
''tapi ngomong ngomong kau terlihat cantik Ellina, terlihat cantik seperti jalang''
Bisikkan Edgar itu sudah menjadi hal yang biasa sekarang bagi Ellina, dia tidak terkejut dan kembali menangis. Edgar membawa Ellina menuju Daren yang sedari tadi tidak melepas pandangan pada Ellina, jujur Daren sangat merindukan gadis itu.
''selamat atas pernikahanmu tuan Alvaros''
''tentu, terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk datang''
Ellina tidak sanggup menatap sahabatnya itu, jujur dia sangat merindukan Daren dan sangat ingin memeluk laki laki itu tapi lagi, dia tidak sebodoh itu.
''Ell?''
''babe?''
''huh?oh...maaf, aku ucapkan selamat Ren''
''terimakasih sudah mau datang''
''tentu, kau sahabatku''
''Ell kenapa kau tidak pernah membalas atau mengangkat telephoneku?''
''aku rasa itu hal yang tidak perlu kau lakukan lagi tuan Alvaros, kau memiliki istri yang harus kau perhatikan dan Ellina serahkan saja padaku, aku akan menjaganya''
''baiklah, aku rasa Ellina juga tidak keberatan''balas Daren lesu.
Ellina mencoba menampilkan senyuman manisnya tapi dia tau hatinya sangat sakit, bahkan wanita yang sudah sah menjadi Mrs. Alvaros itu sangat terlihat cantik dan menawan.
''hay, kau Ellina kan?''
''ah ya, ngomong ngomong kau sangat cantik Meysha''
''terimakasih kau juga, kalian sepasang kekasih bukan?''
Semua orang juga akan berfikir begitu mengingat dari pertamakali mereka masuk Edgar sudah memeluk pinggang Ellina dengan possesif.
''tidak Mrs. Alvaros, kami akan segera menyusul kalian''
''benarkah, wah...aku menunggu undangan pernikahan kalian kalau begitu''
''sebaiknya kalian juga menyapa tamu yang lain, aku dan calon istriku akan mencicipi makanan disini''
''baiklah, kami permisi dulu''timpal Daren.
Mereka berdua pergi kepojokan gedung ini, mengambil minuman yang bahkan Ellina membutuhkan lebih dari segelas wine untuk membasahi tenggorokannya yang sudah mengering.
''bukankah mereka pasangan yang sangat cocok, aku yakin mereka akan hidup bahagia dan melahirkan anak anak yang lucu, bukankah begitu babe''
Ellina tersenyum miris mengetahui bahwa perkataan Edgar benar adanya, mereka akan segera mempunyai anak dan membesarkannya bersama sama.
''jangan iri, bukankah sebentar lagi kita akan menikah tapi mungkin perbedaannya kau akan aku pastikan tidak akan pernah bahagia saat menjadi budak nafsuku dan aku tidak mau seorang anak dari rahim menjijikanmu itu''
Skak!!
Perkataan Edgar membuat Ellina tidak bisa lagi menahan air matanya, sungguh Ellina ingin menikah sekali dalam hidupnya dengan laki laki yang dia cintai dan yang mencintainya, hidup bahagia dan membesarkan anak anak berdua tapi kenyataan berkata lain, memang tidak selamanya apa yang menjadi keinginan akan sesuai dengan kenyataan dan kini Ellina mengalami hal itu.
''Ed aku mohon, lepaskan aku...aku tidak tau apa apa mengenai mamaku Ed, aku mohon...lepaskan aku''
Mungkin jika orang lain yang mendengar hal itu akan memeluk Ellina dengan erat dan memaafkan semuanya, melepaskan gadis itu dan membiarkannya hidup bebas, tapi berbeda dengan Edgar yang tidak memiliki hati, dia hanya tersenyum sinis dan menghapus air mata Ellina.
''jangan menangis babe, bukankah aku sudah mengatakan air matamu tidak berharga sama sekali''
Mereka pulang dengan keadaan Ellina yang lagi lagi jauh dari kata baik.
''tidurlah karena besok kita akan fitting gaun pengantin''
''Ed...apa jika aku mewakili mamaku untu meminta maaf dan bersujud padamu kau akan melepaskanku''
Langkah Edgar terhenti tapi tidak berbalik seakan Ellina hanya sebuah bakteri menjijikan.
''maafmu tidak merubah apapun, maafmu tidak membuat papa dan mamaku hidup kembali dan Gevany hidup normal dan Crely kembali mendapatkan ingatannya''
Benar saja, tidak mungkin seorang Edgar begitu saja memaafkan semuanya dan melupakan begitu saja, keluarganya hancur, papanya yang meninggal dengan selingkuhannya, mamanya yang depresi dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, adik pertamanya yang kecelakaan saat ingin kerumah sakit menemui mamanya dan mengakibatkan dia amnesia permanen kemudian adik keduanya yang hingga saat ini mendekam dirumah sakit jiwa, Edgar tau jika keluarga Ellina juga hancur dan sama sama hanya meninggalkan satu anggota keluarga yang normal, tapi seakan Edgar lebih hancur.
Ellina tidak bisa tidur karena kata kata terakhir yang Edgar katakan hari ini masih terus berputar diotaknya.
''jika kau berfikir keluargamu hancur akupun begitu Ed, kau masih beruntung ada adikmu yang hidup normal walaupun tidak mengingatmu tapi bagaimana dengan aku yang tidak punya saudara, tidakkah kau berfikir akan hal itu Ed''