
Sinar mentari perlahan menyinari wajah Ellina, sinar yang masih lembut seakan membuat seseorang yang merasakan itu terisi tenaganya. Ellina mungkin lupa menutup gorden jendela hingga sinar mentari masuk tanpa penghalang sedikpun.
''eugh...''
''tunggu dulu, ada yang aneh''
Perlahan Ellina menurunkan selimutnya dan hal itu terpampang jelas, sebuah tangan yang melingkar diperutnya, menoleh kebelakang hingga seseorang tertidur dengan tenang dan nafas yang teratur.
''dia bahkan tidur dengan tenang dan wajah yang sama sekali tidak memperlihatkan dia laki laki jahat''
Ellina menurunkan tangan itu perlahan mencoba sang pemilik tidak terganggu, turun dari kasur dan membersihkan dirinya, dia berfikir jika suaminya pulang larut malam hingga tidur dengan pulas.
Ellina sudah menyegarkan dirinya dan saat ini dia sedang menutup matanya dan menghirup dalam dalam udara yang lama tidak dia rasakan, kamarnya yang berada dilantai teratas dan balkon kamar yang dapat dibukanya dengan mudah membuatnya bisa kembali merasakan sinar mentari dipagi hari dan semilir angin yang menggelitik tubuhnya.
''ekhem''
Ellina terlonjak, dibaliknya tubuhnya hingga melihat laki laki itu tengah berdiri dipintu balkon dengan melipat tangannya didadanya, wajahnya yang datar tak terbaca membuat nyali Ellina semakin menciut.
''Ed..ma..maaf Ed sungguh aku tidak berniat kabur, aku hanya merasakan angin Ed, maafkan aku tidak ijin padamu, sungguh aku tidak punya niat apapun Ed, aku mohon maafkan aku''
Bahkan Edgar hanya berdiri dengan wajah datar Ellina sudah merentetinya dengan berbagai penyesalan.
Lihat Ed, melihatmu saja dia sudah ketakutan. Kau jahat.
''masuklah, kita akan sarapan''
''baik''
Mereka sarapan dalam diam, Ellina tidak perlu lagi cemas dengan memuntahkan isi perutnya dipagi hari karena laki laki ini langsung memesan sarapan sereal dan fresh milk untuk Ellina.
''kita akan cek out hari ini''
''baiklah''
Ellina pasrah kembali kedalam tempat terkutuk itu tapi setidaknya hari ini dia bisa merasakan kembali dunia luar walau hanya sehari.
Mereka berdua langsung cek out dari hotel, Ellina pulang dengan diantar supir dan pengawal sedangkan Edgar ada urusan penting bersama Willy.
''bisa kalian berhenti dipengisian bahan bakar, aku ingin ketoilet''
''baik nyonya''
Tidak, sungguh Ellina tidak ingin kabur, dia benar benar ingin kekamar mandi dan setelah itu kembali.
''silahkan nyonya''
Pengawal itu berdiri didepan toilet wanita, Ellina menyelesaikan semuanya dan dia kembali.
''kau, Ellina bukan?''
Ellina dan pengawalnya itu menghentikan langkahnya ketika laki laki dengan suara yang lembut menyapanya.
''ah, tuan Iros''
''dimana Edgar, dia tidak bersamamu?''
''dia ada urusan, mungkin pekerjaannya''
''wah dia tidak bisa cuti sebentar saja dari pekerjaannya, bahkan kalian baru saja menikah''
''kau akan kemana?''
''aku?aku akan kembali kemasion''
''sayang sekali, apa bisa kita minum teh bersama di café dan ajak suami super sibukmu itu''
''akan aku sampaikan pada Edgar''
''baiklah sampai jumpa Lina''
''Lina?dia sangat baik dan hangat, senyumannya yang terkesan manis dan tidak dibuat buat, sangat mirip seperti Edgar dulu bahkan laki laki ini memiliki panggilan yang berbeda untukku''
Ellina telah kembali kemasion milik Edgar, memilih untuk kembali kekamarnya.
''maaf nona kamar anda sudah saya bersihkan dan semua barang anda sudah kami pindah kekamar tuan''
Ellina menggenggam knop pintu yang hanpir saja dia buka dan dia bertemu fakta lain jika dia akan tidur bersama dewa pencabut nyawana itu.
''baiklah terimakasih''
Lihatlah kamar yang luas dengan design yang sangat formal, cat dinding berwarna abu abu dan coklat dan barang barang yang tidak terlalu banyak dan semuanya hanya sebatas barang umum, sangat jauh dari kata kamar yang nyaman, disamping kasur terdapat foto yang lumayan besar, sebuah foto keluarga yang mungkin tidak pernah Edgar lupakan. Ellina menatap foto itu lama terlebih foto laki laki paruh baya yang pernah ia kenal.
''benar, dia tuan Deveros, laki laki yang selalu bersama mama dan sampai sekarang aku tidak tau apa yang menyebabkan kedua keluarga bahagia bisa hancur begitu saja''
Ellina tersenyum miris, ditatapnya lagi foto itu yang membuat dirinya sedikit merasa bersalah.
''tuan Deveros, kau menyia nyiakan istri yang cantik dengan senyuman yang hangat dan anak anak yang pintar dan baik hingga kau merubah mereka semua''
Ellina memilih tidur, aroma tubuh Edgar mendominasi kasur berukuran king size ini dan Ellina teringat kembali bahwa malam ini laki laki itu tidak akan membiarkannya lolos.
''kau tidak diharapkan, gadis bodoh...pergi dari dunia ini, kau tidak pantas...PERGI!!DASAR''
''aku mencintainya''
''tidak...kalian tidak saling mencintai, dia milikku dan kau merusak keluarga kami...per...''
''ma?''
''Ellina?''
''siapa dia ma''
Wajah tidak asing bagi Ellina tapi dia tidak bisa mengingat dengan jelas siapa wanita itu.
''percayalah nak ini bukan hanya kesalahan mama, maafkan mama yang...''
''Merly Eva Switlog, right?''potong Ellina yang berjalan menuju wanita itu.
''cih, kau pasti Ellina anak dari wanita jalang itu, perebut suami orang dan...''
''HENTIKAN!!''
''Ellina...hey Ellina...wake up...ELLINA WAKE UP''
''huh...huh...''