Set Me Free

Set Me Free
Episode 2



Entah siapa yang bodoh dalam watak ini, bukan lebih baik atau meningkat, kehidupan gadis ini malah bertambah buruk seakan nafasnya hanya sebuah aksesoris dalam tubuhnya, setiap tarikan nafasnya hanya beban hidup yang semakin dia derita dan hembusan nafasnya seolah harapan hidup yang terbuang sia sia.


''percuma, selama ini aku berusaha hidup lebih baik untuk kamu Daren, tapi berita itu seolah sebuah pisau tajam yang menyayat diriku bertubi tubi, jika dulu aku bertahan untuk kamu lalu sekarang untuk apa aku bertahan jika pada akhirnya aku tidak akan bernilai lagi dimata kamu dan aku akan segera tergantikan oleh gadis lain yang akan segera bersanding dengan kamu, bukankah bunga tidak diperlukan lagi oleh lebah jika kandungan nectar dibunganya telah habis dan berpindah kebunga lain yang lebih indah dan banyak memiliki nectar, sama seperti aku, seorang gadis yang penuh keburukan dalam hidupnya akan segera kamu tinggalkan dan berpindah kepada gadis yang baik dan berbanding jauh dengan aku''


Keputus asaan adalah hal terburuk yang mampir dalam hidup, tapi seolah kata itu tidak memandang siapa yang ingin dia hinggapi tergantung orang itu ingin hidupnya penuh dengan kebahagiaan atau keputus asaan. Jika dulu akan berkata 'kenapa orang lain bisa bahagia sedangkan aku tidak' maka hari ini kalimat itu akan berubah menjadi 'kenapa orang lain bahagia dan aku tidak?'.


Mentari tidak lagi menutupi jati dirinya dan mulai mengeluarkan cahaya terangnya, dibalik gorden biru muda itu seorang gadis masih berada dikasurnya, bukan tidur tapi meratapi hidupnya, bahkan semalaman dia tidak tidur hanya untuk memikirkan untuk apa dia hidup lagi jika laki laki yang dicintainya dan dia masih bertahan hingga sekarang karena laki laki itu akan pergi dan lebih peduli dan perhatian pada gadis lain, bertahankah? mundurkah? atau lebih buruk dari itu.


Melangkah menuju sebuah tempat yang tidak asing lagi baginya, tapi dia mengutuk tempat ini yang sampai saat ini tidak membuat seseorang itu kembali pada kehidupannya seperti dulu.


''papa udah makan?''


Laki laki paruh baya yang dipanggil papa oleh Ellina hanya diam dengan tatapan kosong, pakaian putihnya masih bersih seakan memberitahu jika pakaian itu baru diganti.


''papa harus sarapan dulu ya''


''sampai saat ini aku tidak tau dosa apa yang aku perbuat hingga Tuhan memberikan karma terburuk dalam hidupku, tidak cukupkah ini saja''


Awal hidupnya bahagia atau sangat bahagia tapi entah badai dari mana ketika umurnya menginjak 12 tahun mamanya yang dia banggakan sebagai sosok wanita yang baik, cantik, kuat dan hebat berubah menjadi wanita yang paling dibencinya, bagaimana tidak, mamanya berubah menjadi wanita yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, mamanya sering pergi dan pulang tengah malam atau dini hari dan semenjak itu papa dan mama Ellina selalu bertengkar hebat yang akan berakhir mama pergi lagi dan pulang dalam keadaan mabuk bersama pria lain, hidup Ellina berubah, ingin sekali dia menanyakan hal ini pada mamanya tapi itu terlambat, hal itu diperparah ketika mamanya meninggal akibat kecelakaan mobil saat bersama kekasihnya, papanya terpukul yang mengakibatkan pada psikologisnya dan berakhir dirumah sakit jiwa. Sudah hampir 8 tahun papanya dirawat dirumah sakit jiwa tapi tidak ada peningkatan sama sekali, hidupnya hanya dipenuhi dengan berdiam diri dengan tatapan kosong lalu berubah menangis dan detik selanjutnya terganti dengan tawa. Ingin sekali Ellina marah kepada Tuhan karena tidak adil kepada hidupnya tapi dia sadar jika dia pernah bahagia sebelumnya walau hanya sesaat. Ellina sudah ingin bunuh diri akibat kehidupannya yang hancur berantakan hingga ia bertemu dengan laki laki yang menyelamatkannya dan memberinya semangat hidup, laki laki yang dia cintai tapi tidak dengannya, dia hanya menganggap Ellina sebagai adiknya yang sebentar lagi akan menikah dengan orang lain.


''pa, Ellina harus apa?''


Kaki ini kembali melangkah entah kemana, otak yang tidak bisa mencerna dan akal sehat yang sudah tidak berguna lagi, kembali seperti dulu, mencoba berhenti berusaha dan mengakhiri semuanya.


''maafin aku pa, aku udah enggak kuat lagi''


Kaki ini kembali pada langkah yang sudah pada batas akhirnya, hembusan angin yang menyentuh kulit dan menerpa rambut yang tergerai panjang ini seakan menyambut untuk segera digapai.


''kau gila!!''