
Hari berganti dengan cepat.Setelah cukup tidur, pagi ini kami berkemas dan menunggu datangnya mobil jemputan ke lokasi perkemahan.Ya hari ini perjalanan sesungguhnya akna dimulai. Tak lama kemudian sebuah truk besar berhenti di tepi jalan tak jauh dari lokasi kemah kami. Kurasa truk itu yang akan membawa kami dari sini.Setelah menerima instruksi dari ketua regu yang akan memimpin perjalanan kami, satu per satu kami menaiki truk besar tersebut.
Perjalanan hari ini akan dimulai dengan mengunjungi kantor resort yang menjadi wilayah pengelolaan tak jauh dari bibir hutan yang akan kami tuju. Di kantor tersebut kami akan beistirahat sebentar dan menyimpan barang barang yang tidak dibawa ke hutan. Perjalanan dimulai.Angin segar menerpa wajah kami satu per satu. Udara pagi ini terasa begitu hangat dengan angin yang berhembus tidak terlalu kencang dan sinar matahari yang mulai naik ke permukaan.
Tak berapa lama kemudian kami telah tiba di kantor resort. Setelah menyimpan barang barang kami membeli camilan di sebuah warung dekat kantor untuk perbekalan di jalan dan juga di hutan nantinya. Kami memang manusia manusia yang tidak tahan lapar,kami kuat berjalan kaki ratusan bahkan rb
ribuan kilometer,keluar masuk hutan tak masalah bagi kami. Tapi ketika lapar kami tak akan tahan.
Setelah semua urusan di kantor resort selesai maka. kami melanjutkan perjalanan menuju hutan dengan masih menumpangi truk besar tadi. Truk ini hanya akan mengantar kami menuju jalan raya di dekat bibir hutan. Lalu kami akan berjalan kaki sampai ke lokasi yang sudahv ditentukan. Kabarnya kami akan butuh sekitar 8 hingga 10 jam untuk sampai di lokasi tersebut. Waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi ketika kami sampai di bibir hutan.Berarti kami akan sampai di lokasi kemah sekitar pukul 5 atau 6 sore nanti jika tidak terlambat.
Disinilah aku melihat seorang anak kecil yang akan jadi bagian dari kegiatan kami kali ini. Dia datang bersama ayah dan ibunya yang bertugas sebagai porter. Sang ibu akan bertugas memasak dan menyiapkan makanan selama kami di butan sedangkan sayahnya akan menjadi pendamping ketika kami memasuki hutan belantara untuk mengambil data yang dibutuhkan.
Si anak masih sangat kecil. Kutebak usianya sekitar 8 tahunan. Dia menggunakan sepatu boot kecil yang terlihat pas di kakinya. Kami semua pun juga menggunakan sepatu boot karena jika dibandingkan dengan sepatu gunung atau sandal,sepatu boot ini akan mempermudah langkah kami ketika harus masuk ke dalam air atau melangkahi semak semak berduri. Tapi para porter yang ikut lain lagi. Mereka hanya menggunakan sandal jepit bahkan tanpa alas kaki, karena saking seringnya mereka keluar masuk hutan sehingga kakinya sudah kebal. Begitu juga dengan ibu si anak kecil dan satu ibu lainnya, mereka hanya menggunakan sandal jepit saja sebagai alas kakinya.
Seorang teman memimpin kami berdoa sebelum memulai perjalanan. Satu per satu mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam area hutan. Di awal perjalanan tak banyak rintangan yang kami hadapi. Hanya rumput-rumput atau pohon kecil di sepanjang jalan. Kiri kanan jalan dipenuhi dengan bermacam macam bunga anggrek. Kata para porter itu adalah anggrek hutan dan masih akan banyak lagi kami temukan setelah berada di tengah hutan nantinya.
Sepanjang perjalanan aku mengamati berbagai jenis tumbuhan yang kutemui. Kelihatannya sangat berbeda dengan yang sering kulihat di Jawa. Mungkin karena baru pertama kali melihat dan sambil berjalan jadi tidak gampang untuk mengenali jenis tumbuhan disini pikirku. Kami terus melanjutkan perjalanan dan sesekali istirahat untuk memulihkan tenaga.
Kini kami sudah mulai memasuki tengah hutan. Hari sudah semakin siang, jam menunjukkan pukul 11 siang tapi sepertinya kami masih belum setengah perjalanan. Semakin lama badan kami semakin lelah dan langkah pun sudah semakin lambat. Setiap berjalan 2 km kami berhenti untuk memulihkan tenaga di pinggir sungai. Ya perjalanan ini sudah didominasi sungai yang membentang panjang entah sampai kemana.
Para pendamping yang dari kantor dan kami mahasiswa sudah sangat kelelahan. Tapi berbeda dengan para porter yang ikut mereka seperti tidak merasa lelah sama sekali. Bagaimana mereka bisa terlihat santai ketika kami semua sudah kehabisan tenaga? Pasalnya menurut cerita salah seorang dari porter tersebut, biasanya mereka hanya butuh waktu 3 jam untuk keluar masuk hutan dan bagaimana bisa mereka menungguinya kami yang bahkan belum setengah perjalanan saja sudah kelelahan. Wajah sudah memerah dan keringat dimana mana, padahal matahari ridak terlalu panas karena terhalang pohon pohon besar dalam hutan.
Jam menunjukkan pukul 12.30 dan kami memutuskan untuk makan siang di pinggir sungai tempat istirahat kali ini. Semua orang mengeluarkan bekal makan siang dari tas masing-masing. Bekal makan siang kali ini dipersiapkan oleh orang yang membantu kami selama di perkemahan tempo hari. Sebelum berangkat ke kantor resort tadi, kami sudah diberi bekal makan siang masing masing satu bungkus nasi.
Makan di pinggis sungai ditemani suara arus ternyata menyenangkan juga. Anak kecil yang tadinya tidak mau kami ajak bicara,sedikit demi sedikit mau mendekati kami. Lalu aku tahu namanya Raffles. Unik menurutku, karena setahuku nama Raffles adalah nama bunga bangkai terbesar di Indonesia, Rafflesia arnoldi. Kenapa orang tuanyaeberi dia nama itu? pikirku. Ah sudahlah bukan urusanku juga. Raffles terlihat sangat menikmati makan siangnya. Hebat juga anak itu, wajahnya tidak terlihat lelah sama sekali walaupun sudah berjalan sampai sejauh ini.
Memei adalah sebutan untuk kedua wanita porter yang ikut bersama kami,dimana salah satunya adalah ibu Raffles. Memei berarti ibu, dan biasanya mereka memang dipanggil seperti itu. Dari cerita memei aku tahu ternyata Raffles sudah sering diajak ke hutan setiap kali orang tuanya mendapat tugas seperti ini. Dia punya seorang kakak perempuan tapi tak mau ditinggal berdua di rumah setiap ayah ibunya ke hutan. Lalu bagaimana dengan sekolah? Ya Raffles berusia 8 tahun dan seharusnya dia ada di sekolah bukan malah ke hutan seperti sekarang.
Anak itu adalah murid kelas 2 SD di desanya. Tapi peraturan sekolah disini cukup unik juga menurutku. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah berburu atau nelayan disini. Seperti orang tua Raffles mereka adalah pembur,sejak beberapa tahun lalu mereka sudah terlibat dengan kantor taman nasional tempat kami melakukan ekspedisi dan ditugaskan menjadi porter setiap kali ada kunjungan seperti kami sekarang ini. Dengan menjadi porter,mereka bisa berhari hari atau bahkan berbulan bulan tinghal di hutan. Ketika itu terjadi maka Raffles akan libur sekolah dan pihak sekolah tidak mempermasalahkan hal tersebut.