Set Me Free

Set Me Free
Episode 22



Ellina tau dia sedang tidak didunia nyata saat ini, dari pertama membuka mata dia sudah disuguhkan dengan hamparan rerumputan hijau yang tiada ujungnya, hanya berdiri tanpa alas kaki, meresapi tiap semilir angin yang menerpa dirinya membawa berbagai macam masalah kehidupan.


''Jenny...''


Membalikkan badan dan melihat seorang gadis kecil dan seorang anak laki laki yang sedang asik bermain.


''nanti aku janji bakalan nikah sama Jejen''


''beneran ya kak Dev''


''iya, aku janji''


Ellina tersenyum, keberadaan Ellina seakan tidak mengganggu dua anak manusia itu yang saling mengikat janji satu sama lain.


''maafkan aku...aku tidak bisa memperjuangkanmu....maaf''


Suara asing kembali terdengar hingga Ellina kembali membalikkan tubuhnya, terlihat seorang laki laki remaja yang sedang menggenggam tangan seorang gadis yang kini menangis.


''kau meninggalkanku Dev...''


''aku tidak bisa menghindari perjodohan ini Jen, sungguh aku masih mencintaimu''


''tapi kau mengingkari janjimu Dev''


''maaf''


Ellina yakin mereka adalah versi remaja anak anak yang baru saja dia lihat sedang mengikat janji.


''kau berkhianat!!''


''aku mencintainya tapi aku sedang berusaha untuk menerimamu, mengertilah''


Ellina langsung tersentak mendengar suara ribut dibalik badannya hingga dia melihat seorang laki laki dewasa dengan wajah tidak asing dan wanita dewasa yang belum Ellina ketahui siapa saling beradu pendapat, saling menunjuk dan memperlihatkan amarah masing masing.


''mengerti?jangan bodoh Dev, kau harus ingat dia sudah menikah dan memiliki seorang anak begitupun denganmu''


''aku tau, aku tau Mer, aku sedang berusaha membuang rasa cintaku padanya dan belajar mencintaimu tapi seakan semua usahaku sia sia''


''kau menyakitiku Dev''


''maafkan aku Mer, sungguh aku masih mencintainya''


Disamping itu Ellina juga melihat 2 orang yang sudah sangat dia kenal.


''apa yang terjadi sayang?kenapa kau berubah''


''aku tidak berubah Van jika itu yang kau pikirkan''


''kau berubah sayang, apa kau tidak mencintaiku lagi?''


Suara laki laki itu terkesan sangat lembut walaupun Ellina yakin mereka sedang bertengkar berbeda dengan pasangan disebelah mereka.


''mencintai?aku bahkan tidak pernah mencintaimu Van, aku selalu berusaha menerimamu dan belajar mencintaimu tapi seakan aku sudah muak dengan semua usahaku yang tidak membuahkan hasil''


''Jen...''


''kau laki laki yang baik Van hanya saja aku terlalu bodoh tidak bisa mencintaimu...cintaku sudah terkunci Van...hatiku tetap berada pada Dev''


''dia sudah menikah sayang, lupakanlah dan tetaplah disini bersama aku dan Ellina''


''papa...mama....''lirik Ellina pelan.


''aku tidak bisa, seharusnya aku sudah bahagia bersamanya jika saja bukan karena perjodohan Dev dengan wanita itu dan perjodohan kita, bukan aku menyesal Van hanya saja terlalu sulit untukku menerimamu''


Ellina tidak tidak kuat lagi melihat ini, seakan semua ini seperti kaset rusak yang terus diulang hingga terasa permanen dimemori Ellina, terjatuh menutup mata dan telinga agar suara itu tidak terdengar.


Sepi


''aku masih mencintaimu Jen, sungguh aku tidak bisa terus begini''


''aku juga, tapi aku tidak bisa mengkhianati suamiku''


''akupun begitu, ikutlah denganku, kita bangun keluarga baru''


''aku takut''


''percayalah''


Bahkan hujan yang datang tidak meredakan semangat dua orang yang dilanda cinta ini, Ellina mencoba untuk mendekat tapi terlambat mereka sudah masuk kedalam mobil dan melaju ditengah hujan deras dengan cepat.


''awas!!!''teriakan Ellina seakan bagai angin lalu.


Nyitt...


Brak


Duar...


Ellina terpaku, setelah mobil melaju dengan tidak terkendali ditambah ada kucing yang menyebrang sembarangan dan membuat sang pengemudi membanting setir kekanan dan menghantam pohon besar dipinggir jalan dan detik berikutnya mobil itu meledak sebelum mereka sempat keluar.


Kini Ellina sudah tau semuanya, dia sudah melihat semuanya dan dengan jelas tepat didepan matanya.


''beginikah''


Kembail berjalan tidak tentu arah dengan air mata yang terus menetes.


''mereka tidak bersalah karena saling mencintai tapi seakan takdir tidak berpihak hingga mereka berpisah dan memutuskan untuk kembali tapi berujung pada kematian...seharusnya...tidak seharusnya nenek dan kakek menjodohkan mama dengan papa jika mereka tidak saling mencintai...tapi...''


Menghentikan langkahnya ketika sebuah tangan mendarat ditangannya, tangan dingin yang menggenggam tangannya.


''Ellina...''


''mama?''


''maafkan mama sayang''


''mama''


''lupakan''


''apa?''


''lupakan sayang''


''kenapa?''


''sudah cukup dan sekarang lupakan''


''ma...''


Hingga sebuah cahaya menyilaukan mata dan semuanya menghilang bersama Ellina didalamnya.


***


Masih terus diruang tunggu Edgar masih mencoba menerima apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya, seharusnya Ellina kuat hingga ini tidak terjadi dan setelah ini Edgar tidak tau apa yang akan dia lakukan.


''hantaman kecelakaan itu sangat keras, beberapa tulang rusuknya patah, tulang tangan kanannya bergeser dan dia gagar otak hebat yang mengakibatkan pendarahan''


''lalu?''


''amnesia''