Set Me Free

Set Me Free
Episode 3



''kau gila!!''


Memejamkan mata hingga sebuah air mata kembali menetes, kembali sia sia usaha Ellina untuk mengakhiri hidupnya, seseorang kembali menghentikan kenekatan Ellina hingga gadis ini menyerah, dia berontak pun sia sia karena seseorang ini tidak akan melepaskannya.


''jangan gila!!kau bisa mati''


''memang itu yang aku inginkan''


''apa?berfikirlah jernih, jika kau mati keluargamu akan sedih, kekasihmu akan menangisi kekasihnya dan teman temanmu akan...''


''mama meninggal dunia dan papa masuk rumah sakit jiwa, kekasih?kau gila, tidak akan ada yang sudi memiliki kekasih yang menyedihkan sepertiku dan teman...aku tidak punya teman, kau puas''


''kau...maaf, aku tidak ber...''


''sudahlah''


''kau akan kemana?''


Kembali melakukan hal yang tertundapun percuma jika seseorang ini masih berada disekitar Ellina.


''pergilah!!''


''oke oke aku akan pergi, tapi aku akan pastikan kau pulang kerumahmu dulu''


''apa urusanmu''


Seseorang ini hanya tersenyum manis, meninggalkannya dan kembali melangkah untuk pulang hingga terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat.


''El kau kemana saja, kenapa handphonemu tidak aktiv dan...siapa laki laki ini''


Ellina menatap Daren sekilas lalu beralih pada laki laki yang masih setia berada dibelakang Ellina dengan senyum hangatnya.


''dia bukan siapa siapa dan aku baik baik saja''


''tapi kau pucat''


''aku ba...''


''sebaiknya kau lebih menjaga kekasihmu, dia hampir saja bunuh diri''potong laki laki ini.


''lagi?''


''apa maksudmu lagi, apa gadis ini pernah melakukan hal yang sama, wah...aku tidak habis fikir''sambung seseorang ini.


''Ellina kenapa kamu lakukan hal gila itu lagi''


''AKU BILANG PERGI!!''


''baik baik, aku antar kau kerumah lalu aku akan pergi''


Ellina lebih memilih diam dari pada Daren masih terus memaksa yang akan membuatnya bertambah pusing, dilihatnya lagi laki laki asing itu yang masih pada senyum hangatnya lalu pergi.


''jaga dirimu baik baik dan sayangi hidupmu, oke''


''ya, sayangi dirimu seperti pecundang, mulai hari ini memang hanya aku yang harus menyayangi diriku dan tidak akan ada lagi orang yang menyayangiku lagi''


Ellina berdiri dibalkon apartementnya, sungguh Daren begitu waspada kepada Ellina, membelikan Ellina sebuah apartemen elit tapi tidak dilantai atas yang menampilkan view yang indah, Daren membeli apartemen elit tapi dilantai dua, laki laki itu takut Ellina akan melakukan aksinya diapartementnya sendiri.


''dad, sometimes if I die, can you remember me?and mom...you wait me righ, can you pick me up to you, mom? I think my life it's not perfect and happy again, his will marriage with beautiful girl and I lose mom, what I am doing now?''


Mentari sudah bersiap menjalankan tugasnya sedangkan gadis cantik ini masih bergelung dengan selimut tebalnya, tidurnya selalu tidak nyenyak semenjak kejadian itu, tidur yang hanya 1-2 jam setiap malam membuat kondisi tubuh Ellina memburuk.


Berada disebuah café ditemani dengan secangkir black coffe berharap bisa membantu Ellina menyegarkan pikirannya, menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata berharap hidupnya hanya sebuah mimpi buruk yang sebentar lagi dia harus segera bangun.


''hey cewek bunuh diri''


Ellina tau itu bukan namanya tapi entah kenapa dia malah membuka matanya dan melihat seorang laki laki yang kemarin sempat membuat usaha bunuh dirinya sia sia sedang duduk manis dikursi depan mejanya, dengan senyum konyol dan pakaian santainya memperlihatkan laki laki ini tidak jauh berbeda dengan Daren.


''Daren?''ucapnya pelan seakan berbisik.


Ellina baru teringat seharian ini Daren belum menghubunginya sama sekali, biasanya setiap pagi sebelum Ellina bangun sudah ada pesan dari sahabatnya itu, entah memberitahu jika akan pergi bekerja, sarapan, membangunkan Ellina atau yang lainnya.


''hey malah bengong''


''ngapain disini!''


''weits judes amat mbak''


Ellina tidak mau bertengkar dengan orang ini karena moodnya sedang buruk, pergi sebelum laki laki itu membuatnya bertambah buruk jauh lebih baik.


Ellina berbalik saat laki laki ini menarik lengan Ellina, menampilkan mata yang saling berpandang dan menimbulkan kesan yang berbeda, Ellina menyadari jika laki laki ini tidak seperti orang lain.


''Ellina, jadilah kekasihku''