Raffles

Raffles
Pedang Pattimura oleh-oleh dari pasar



Hari kedua berada di resort setelah keluar dari hutan.Hari itu tidak ada acara khusus, kami dibebaskan untuk melakukan hal yang kami sukai karena bertepatan dengan hari raya idul adha. Kantor sebenarnya tutup pada hari itu, tapi karena ada kami jadilah kantor tetap buka namun tidak ada kegiatan formal seperti biasa. Para pegawai yang tinggal di kantor pun hanya bersantai saja. Mereka bermaim game playstation bersama anak anak laki laki yang ikut bergabung. Ada hal menarik yang kami temui hari itu. Iya,adalah perayaan hari raya idul adha. Para warga berkumpul di suatu rumah yang sudah ditentukan dan mereka masak bersama daging kurban lalu membagi-bagikannya pada warga sekitat. Kami yang kebetulan me jadi warga tidak tetap (kami menyebutnya penghuni gelap) pun kebagian daging.Lumayan banyak, mungkin karena warga yang membagikannya melihat kantor resort ramai, jadi daging yang diberikan pun lebih banyak. Jadilah hari itu kami makan enak. Tapi siapa yang akan memasak? Tidak ada orang tua disana. Ada pun hanya bapak-bapak. Tidak mungkin jika mereka memasak untuk kami, malah harusnya adalah kami yang memasak untuk mereka.


Tidak ada yang bisa diharapkan. Akhirnya kami masak bersama-sama. Tidak peduli akan seperti apa rasanya nanti yang penting bisa dimakan saja sudah bersyukur. Untung ada Dea yang bisa diharapkan. Hanya dia yang jago memasak. Kami ramai hanya mengganggu saja sebenarnya, karena selain melihat-lihat Dea memasak tidak ada yang kami lakukan. Daripada hanya mengganggu saja, aku memutuskan untuk mencuci saja. Pakaian kotorku selama di hutan masih di dalam kantong plastik, belum kucuci. Tadinya ingin kubawa saja pulang dalam keadaan kotor seperti itu. Tapi masa iya, aku pulang membawa pakaian kotor? Akhirnya aku memutuskan untuk mencuci saja, mumpung matahari sedang terik. Supaya besok ketika akan berangkat ke balai cucianku sudah kering.


Setelah selesai mencuci, aku menjemur pakaianku di jemuran belakang kantor. Ternyata masakan Dea sudah jadi dan kami pun sarapan. Sudah pukul 10 pagi tapi kami baru mau sarapan. Maklum lah tidak ada yang mengurus kami disana. Untung masih ada yang mau memasak, jika tidak terpaksa harus mencari makan sendiri-sendiri di warung. Untung juga warga baik memberikan kami jatah daging kurban.


Selesai sarapan yang sudah terlambat itu, masing-masing orang kembali dengan kegiatannya. Beberapa orang pergi ke pasar.Ada pasar yang tidak begitu jauh dari kantor resort, begitu yang kudengar. Hanya saja aku tidak tertarik untuk ke pasar. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap di kantor saja bersama beberapa orang yang lain termasukAri, Dea dan Ayu. Lagi-lagi kami hanya bergibah seperti biasa sepanjang hari. Mereka yang pergi ke pasar tidak lain adalah untuk mencari oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang. Entah benda-benda apa yang akan mereka temukan disana.


Bosan hanya dengan duduk di bawah pohon mangga dan bergosip ria seperti ibu-ibu kami memutuskan membuat sesuatu dengan sisa buah kedondong yang dipetik oleh Madi kemarin. Akhirnya jadilah rujak kedondong yang diracik lagi-lagi oleh Dea. Kami hanya membantu makan saja seperti biasa. Enaknya punya teman yang bisa masak memang seperti itu.


Seminggu dari hari itu jadwal perkuliahan semester baru akan dimulai.Itu artinya kami harus mengisi KRS (Kartu Rencana Studi). Tapi bagaimana caranya? Jangankan untuk membuka internet, menelepon saja terkadang susah sinyal. Pada akhirnya terjadilah perjokian KRS.Pertama kalinya dalam sejarah selama kuliah aku mengisi KRS dengan bantuan teman (dijokiin), daripada tidak bisa ikut kuliah semester depan.Untung saja ada Ebi di Jakarta yang selaku siap sedia membantu. Ebi jugalah yang menjadi joki untuk mengisi KRS Dea, Ari dan Ayu. Semua mata kuliah dan jadwal yang kami ambil sama karena hanya diisi oleh satu orang saja.


Akhirnya aku bisa melihat langsung wujud pedang pattimura yang jadi ikon uang seribu rupiah itu. Bukan hanya melihat, tapi juga memegangnya. Sebelumnya gunung tidore yang juga merupakan ikon di uang seribu rupiah sudah berhasil kuabadikan dalam. bentuk foto, walaupun hanya dapat melihatnya dari jauh. Semoga saja suatu saat bisa melihatnya lebih dekat. Beruntung aku terpilih menjadi salah satu peserta ekspedisi ini sehingga bisa mendapat pengalaman luar biasa itu. Tinggal satu lagi yang kurang, yaitu makan papeda. Di resort kami memang tidak menemukannya, bahkan orang - orang yang sengaja ke pasar untuk mencari makanan khas itu pun tidak menemukannya. Hanya kurang beruntung saja. Semoga saja di balai nanti kami bisa menemukan makanan itu sebelum kembali lagi ke jakarta.


Bercerita tentang gambar di uang seribu rupiah itu adalah gambar kontur alam di Maluku tepatnya di pulau Maitara dan Tidore yaitu lokasi gunung Tidore yang kuceritakan di atas. Pulau tersebut adalah lokasi dimana Portugis pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah Maluku untuk berburu rempah-rempah berupa cengkeh, pala dan kaprah sebagai komoditas utama. Jika ditilik kembali, memang sepanjang perjalanan yang kami lalui sejak menginjakkan kaki di bandara Sultan Babulloh dan sampai ke lokasi taman nasional ini, memang masih banyak pohon cengkeh yang bisa kita jumpai sepanjang jalan dan di kebun-kebun masyarakat.


Pada masa penjajahan,harga rempah-rempah termasuk cengkeh dan pala yang dikenal memiliki banyak khasiat memang sangat tinghi dan bahkan kabarnya sampai melampaui harga emas. Hal itulah yang membuat para banhsa dari Eropa datang ke Indonesia untuk berburu rempah-rempaj tersebut. Oh iya, cengkeh dan pala merupakan dua komoditas rempah Indonesia yang terkenal dengam sebutan "Gemah Rempah Mahakarya Indonesia",dan saat masa penjajahan merupakan komoditas dagang utama.


Bercerita tentang pedang Pattimura itu, menurut cerita yang didapat Hamas dari pedagang yang dia temui di pasar, pedang yang memiliki ujung runcing tersebut pada dasarnya digunakan untuk kegiatan berburu di dalam hutan dan hingga sekarang masih digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Maluku termasuk di wilayah Halmahera dan Ternate, tempat kami berada saat itu.