
''andai saja Ed kau tetap seperti ini''
Setelah beberapa menit mereka istirahat Edgar mengajak Ellina untuk kembali kegedung.
''tuan Switlog''
''oh, tuan Fares''
''aku tidak melihatmu sedari tadi''
''maaf, istriku kelelahan karena banyaknya tamu''
''kau perhatian sekali dan sepertinya kau merancang pernikahanmu agar terus kalian ingat''
''tentu saja, perkenalkan, dia istriku''
''aku Ellina''
''aku Fares, senang berkenalan denganmu''
''dimana Iros?''
''tadi dia bilang ada urusan sebentar...itu dia''
Seorang laki laki yang Ellina yakini hanya berbeda beberapa tahun lebih muda dari Edgar berjalan dengan senyuman yang terus mengembang, wajah yang tampan dan kulit yang putih, belum lagi lesung pipi dibagian kiri menampilkan kesan manis.
''woah...kau sudah menjadi suami rupanya''
''tentu, dan kapan kau akan menyusulku''
''aku masih belum mendapatan yang pas''
''kenalkan, dia istriku''
''aku Ellina''
''aku Iros, kau terlihat sangat cantik''
''terimakasih''
''jangan menggoda istri orang Iros''
''hahah...kau tetap Edgar yang posesif, dulu kau juga begitu terhadap Gevany dan Crely tap...''
Iros merutuki mulutnya yang sembarangan berbicara dan lihatlah hasil dari perbuatannya itu, laki laki itu memejamkan matanya seakan menahan emosinya.
''tak apa, kau nikmati hidangan disini, aku dan istriku akan menyapa yang lain''
''baiklah''
Edgar yang sedari tadi memeluk pinggang Ellina dengan posesif semakin mengeratkan pelukannya dan Ellina menyadari hal itu ketika laki laki bernama Iros itu mengatakan hal yang sebentar lagi akan berdampak pada keburukan Ellina.
''Ed...kau menyakitiku''
Edgar menghentikan langkahnya, memejamkan matanya mencoba tidak meluapkan emosinya didepan public.
Acara selesai tepat pukul sebelas malam, Ellina benar benar lelah, tubuhnya ingin sekali diistirahatkan belum lagi kakinya yang pasti membengkak karena sepatu sialan itu. Masuk kedalam kamar hotel yang sudah disediakan namun seketika langkahnya terhenti mengetahui jika laki laki itu akan tidur seranjang bersamanya apalagi malam ini...
Brukk
Edgar datang dan langsung menarik Ellina dengan tidak lembut sama sekali, menabrakkan tubuh Ellina kedinding dan tatapan itu seolah menyiratkan sesuatu.
Mata Ellina terbelalak, perlakuan Edgar padanya benar benar membuat dirinya seperti jalang, mencium bibir Ellina dengan tidak sabar dan penuh nafsu padahal Ellina baru saja menginjakkan kakinya dipintu kamar hotel ini.
''mmpp...Ed...hen...hmmptt''
Tok...tok
Siapapun itu Ellina berharap menghentikan aksi gila laki laki bejat didepannya itu.
Tok..tok..
''maaf tuan''
Suara Willy dibalik pintu itu membuat Edgar menghentikan aksinya, Ellian langsung bersyukur dan bernafas lega, nafas mereka berdua sempat tersenggal senggal dan Edgar menggeram kesal saat seseorang mengganggunya.
''ada apa''
''maaf mengganggu tapi ada hal penting tuan''
''baiklah, tunggu''
Edgar berbalik, berdiri didepan istrinya itu dan mengangkat dagunya.
''kau selamat malam ini sayang tapi akan aku pastikan besok kau tidak akan bisa berjalan''
Ellina merosot setelah Edgar keluar dari kamar itu, memegang bibirnya yang sempat bengkak karena perlakuan suaminya itu. Pergi mandi untuk membersihkan diri dan tidur mungkin cara yang baik.
***