
Malam semakin larut. Warung-warung sudah tutup dan rumah-rumah yang kami lewati sudah gelap pertanda pemiliknya sudah tidur.Asrama polisi yang tadi kami lewati pun sudah mulai sunyi. Sepertinya latihan mereka sudah selesai. Jalanan pun sudah semakin gelap,jam sudah menunjukkan hampir pukul 22 malam. Setelah mendapat sandal jepit titipan Dika dan puas berkeliling kami bertiga memutuskan untuk kembali saja ke balai. Mungkin setibanya disana karaokean sudah selesai.
Kami berjalan berbalik arah menuju balai. Sesekali ada satu dua kendaraan yang melintas di jalan raya yang kami lewati. Lampu jalan yang remang dan sunyinya jalanan membuat bulu kuduk sedikit berdiri, pasalnya kalau di Jakarta hampir tidak pernah jalanan sepi seperti itu. Bahkan seolah -olah manusia tidak pernah merasa lelah dengan aktivitasnya sehingga ada saja yang berseliweran di jalanan meski sudah larut malam.
Kami sudah semakin dekat dengan balai. Sayup-sayup terdengar suara orang menyanyi. "Belum selesai juga mereka karaokeannya, ucap Udin dan dibenarkan olehku dan Putra. Sepertinya sampai pagi deh itu, gumamku. Kami bertiga terus berjalan melewati rumah, warung dan gedung-gedung yang sama seperti yang kami lewati ketika tadi keluar dari gedung balai. Asrama TNI di dekat masjid yang tak jauh dari balai pun sudah sunyi. Tidak ada lagi kegiatan latihan dan baris-berbaris seperti yang biasa kami lihat beberapa hari selama di balai.
Setibanya di balai, gerbang masih terbuka. Satpam yang berjaga masih terlihat asik menonton televisi di pos nya. Kami memasuki gedung balai dan menyapa satpam yang sedang berjaga itu. "Jaga sendirian pak? tanya Putra.Iya nih tapi nanti ganti ganti shift jawab si bapak. Kami membungkukkan badan pada si bapak satpam sebelum berlalu menuju gedung balai. Setibanya di lantai 1 orang yang kucari tidak terlihat batang hidungnya. Iya aku sedang mencari Dika untuk memberikan sandal yang tadi dia titip.Tapi tidak terlihat di semua sudut ruangan lantai 1 itu. Memang sangat sepi di ruangan itu, sepertinya semua orang masih di halaman ruang baca.
Udin dan Putra sudah lebih dulu pergi ke sumber suara orang bernyanyi yang terdengar sejak dari jalan raya tadi. Mereka meninggalkanku di ruangan depan lantai 1 karena aku ingin mencari Dika dulu. Orang yang kucari tidak kutemukan disana, lalu aku segera ke halaman ruang baca. Benar saja semua orang masih berkumpul disana. Ada yang asik bernyanyi, berjoget bebas,tidur-tiduran di teras ruang baca sampai bermain kartu.Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling untuk mencari keberadaaan Dika. Nah itu dia, ketemu juga kau, gumamku setelah kulihat dia sedang memainkan ponselnya di dekat pintu ruang baca itu. Segera kuhampiri manusia satu itu dan kuberikan sandal titipannya tadi. "Nih sandalnya, jangan lupa dibayar tapi ya, ucapku sambil memberikan sandal di tanganku padanya. Berapa harganya? tanya Dika. Kuberitahukan harga sandal itu dan sesuai dugaan dia pasti akan bilang itu kemahalan. Laki-laki satu itu memang penganut prinsip irit-seirit-iritnya kalau mau membeli sesuatu. Kalau masih ada yang lebih murah kenapa harus cari yang mahal, adalah moto hidupnya. Itu udah yang paling murah mas, tau sendiri ukuran kakimu segimana, harga sandal tuh berdasarkan ukurannya kalau disini jelasku sebelum dia bertanya lebih banyak.
Iya nanti tak kasih uangnya, sekarang lagi ngga pegang uang, ucapnya. Yaudah gampanglah itu kapan pun bisa, jawabku lagi. Iya kalau aku ndak lupa ujarnya lagi. Huh dasar,itu mah kamu sengaja lupa bukannya gak ingat. Aku meninggalkan Dika menuju teman-teman yang lain. Kulihat Ayu dan yang lain sedang asik bermain kartu.Mending aku kesana aja deh.
Permainan kartu memang selalu seru. Tapi lagi-lagi aku hanya sebagai penonton karena sampai hari itu pun aku masih tidak tahu aturan mainnya. Daripada wajahku cemong lagi mending aku ngga usah ikutan, udah tahu pasti kalah terus ucapku ketika Ayu mengajak ikut bermain. Jadilah aku hanya melihat-lihat mereka bermain sambil mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan pak Rolan dan mereka mereka yang masih setia menemaninya.
Yasmin yang suka bernyanyi dangdut tiba-tiba mengusulkan untuk menyanyikan sebuah lagu dangdut dan langsung saja disambut baik semua orang. Semakin malam mereka semakin menggila. Lagu-lagu dangdut tiba-tiba bermunculan,hanya dinyanyikan sebait atau setengah lagu ganti ke lagu yang lain seperti itu terus sampai akhirnya pak Rolan bilang ingin menyanyikan sebuah lagu sedih. Lagu yang mengingatkan kalian pada ibu kalian, siapa tau ada yang rindu ibunya, ucapnya.
Musik mulai mengalun,pak Rolan mulai menyanyikan lagunya.
Sio mama e
beta rindu mau pulang e
sio mama e
mama su kurus lawang e
beta belum balas mama
mama pung cape sio doloe
jaga beta pung mama ee
brapa puluh tahun lalu
beta masih kacil e
beta inga tempo itu
mama gendong gendong beta
sambil mama bakar sagu
mama manyanyi buju buju
la sampe basar begini
beta seng lupa mama e
Lirik lagu itu dinyanyikan oleh pak Rolan dengan suaranya yang tinggi.Sempat membuat beberapa orang ikut bernanyi juga dan meski tidak begitu paham arti lagunya beberapa orang pun meneteskan air mata. Entah karena rindu dengan mama atau hanya terlalu mendalami lagu saja aku pun tidak tahu. Hanya saja aku juga ikut menangis. Entah karena lagu atau tanp kusadari memang aku sedang merindukan mama. Lagu itu seolah membuat perasaan rindu semakin dalam.
Lagu sio mama memang menceritakan tentang perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya dan rasa terima kasih sang anak untuk ibunya meski belum bisa membwri yang terbaik. Sebagai anak rantau,mendengar lqgu-lagu seperti ini memang sangat menguras energi. Seketika ingin pulang ke rumah saja kalau sudah mendengar lagu sedih macam itu.
"Gue jadi kangen mak gue kan, ucap Farhan sambil menghapus air matanya. Hahahah bisa juga ya cengeng kayak gitu. Kami malah mengejek Farhan yang kelihatan sedih, pasalnya sangat jarang anak itu menunjukkan sisi dirinya yang melow seperti itu. Farhan yang terkenal blangsak bisa nangis juga kalau kangen mamah ejek Alika. Gadis satu itu memang sangat jago kalau sudah bicara soal ejek-mengejek dan bergosip. Sampai-sampai dia punya nama panggilan ratu julid di kelas. Dimana mana dia selalu menjadi sumber gosip untuk teman-teman segengnya.
Lagi sio mama menjadi penutup konser malam itu. Pukul 1.00 dini hari satu per satu orang meninggalkan halaman ruang baca untuk segera pergi tidur. Hanya tinggal beberapa orang pegawai yang masih bermain kartu disana.