
Snack dan air minum sudah lengkap di dalam mobil. Setidaknya bisa mengusir kantuk dan rasa mual ingin muntah ketika nanti tiba-tiba mobil ini melaju seperti kesetanan lagi. Beberapa mobil mengangkut barang mulai banyak yang lewat di jalan, berpapasan dengan mobil-mobil yang kami tumpangi. Mereka ramah. Para supir saling melambaikan tangan ketika berpapasan, entahlah mereka saling mengenal atau tidak tapi bagiku itu suatu hal yang sulit kulihat jika sudah di jakarta.
Laut di seberang mulai terlihat, sinar matahari mulai meninggi dan membuat air pantai terlihat berkilau. Indah sekali pemandangan pagi itu. Perjalanan kami menuju balai masih jauh. Kemungkinan kami akan tiba ketika hari sudah siang, selepas dzuhur mungkin begitu kata pak Rolan. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi berhenti untuk sekedar meregangkan otot para supir atau untuk membeli snack di warung-warung kecil yang kami lewati. Beberapa kali pula penjaga warung akan bertanya "dari jawa kah? kepada kami ketika kami mampir di warungnya. Mereka mengidentikkan orang-orang berkulit putih dari Jawa. Memang sepanjang jalan hanya orang-orang berkulit hitam dengan rambut keriting yang kami jumpai.
Semakin siang matahari semakin terik dan jalanan yang kami lalui menjadi kering dan berdebu. Kaca mobil yang tadinya terbuka terpaksa kami tutup untuk menghindari debu-debu yang masuk ke hidung. Maklum,sebagian besar jalanan yang kami lalui belum diaspal. Memang sudah rata dan bagus, hanya saja belum seluruhnya diaspal sehingga jika sudah siang jalanan itu akan berdebu dan kering. "Pak, masih lama kah? tanyaku pada supir yang membawa mobil yang kami tumpangi. Lumayan, tidur saja kak kalo bosan jawab si supir. Sebenarnya aku bukan bosan, hanya merasa kok lama banget gan nyampe-nyampe? Padahal sebelumnya pun kami sudah melalui jalan itu ketika ke resort tapi tetap saja rasanya jauh dan lama.
Seakan tahu kami sudah mulai bosan, sang supir menyetel lagu di dalam mobil. Untung saja, setidaknya bisa sedikit mengusir rasa kantuk dan bosan manusia-manusia di dalam mobil itu. Ketika sudah mulai memasuki kawasan perkotaan yang sedikit lebih kota dari sebelumnya, mulai lah muncul sinyal di ponsel kami. Pasalnya sejak dari resort tidak ada sinyal yang bisa ditangkap oleh provider di ponsel kami. Mumpung ada sinyal,buru-buru Ical menelepon pacarnya di jakarta lewat fitur videocall di Whatsapp. Setelah beberapa minggu susah berkabar, mungkin dia sudah sangat merindukan pacarnya itu. "Yee dasar bucin, serempak kami semua meneriaki Ical tapi seolah tidak peduli dia asik berceloteh dengan pacarnya di telepon. Sesekali kami menimpali percakapan mereka.
Sudah mulai dekat nih, gak lama lagi kita udah mau sampe, pak supir memberitahu kami. Ah, syukurlah, sejak tadi rasanya badan kami sudah sangat pegal duduk di dalam mobil. Pantat gue sampe kebas, duduk lama banget canda Aldi ketika tahu sebentar lagi sampai. Mobil-mobil yang membawa kami masih berjalan beriringan,jika dilihat ke depan dan belakang akan lebih mirip rombongan caleg yang sedang kampanye atau rombongan besan yang berangkat menuju hajatan. Ramai dan beriringan rapi.
Kami melewati sebuah pantai. Terlihat lumayan ramai.Ada banyak warung yang menjual ikan dan makanan makanan lainnya berjejer disana.Pantai itu terlihat bersih, tidak ada sampah bertebaran dimana-mana dan air pantai masih terlihat biru. Enak kali ya kalo siang-siang gini renang di pantai, seru Dea. Mau? kita bisa mampir sebentar ini, sang supir malah menawarkan untuk berhenti di pantai. Ngga pak, bercanda saya jalan aja nanti ketinggalan sama yang lain,ucap Dea.Mungkin dia tidak menyangka pak supir itu akan menawarkannya.
Sebenarnya aku tidak ingin kemana-mana. Hanya ingin segera tiba di balai agar bisa meregangkan otot-otot yang sudah kebas karena sudah terlalu lama duduk di dalam mobil. Setidaknya jika sudah sampai di balai,kami bisa berbaring untuk meluruskan badan. Itu saja, tapi tampaknya jalan masih panjang. Meski pak supir sudah bilang dekat, siapa yang tahu jarak dekat yang dia maksud. Mungkin harus melewati bukit lagi seperti yang dulu terjadi di hutan. Jarak dekat yang mereka maksud bagi kami maaih sangat jauh.
Disini pasar cuma ada sekali seminggu dan sampai sore, mereka juga buka bukan pagi-pagi sekali paling mulai jam 7 atau 8 pagi. Pak supir menjawab pertanyaan kami. Oh pantas saja masih ramai sampai sesiang ini. Tiba-tiba suatu bau yang sangat familiar dan enak hinggap di hidung kami ketika melewati penjual buah. Iya bau durian.Siapa yang tidam suka dengan buah yang satu itu. Seolah tahu dengan apa yang kami pikirkan, pak supir menepikan mobilnya dan mengajak kami untuk membeli durian itu. Wah, baik sekali bapak supir ini pikirku.
Sebenarnya kami sudah tertinggal dari rombongan,tapi biarlah toh sudah dekat juga. Lagipula sayang kalau sampai makanan enak itu dilewatkan. Kami pun turun dari mobil dan menghampiri pedagang durian itu. Si ibu menjajakan dagangannya dengan lancar menggunakan logat ketimur timuran. Pak supir memesan untuk kami lalu si ibu pedagang memilihkan buah durian yang menurutnya oke kemudian membukanya.
Wah beruntung sekali kami bisa menikmati buah enak itu di tempat ini, pikirku. Pasalnya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku makan durian. Ternyata bukan hanya aku, semua teman-temanku satu mobil pun sangat menggemari buah berdaging legit itu. Kami makan sampai 5 buah durian.Ketika hendak membayar, tiba-tiba pak supir mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayarkan semua yang kami makan. Lumayan mahal juga, padahal kami sudah berencana patungan. Baiklah anggap saja rezeki anak sholeh, hehe.
Segera kami masuk kembali ke dalam mobil dan mobil pun melaju di tengah keramaian pasar. Sepertinya rombongan yang lain sudah sampai di balai, tidak ada lagi mobil-mobil yang tadi beriringan dengan kami. Kami mungkin akan jadi yang paling terakhir sampai di balai. Tapi tidak apa-apa, terima kasih pak supir yang baik hati sudah mentraktir kami hari ini.
##
Terima kasih untuk semua yang sudah mampir dan like,juga komen ya. Semoga semakin banyak lagi yang mampir kesini. Episode selanjutnya akan segera di up😊😊