
''Ed katakan kenapa aku kau kurung''
''makan sarapanmu''
''Ed?''
''minggu depan kita akan menikah''
''apa maksudmu, tidak...Ed aku mohon jelaskan semua ini''
''makan sarapanmu Ellina!!
''aku bahkan tidak tau apa apa, tapi akibat aku tidak beruntung lahir dari rahim seorang jalang aku terkena imbasnya, bukankah itu terdengar lucu''
''benar, memang benar aku menjadikanmu objek balas dendamku setelah apa yang seorang wanita yang melahirkanmu merusak keluargaku!!''
''kau fikir hanya keluargamu yang hancur, keluargaku juga, brengsek!''
''Ed...apa jika aku mewakili mamaku untu meminta maaf dan bersujud padamu kau akan melepaskanku''
''maafmu tidak merubah apapun, maafmu tidak membuat papa dan mamaku hidup kembali dan Gevany hidup normal dan Crely kembali mendapatkan ingatannya''
Ellina sudah mengingat semuanya, bahkan setiap perlakuan laki laki itu padanya sangat teringat dengan jelas, dia tidak tau apa yang membuat hidupnya begitu tidak beruntung.
''jangan terlalu dipikirkan Lina''
''hmm...terimakasih sudah mau menampungku''
''hey, kau sudah aku anggap adikku sendiri, makanlah dulu kau pasti lapar''
''terimakasih''
Pergi jauh dari kehidupan laki laki itu mungkin membuat Ellina merasa lebih lega, masalah kehidupannya yang sekarang dia tidak mau terlalu memikirkannya setidaknya laki laki ini baik mau menerimanya.
''kau tidak salah untuk meninggalkannya Lin''
''hmm...aku juga merasa begitu, tapi sampai kapan''
''sampai dia yakin jika dia benar benar mencintaimu''
''apa sampai dia lahir?''
''entahlah''
Ellina memegang perut ratanya, dia memang merasa aneh dengan kondisinya dan ketika dia pergi dari masion Edgar, dia jatuh pingsan hingga ditemukan oleh seseorang yang langsung membawanya kerumah sakit. Mendengar berita jika dia tengah mengandung beberapa minggu membuat dia tidak berhenti untuk bersyukur.
''istirahatlah''
''hmm...apa mungkin Edgar sedang mencariku atau dia bahagia aku pergi?''
''kau ingin jawaban apa Lin?''
''jawaban yang kedua''
''sayangnya aku malah yakin dengan jawaban pertama, tidurlah kau tidak boleh terlalu lelah, kau lupa ada nyawa lain dalam dirimu saat ini''
''hmm''
Hari hari berlalu begitu cepat Ellina mulai bisa beradaptasi dengan tempat antah berantah ini, mengasingkan diri bersama laki laki yang dikenalnya dan baik menurutnya, menjaga kondisi tubuhnya dan kesehatannya agar janinnya tetap sehat didalam sana.
''mama akan menjagamu sayang, maaf sempat tidak menginginkanmu dulu''
Kembali bisa merasakan angin dan sinar matahari membuat Ellina bersyukur setidaknya kini dia bisa sedikit bahagia walau mungkin sebagian jiwanya hilang, hatinya tidak lagi ada pada dirinya dan sudah terkunci rapat oleh laki laki itu.
''susu untuk ibu hamil dan cemilan''
''kenapa lama sekali''
''aish...aku sibuk''
''ya ya ya, kau selalu sibuk''
''tapi bagaimana kondisi little''
''dia baik''
''syukurlah''
''dimana Gevo?''
''dia sedang bermain dibelakang''
Sudah hampir 3 bulan berlalu dan semuanya seakan terasa hampa, Ellina tidak tau apa yang terjadi dengan hidup laki laki itu setelah pergi meninggalkannya tanpa salam perpisahan.
Edgar masih duduk dikursi kerjanya, menatap hidupnya yang begitu hampa, kehilangan kebahagiaan dan juga cintanya, bahkan sudah sangat lama tapi wanita itu tidak memberinya celah sedikitpun untuk Edgar bisa menemukannya, anak buahnya sudah mencarinya hingga saat ini bahkan detektiv swasta sudah dia kerahkan dengan bayaran mahal sekalipun bahkan Daren sudah member tanda tanda menyerah, tapi mungkin memang tuhan sedang menghukumnya saat ini.
''ya, sepertinya aku berkomentarpun kau tidak akan berubah fikiran Ed, kau menang Ed tapi percayalah...kau akan menyesal pernah melakukan hal ini padaku''
''kau akan menyesal kehilangan apa yang kau miliki dengan tidak menjaganya''
Ya, saat ini Edgar menyesali semuanya, bahkan dia mengutuk dirinya sendiri akibat perbuatannya kepada wanita yang selama ini dia cintai itu.
''kembalilah, aku mohon''
Jika melihat kehidupan keduanya mereka sama sama menghadapi sesuatu yang tidak jauh berbeda.
Hampa dan kosong
Entah kapan hidupnya kembali memiliki rasa dan kekosongan itu dapat terisi kembali, Ellina menyesal tidak bisa membuat Edgar berdamai dengan masa lalunya dan memberinya laki laki itu kekuatan dan Edgar menyesal tidak bisa menjaga apa yang dia inginkan selama ini, kekuatan dan seluruh jiwanya telah hilang dan dia amat sangat menyesal.
''entahlah, Gevo masih marah padaku''
''hey, kau tau dia amat sangat menyayangi mamanya''
''baiklah, sebaiknya kita berjalan jalan sedikit''
Jika ada yang melihat mungkin banyak yang mengira jika mereka keluarga yang bahagia yang sedang berjalan jalan bersama anak laki laki mereka dan akan segera menyusul sang adik yang masih berada dalam kandungan.
''kau menginginkan sesuatu?''
''cake dengan rasa yang manis, please?''
''kau tidak berubah, tunggulah disini''
Kalian percaya keajaiban, karma dan takdir itu bisa datang kapan saja dan semuanya tidak bisa diperhitungkan dan dijadwalkan kapan datangnya, kita hanya bisa pasrah dan menerimanya seperti air yang mengalir.
''penerbangan akan berangkat 15 menit lagi tuan''
''hmm''
''kita akan langsung kehotel dan merencanakan pertemuan pada malam hari, lokasi termasuk dalam daerah pedalaman yang sejuk''
''hm...mungkin aku akan mengontrol lokasi terlebih dahulu, kau urus semua itu''
''baik''
''berapa lama perjalanannya?''
''hanya memakan waktu satu setengah jam tuan''
Perjalanan yang melelahkan dan lagi lagi menyangkut pekerjaan, pergi kesana kemari, masuk luar kota dan luar negeri membuat Edgar tidak mengurus kesehatan toh dia matipun tidak akan ada yang bersedih.
''Ell toko itu tutup mungkin kita bisa mendapatkan cake manismu ditoko lain''
''baiklah, ayo sekalian berjalan jalan, Gevo ayo''
''ma, bisakah aku mendapatkan ice cream ku''
''tentu, tunggulah sayang kita harus pergi ketoko lain''
''kau lelah, mau papa menggendongmu?''laki laki itu menawarkan.
''hmm''
Anak laki laki bernama Gevo itu menjulurkan kedua tangannya dan dengan sigap laki laki ini menggendongnya, anaknya tidak lagi kecil walau umurnya masih kecil.
''pa, aku ingin pergi kekebun binatang''
''benarkah?''
''hmm...mamamu bisa menemani sayang''
''papa selalu sibuk, aku ingin bersama mama, papa dan little''
''baiklah, papa usahakan''
''jangan memaksa papamu Gevo''
''aku akan meluangkan waktuku Lin''
Menikmati angin yang terus menerpa dan sinar mentari yang tidak terlalu terik karena sore sudah menjelang.
''kau lelah?''
''tidak, aku senang''
''kapan kau mengecek kandunganmu lagi''
''lusa''
''akan aku temani''
''hmm''
Ellina sudah sangat bersyukur dengan hidupnya kali ini, walaupun dia tidak bahagia bersama laki laki itu setidaknya dia bisa kembali merasakan kebebasan, tidak mendengar berita tentang Daren ataupun Edgar memang membuatnya sedikit frustasi karena merindukan kedua laki laki itu tapi dia tidak mau meminta lebih, hidupnya yang sekarang saja sudah jauh dari pantas.
''aku akan berjalan jalan sebentar''
''baik tuan''
''dimana lokasi proyeknya?''
''sekitar 3 km menuju arah barat''
Masih dengan senyum manisnya dan terus menggendeng tangan mungil anak laki laki ini.
''itu dia tokonya, tunggu disini dan aku akan membelikan cake dengan rasa manis dan ice cream vanillan kesukaan anak papa''
''hmm''
''bisakah aku ikut?''
''tentu, ayo, tunggulan disini Lin kami tidak akan lama''
Langkah itu menjawab semuanya, menjawab semua kegelisahan dan rasa rindu yang teramat sangat, dengan pasti dan yakin saling memasuki sebuah tempat yang asing bagi salah satu dari mereka.
''Edgar?''