
Memasuki hari kelima berada di dalam hutan,tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.Tidak terasa juga kami mulai akrab satu sama lain tak terkecuali dengan dua orang yang datang dari Yogya yang sudah kuceritakan di awal bab tulisan ini. Ternyata mereka berdua adalah lelaki lajang yang sudah lama berkecimpung di dunia pecinta alam. Mereka adalah lulusan universitas negeri di surakarta dan sudah pernah ikut dalam kegiatan ekspedisi tahunan di taman nasional ini dua tahun sebelum kami mengadakan ekspedisi ini. Jadi tak heran jika mereka berdua sudah cukup akrab dengan lingkungan hutan tempat kami berada saat itu.
Biar kuperkenalkan nama mereka berdua adalah mas adul dan masa anang. Kami memanggilnya mas karena mereka berasal dari jawa dan memang orang jawa asli. Pada awalnya mereka tidak begitu akrab dengan kami terutama para wanita. Mungkin masih malu-malu kali ya. Tapi pada hari kelima aku dan Ayu sudah mulai akrab dengan mas adul.
Berawal dari kami berdua yang memang tidak ikut menunaikan ibadah sholat, jadi setiap kali magrib atau isya kami berada di dapur dengan para memei. Membantu mereka menyiapkan makan malam atau sekedar bercerita dengan para memei. Kalian berdua bukan muslim kah? tanya memei ibu raffles. Bukan mei, saya hindu dan dia kristen,jawab Ayu. Oh pantas saja kalian tra pernah saya lihat ikut sembahyang dengan mereka, ucap si memei.
Ternyata memei memperhatikan kita ya walaupun jarang ngobrol begini, ucapku. Iya dari sini selalu terlihat setiap pagi kalian tra pernah ikut sholat deng mereka, ucap memei satu lagi. Kami hanya senyum saja menanggapinya.
Tak lama kemudian,si mas adul datang ke dapur. Sepertinya masnya pintar masak nih dan sudah akrab juga dengan para memei. Tak lama aku dan Ayu pun akhirnya ngobrol dan menjadi akrab dengan mas adul. Ternyata memang benar mas adul jago masak. Dia suka membuat sambal dan menggoreng ikan. Sejak hari itu jadilah kami bertiga penghuni dapur dan ikut membantu para memei memasak. Aku dan Ayu yang memang tidak terlalu jago memasak kadang diejek oleh mas adul. Tapi tak apalah namanya juga masih belajar.
Berkat seringnya berada di dapur,maka para peserta lain menjuluki kami kelompok pemerhati dapur yang mereka singkat kpd. Sejak saat itu kami memiliki panggilan baru. Walaupun hanya memasak indomie dan ikan asin tapi rasanya selalu menyenangkan mengobrol dengan mas adul dan para memei.
Ada keuntungannya juga kami bertiga menjadi kpd, soalnya setiap kali menyiapkan bekal makan siang untuk ke hutan para memei selalu menyiapkan lebih untuk kami, bahkan ketika makan malam pun tak jarang para memei memberi kami lauk lebih secara diam diam. Hehe, lumayan juga jadi makan banyak nih.
Dari sekian banyak percakapan kami dengan mas adul akhirnya aku dan Ayu tahu bahwa mas adul adalah anak bungsu. Menurut ceritanya dia memang sangat menyukai alam dan memutuskan untuk bekerja seperti pekerjaannya sekarang, walaupun tidak dengan gaji yang besar tapi dia bisa menyalurkan hobi dan kecintaannya. Melalui pekerjaanya mas Adul sudah sering keluar masuk hutan di berbagai wilayah di Indonesia,termasuk ke hutan ini adalah kali keduanya.
Menurutnya bekerja bukan hanya sekedar mendapat gaji saja, tapi bagaimana dengan bekerja sesuatu yang menjadi passion dan kecintaan kita bisa terwujud dan kita enjoy menjalaninya adalah yang terpenting walaupun tidak dapat dipungkiri memang uang lebih penting dari semuanya kadang kadang.
Wah, jadi semakin senang mengambil jurusan kuliahku setelah mendapat pencerahan dari mas Adul. Sebenarnya di awal kuliah aku memang sempat pesimis dan merasa salah jurusa, tapi ternyata setelah melewati banyak hal justru membuat kecintaanku terhadap hutan dan alam semakin tinggi saja.
Di dalam hutan aku mengajak kedua temanku untuk berdiakusi. "Kayaknya bakalan hujan gede, kita balik ke camp aja gimana? ini besok aja dilanjut lagi, takutnya hujannya gede dan kita kejebak di sungai, ucapku. Kayaknya sih emang lebih baik kita balik ke camp aja teh, ujar Mat setuju dengan usulanku. Pasalnya lokasi kami kali ini lumayan jauh dari camp dan mereka tahu bahwa aku tidak bisa berenang. Gimana kalau sampai air sungai tinggi dan aku hanyut? Itu juga yang kutakutkan.
Tak hanya kami ternyata regu lain pun sudah kembali ke camp lebih dulu karena takut hujan deras dan terjebak di sungai. Mereka sedang menunggu kami regu yang belum kembali ke camp sementara hujan sudah mulai turun. Setelah berunding, aku, Dika dan Mat segera berlari keluar dari hutan.Tapi baru saja kami berhasil keluar dan tiba di tepi sungai, hujan sudah turun dengan derasnya. Air sungai di depan kami belum begitu tinggi sehingga kami mencoba untuk tetap menerobosnya walaupun baju sudah basah dan langkah kami di dalam air semakin sulit.
Baru setengah perjalanan air sungai semakin meninggi. Aku mulai panik karena takut terseret arus, apalagi saat ini kami membawa kamera.Apa jadinya kalau sampai kamera itu jatuh ke dalam air dan rusak?
"Teh, sini kameranya biar aku aja yang bawa, seru Mat dengan suara keras karena suara hujan dan arus sungai juga kencang. Aku memberikan kamera itu pada Mat. Mereka berdua memegangiku kiri dan kanan supaya aku tidak terjatuh karena arus sungai yang begitu deras. "Teh, bawa jas hujan gak? tanya Mat padaku. "Ada di tas tapi udah kepalang basah biarin ajalah gak usah dipake lagi, jawabku. Tadi karena terburu buru keluar dari hutan dan panik, kami memang tidak sempat memakai jas hujan padahal kami membawanya di dalam tas.
"Ra, apa kita ke pinggir sungai aja dulu, neduh gitu. Arus sungainya kencang banget?tanya Dika padaku. Tapi mas kalo neduh juga sama aja, lagian mau neduh dimana, takutnya ranting pohon pada jatuh, jawabku karena selain hujan deras juga angin kencang pada saat itu. Aku tahu mereka berdua menghawatirkan aku karena tidak bisa berenang, tapi tak apalah aku masih bisa berusaha tetap berjalan di dalam sungai ini meskipun lambat. Yang penting kami sampai ke camp.
Note :
tra :tidak (bahasa setempat di maluku utar termasuk halmahera)
deng : dengan atau bersama