
Hari terakhir berada di resort sekaligus menjadi hari terakhir bertemu dengan para warga di kota itu. Mungkin termasuk Raffles dan kawan -kawan porter lainnya. Mereka bisa saja ikut bersama kami ke balai, tapi terlalu jauh jika mereka ikut dan harus kembali lagi ke desanya. Cukup malam perpisahan yang sudah terlaksana kemarin menjadi terakhir kalinya kami bertemu dengan mereka. Begitu pula dengan pak Roji, beliau sudah pulang ke rumahnya karena akan ada tamu dari Afrika yang mengunjunginya dan meminta bantuannya untuk menjelajahi hutan halmahera lainnya. Begitu lah terkenalnya pak Roji sampai ke negeri orang karena kehebatan yang dimilikinya. Bahkan menurut ceritanya dia sudah seringkali mendapat tamu dari luar negeri,biasanya mereka adalah para peneliti yang tertarik dengan hutan-hutan di bagian timur indonesia Ini. Pak Roji itu hanya lulus SD, tapi begitu pindah ke Halmahera beliau sangat tertarik dengan alamnya dan mempelajarinya. Beliau giat belajar bahasa inggris sehingga bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang dari luar negeri itu. Beliau pun menulis sebuah buku tentang pesona keindahan alam halmahera yang didapatnya melalui pengalamannnya sebagai pemandu lapang. Bahkan menurut ceritanya beliau bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi dengan upah yang diperolehnya sebagai pemandu lapang. Benar adanya "dimana ada kemauan disitu ada jalan".Pak Roji sudah membuktikannya.
Kembali pada cerita ke balai. Sejak subuh tadi kantor resort sudah gaduh. Kami sudah bangun dan mereka yang memiliki kewajiban menunaikan ibadahnya sudah melaksanakan sholat subuh. Bersiap untuk kembali ke balai, pagi pagi sekali kami sudah mandi dan memasak untuk sarapan. Selepas sholat subuh dan mandi, kami mulai mengeluarkan satu per satu carier-carier besar ke depan kantor. Menyusunnya berbaris disana supaya memudahkan untuk dimuat ke dalam truk nanti.
Tidak lupa juga kami merapikan kembali keadaan kantor itu,mengembalikannya seperti semula ketika pertama kali kami datang. Semua benda dikembalikan ke tempatnya masing-masing dan setelahnya kami sarapan bersama. Pukul 7 pagi semua barang sudah siap diangkut dan kami pum sudah siap berangkat. Hanya tinggal menunggu mobil yang akan menjemput kami datang. Tidak disangka-sangka Raffles, memei dan kawan-kawan porter datang ke resort pagi itu. Entah siapa yang berinisiatif,tapi mereka semua datang untuk melepas kami pergi ke balai. Terharu rasanya, mereka menganggap kami seperti keluarga bahkan pagi itu mereka menyempatkan waktunya untuk datang melihat kami berangkat ke balai.
Tangis para memei itu tak terbendung kala satu per satu kami mencium punggung tangannya dan memeluknya untuk pamitan. Ibu Raffles memelukku lama, memei berpesan untuk tidak melupakan mereka meski nanti aku sudah berada di jakarta. Beliau memberiku sebuah kertas berisi nomor telepon dan sebagai gantinya kutuliskan nomor ponselku di sebuah kertas dan kuberikan padanya. Anak kecil bernama Raffles itu pun turut ikut bersama orang tuanya untuk melihat kami.
"Dia tra mau sekolah karena ingin lihat kakak-kakak, begitu kata memei ketika aku bertanya kenapa Raffles ikut ke resort. Kupeluk anak kecil itu cukup lama dan ada rasa sedih di hatiku ketika kulihat dia menangis. Entah aku seperti melihat adik kandungku sendiri ketika melihat anak itu. Membuatku rindu rumah saja. "Kakak Ira jangan lupa deng Raffles, nanti telepon Raffles e katanya ketika kupeluk dia. Aku hanya menganggukkan kepala membalas ucapannya. Setelah pamitan kepada semua orang yang ada di resort itu kami masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu untuk membawa kami menuju balai.
Gak nyangka euy mereka nyamperin kita sepagi ini, kata Ical ketika kami sudah di dalam mobil. Iya, jadi sedih,emang ya kalo hari-hari terakhir tuh kayak gitu, balas Ayu. Memang benar, hari-hari terakhir berada di suatu tempat sering membuat tidak ingin beranjak. Ada saja yang membuat rasa hati berat untuk pergi, tapi kami tetap harus pergi. Ada tugas lain yang sudah menunggu kami. Bila saja waktunya bisa lebih lama.
Udara pagi itu terasa sangat segar, kami membuka kaca mobil untuk merasakan segarnya. Perlahan tapi pasti mobil-mobil itu bergerak semakin menjauhi kantor resort. Ini masih pemanasan, sebelum nanti para supir yang membawa kami mulai beraksi seperti beberapa minggu lalu saat mengantar kami menuju resort. Terlihat warga desa yang kami lewati melakukan aktivitas mereka. Sudah pukul 8 pagi dan terlihat masih ada anak sekolah di jalan raya. Mungkin sekolah mereka masuk siang dan jauh, jadi mereka masih di jalan. Hampir tidak ada kendaraan umum yang lewat, hanya ada beberapa motor dan mobil-mobil bermuatan yang lewat di jalan raya. Jalanan terlihat lengang, jauh dari kata macet karena memang yang kami lewati bukan kota besar.
Terlihat di beberapa rumah para ibu-ibu berkumpul.Sepertinya mereka sedang bergosip. Kebiasaan ibu-ibu di seluruh Indonesia sepertinya sama saja,bergosip di pagi hari. Hanya saja jarang ada tukang sayur yang lewat di kota itu seperti yang ada di kota-kota seperti jakarta. Jika ada ibu-ibu yang bergosip ria itu akan bergosip sambil belanja sayuran di pagi hari. Sedang ada perbaikan jembatan ketika kami lewat sehingga mobil-mobil yang membawa kami masih melaju dengan kecepatan normal. Setelah ini jika jalanan sedikit lebih baik, mungkin akan terjadi lagi aksi balapan seperti beberapa minggu lalu.
Benar saja, setelah jembatan itu lewat salah seorang supir seperti memberi aba-aba melalui lambaian tangannya dan seketika itu juga terjadilah aksi balapan gila-gilaan itu. Isi perut kami terasa seperti diobok-obok.Setelah beberapa saat mobil kembali melaju dengan normal. Terlihat pohon-pohon cengkeh dan kelapa di sepanjang jalan. Ada pula beberapa orang yang sedang memanen cengkehnya.Di beberapa halaman rumah terlihat hamparan buah cengkeh yang sedang dijemur dan wanginya bahkan sampai ke hidung kami ketika lewat.
Warga kota yang kami lewati sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Terlihat ada yang sedang menggembalakan ternak sampai yang hanya duduk-duduk santak di bawah pohon di depan rumahnya. Beberapa warung mulai buka dan menjajakan dagangannya. Kami berhenti di sebuah warung kecil untuk membeli snack di perjalanan sementara supir yang mengendarai mobil kami membeli rokok.