
Kami terus berjalan menyusuri sungai dan jalan yang sama seperti 10 hari yang lalu. Karena ketinggalan rombongan, mau tidak mau kami harus mempercepat langkah. Untung saja rombongan yang lain masih menunggu kami. Mereka sengaja istirahat sekaligus makan siang sambil menunggu kami yang ketinggalan.
"Lama kalian, ujar pak Rolan begitu kami tiba di tempat mereka istirahat. Iya nih pak, bocah bocah ini asik foto-foto tadi di air terjun ucap mas Adul. "
Loh kan dia juga ikut, enak aja nyalahin kita doang, batinku. Padahal kan yang ajak mas Adul awalnya,bisa bisanya dia malah menyalahkan kami. Yasudah cepat makan semuanya, keburu sore nanti hujan, ujar pak Rolan agar kami segera bergegas. Setelah semua sudah makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Kaki-kaki yang beberapa hari lalu terserang kutu air semakin gatal dan nyeri karena lembab di dalam kaus kaki ditambah air sungai yang masuk ke dalam sepatu boot kami. Tapi kami tetap harus jalan, siapa yang mau menggendong coba? Lagipula tidak ada kendaraan juga di hutan seperti itu jika kami cengeng. Bisa - bisa ditinggal jadi santapan binatang liar di hutan.
Lelah berjalan satu per satu anak mulai mengeluh lagi. Air minum yang dibawa juga sudah kosong. Yasudah terpaksa minum air sungai lagi. Tidak apa-apa anggap saja air sungai itu sehat, supaya tidak sakit perut kalaupun diminum. Ayo semangat guys, bentar lagi ketemu peradaban, Farhan menyemangati kami, padahal sendirinya sudah kelihatan sangat lelah. Bagaimana tidak, sejak tadi dia membawa dua carier depan belakang. Tapi memang anaknya selalu ceria.
Para porter seperti biasa sudah jauh di depan. Mereka tidak sabaran menunggu kami yang berjalan lambat seperti keong. Truk nya sudah datang, ayo cepat teriak pak Rolan. Ya lagi lagi kami memang akan naik truk besar seperti waktu 10 hari lalu. Sebentar lagi sudah jalan raya, semangat teriak Bagus. Gue bakalan sujud di aspal kalo udah nyampe jalan raya. Sekangen itu gue sama jalanan, ucap Bagus.
Kita lihat aja nanti,kami hanya mengejek omongan ngaco Bagus. Sayup-sayup mulai terdengar suara kendaraan.Artinya sudah tidak lama lagi kami akan tiba di jalan raya. Tapi hari sudah sore, pukul 3 sore. Kali ini meski lambat tapi kami tidak selambat 10 hari lalu. Memang benar kata orang, jalan pulang selalu terasa lebih cepat daripada waktu berangkat.
Dan benar saja si Bagus benar-benar sujud begitu kami tiba di jalan raya. "Dasar gendeng, ucap Dika. Hahaha memang ada ada saja kelakuan teman temanku itu. Untung saja jalan raya itu sepi tidak seperti di Jawa.
Kami segera menyusun barang barang ke dalam truk karena langit sudah tampak mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Segera satu per satu naik ke atas bak truk besar itu setelah semua barang sudah disusun rapi. Seperti biasa istilah " ladies first"selalu berguna di saat saat seperti itu. Maka para perempuan naik duluan ke rruk disusul laki laki.
Para porter tidak ikut dengan kami. Mereka melambaikan tangan ketika kami sudah berada di atas truk."Dadah Raffles, dadah memei ucapku keras keras. Terlihat wajah para memei menahan tangis melihat kami pergi. Tapi mereka juga harus pulang ke rumahnya masing-masing. Truk melaju dengan kencang, kondisi jalanan yang lengang membuat supir truk itu tidak takut mengemudikan truknya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Berbeda halnya dengan aku, Ayu, Dika, Mat, Putra,Dea dan Dani. Kami lebih memilih mendatangi sebuah warung tidak jauh dari kantor. Iya, warung bakso. Memang dasar lidah dan perut micin, sudah hampir 10 hari makan indomie tapi tetap saja yang pertama dicari mie lagi ketika sudah di peradaban.
Ternyata bukan hanya kami, pak Roji dan mas Adul malah sudah duluan ada di warung bakso itu. Pengen makan enak euy, micin micin gini emang paling enak, kata mas Adul ketika kami makan bakso. Ternyata yang punya warung orang Jawa asli. Memang sebagian besar penduduk kota itu sudah rata-rata orang Jawa yang ikut bermigrasi ke Halmahera. Terciptalah radio jawa begitu kami menyebutnya ketika Dea, Mita dan Dika ditambah mas Adul asik ngobrol dengan empunya warung itu.
Kami yang tidak mengerti hanya manggut-manggut saja terlihat paham padahal tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Mereka ketawa kami ikut dan selebihnya kami malah membuka forum di dalam forum. Daripada ngga ngerti apa yang mereka bahas, lebih baik bikin pembahasan lain, kata Dani.
Sore yang indah, setelah hujan tadi terlihat pelangi di langit. Di depan kantor resort itu adalah lapangan bola. Banyak Anak-anak bermain disana tidak peduli hari sudah sore,mereka masih saja asik bermain. Hanya jeweran di kuping yang membuat mereka berhenti dan pulang ke rumahnya masing-masing. Ya,jeweran emak memang paling ampuh di kala seperti itu.
Setelah mandi dan sudah kenyang kami lebih memilih menikmati sore di depan kanto,ditemani gorengan yang baru saja dibeli Ari dari warung ibu sebelah. Kalau sudah ngobrol memang sering membuat lupa waktu. Hingga tidak terasa sudah waktunya sholat magrib.Mereka yang berkewajiban segera menunaikan sholatnya sedangkan kami yang tidak lebih memilih melanjutkan obrolan gibah yang tidak berfaedah itu. Tidak berfaedah tapi tetap seru jika dibahas. Namanya juga gibah.
Di belakang kantor itu ada sebuah pohon kedondong. Ternyata Madi dan kawan-kawannya sedari tadi disana. Mereka memetik semua buah kedondong yang sudah bisa dimakan, lalu membawanya pada kami. "Apa ngga asem? aku bertanya pada Madi. Cobain aja dulu teh, enak kok,jawab Madi. Ternyata benar, buah kedondong itu masih bisa dinikmati, karena tidak terlalu masam seperti yang kubayangkan.
Eh kesana yuk, ajak Dea ketika dilihatnya ada anak-anak muda yang berkumpul di tengah lapangan bola di depan kantor itu. Mereka sepertinya sudah biasa nongkrong disana, sambil bernyanyi-nyanyi. Terlihat seru, maka kami bertiga menuju ke lapangan itu. Kami memang tinggal bw
bertiga setelah tadi teman yang lain dalam geng kami pergi sholat berjamaah di masjid tidak jauh dari kantor. Di dalam kelompok memang. selalu ada kelompok kecil dan begitu juga kami. Saling membentuk geng masing-masing di dalam kelompok ekspedisi itu. Selain karena angkatan yang berbeda, juga obrolan per angkatan biasanya beda pula maka geng kami dibentuk sesuai angkatan.