakhiri hidupnya bahkan kaca dindingpun hanya bisa dibuka oleh pelayan yang memegang kuncinya, dinakas juga tidak ada vas keramik yang bisa Ellina pecahkan, balkon kamar yang indah tapi tidak pernah bisa dibuka.
''kau menang Ed''
Hari ini Edgar membuktikan perkataannya kemarin malam, saat ini mereka berdua langsung keboutique untuk fitting gaun pengantin dan pakaian untuk Edgar, tidak lupa cincin pernikahan mereka juga.
''nona apakah ukurannya pas?''
Tubuh Ellina yang memang bak model sangat terlihat indah saat memakai gaun berwarna broken white ini, gaun yang mengembang dibagian bawah lutut, mengekspos bahu putih Ellina dengan sangat cantik, pernak pernik yang mewah dan ditambah asesoris kepala yang mendukung membuat Ellina menjelma bak bidadari.
''mungkin kau harus lebih membesarkan dibagian pinggang, aku seperti tidak bisa bernafas''
''tentu''
Ellina masih melihat pantulan dirinya dicermin ini, sungguh Ellina merasa terkesan dengan gaun mewah ini tapi lagi lagi Ellina harus menelan pil pahit karena pernikahan ini adalah pintu neraka yang sesungguhnya.
''apa yang kau pikirkan babe?''
Ellina terlonjak kaget saat Edgar datang dengan memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya dibahu Ellina dan sedikit menghirup aroma leher Ellina.
''tidak''
''kau cantik''
Haruskah Ellina senang akan pujian yang dilontarkan laki laki ini?dia bahkan hanya tersenyum tipis dengan jantungnya yang masih berpacu dengan cepat.
''apa ukurannya pas?''
''mungkin terlalu kekecilan dibagian pinggang''
Suara Ellina sedikit bergetar, dia takut membuat Edgar marah karena dia salah bicara.
''kau sudah mengatakan pada penjahitnya?''
''ya''
Edgar semakin mempererat pelukannya seakan Ellina akan pergi jauh, kembali menghirup aroma memabukkan itu membuat Ellina kegelian akibat ulah Edgar yang masih mencium leher putih Ellina.
''E..Ed, hen...tikan''
Edgar menghentikan aksinya, dia tersenyum menang saat melihat Ellina yang merona.
''ganti pakaianmu kita akan ke jewelry store''
''hmm''
Mereka melanjutkan perjalanan menuju toko perhiasan, Edgar memang sudah memesan designnya dan hari ini hanya mengecek dan mencobanya saja.
''bagaimana nona?''
Ellina kembali takjub dengan cincin yang akan menjadi cincin pernikahannya nanti, sebuah cincin bertahtakan berlian Swarovski mengelilingi cincin ini dan ada satu berlian berwarna ruby ditengahnya yang ukurannya lebih besar, perpaduan warna putih dan kuning yang sangat serasi sedangkan cincin milik laki laki itu dengan warna yang sama hanya saja hanya ada satu berlian ditengahnya, terkesan sederhana tapi simple.
''aku tau kau menginginkan pernikahan yang mewah dan megah, aku akan mengabulkannya babe, apa salahnya menghibur budak nafsuku, aku rasa semua yang aku keluarkan akan sebanding dengan harga tubuhmu''
Edgar mengelus puncak kepala Ellina, perkataannya dan perlakuannya seakan bertolak belakang, bahkan Ellina tersenyum miris mendapatkan perlakuan itu.
Seakan air mata Ellina sudah habis dan mengering, perkataan Edgar yang terus menghinanya sudah menjadikannya kebiasaan setiap hari.
''ya, sepertinya aku berkomentarpun kau tidak akan berubah fikiran Ed, kau menang Ed tapi percayalah...kau akan menyesal pernah melakukan hal ini padaku''
''benarkah?sstt...aku tidak sabar menunggu saat itu''
Seakan tidak merasa berdosa dan ingat akan karma laki laki ini melakukan hal yang terus membuat dirinya seakan semangat kembali menjalani hidup setelah apa yang direbut tuhan padanya, dengan membuat gadis yang dia cintai tersiksa dengan senyuman hangat dan manis yang tidak akan pernah Edgar rasakan lagi.
Entah hanya Ellina saja yang merasakan hal ini atau memang dia yang terlalu larut dalam kesedihan hingga hari pernikahannya dengan laki laki bak dewa pencabut nyawa itu akan dilaksanakan esok, Ellina terus mengenggam jari jemarinya yang basah karena keringat, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan laki laki itu lakukan saat dia sudah sah menjadi Mrs. Switlog.
''nona, tuan sudah menunggu anda untuk sarapan''
Ellina beranjak, memilih menuruti perintah sang dictator, memilih aman dari pada dia harus bertengkar dengan egonya untuk berontak dan pergi dari cengkraman laki laki itu.
''bisa beri aku sereal dan fresh milk saja''
''ten...''
''berikan dia beef sandwich dan fresh milk!''
''baik tuan''
Padahal biasanya Edgar tidak pernah mengurusi apapun yang Ellina makan tapi kali ini Edgar seperti mengatur semuanya.
Ellina masih ingat dengan jelas dia pernah memilih menu yang sama saat bersama Edgar tapi laki laki itu membujuknya untuk makan makanan yang lebih mengenyangkan dan kali ini Edgar melakukannya lagi, bukan dengan kata kata manis dan bujukan tapi dengan nada perintah yang tidak dapat ditolak.
''silahkan nona''
''terimakasih''
Bukan Ellina tidak suka atau sedang diet, dia memang tidak bisa sarapan dengan menu yang terlalu berat dan terakhir kali dia mencoba sarapan dengan menu yang Edgar pilihkan dulu berakhir dengan dia yang memuntahkan sarapannya, padahal hari kemarin kemarin Edgar tidak lagi memperdulikan menu apa yang dimakan Ellina saat sarapan tapi entah kenapa kali ini laki laki itu kembali mengaturnya dengan menu makanan yang akan masuk kedalam tubuhnya.
''habiskan sarapanmu Ellina''
Sungguh Ellina sudah kenyang dan yang dia lakukan setelah suapan ketiganya hanya mengaduk makanan itu dengan garpunya dan Edgar tidak tahan melihat hal itu.
''aku sudah kenyang Ed, sungguh''
''aku tidak bertanya kau sudah kenyang atau belum, habiskan sarapanmu''
Piring mereka bersih tanpa sisa makanan sedikitpun, Ellina yang sudah tau akibatnya seperti ini sudah merasakan perutnya yang bergejolak, dia ingin segera pergi menuju kamar mandi tapi Edgar masih belum beranjak dari kursinya.
''huek...''