Raffles

Raffles
Budukan 2 (Kutu air)



Ih ih si firman kakinya budukan guy.Farhan memberitahu semua orang di camp itu setelah melihat kaki Firman. Ternyata bukan hanya Firman tapi semua anak dari tim goa memang mengalami hal yang sama. Kaki mereka budukan semua. Selidik punya selidik ternyata mereka terkena kutu air. Mungkin karena akhir akhir ini hujan terus dan kakinya selalu terbungkus di dalam sepatu boot sepanjang hari, menjadikannya lembab dan kuma lebih mudah berkembang. Tapi bagaimana pun kami harus melewati sungai setiap kali menuju camp, bahkan mencuci piring pun di sungai. Jadi tidak mungkin jika kaki kering.


Karena insiden budukan tersebut, mulailah semua orang menjemur sepatu atau sandal yang baru dipakai. Walaupun tidak mungkin kering karena hujan juga masih turun hingga hari ke delapan kami, tapi setidaknya tidak begitu lembab. Muncullah ide kreatif seorang anak bernama Vivi untuk membantu mencegah kaki terkena kutu air. Ia membungkus kakinya dengan plastik bening setiap kali ingin ke sungai. Untungnya sudah hari ke delapan dan data kami sudah cukup untuk semua tim. Jadi besok kami bisa santai di camp sambil merapikan data data yang sudah ditemukan. Mencatat di buku atau menginputnya ke laptop yang sudah dibawa.


Jika diam di camp,maka kemungkinan untuk kena kutu air bisa diminimalisir.Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Memasuki hari ke sembilan,hampir semua anak terkena kutu air. Hanya tinggal beberapa orang termasuk porter yang masih bertahan dari penyakit buduk itu. Aku masih aman.Untungnya mas Adul sudah antisipasi dengan kejadian itu. Berdasarkan pengalamannya pertama kali ikut ekspedisi di hutan Halmahera dua tahu lalu, juga semua orang terkena kutu air,karena memang sedang musim penghujan. Maka mas Adul, sudah menyiapkan obat yang dinilainya manjur untuk mengobati penyakit buduk itu. Salep 88 namanya.


Di hari ke sembilan Putra mengajakku ikut dengan timnya untuk melihat air terjun. Putra adalah salah satu anggota tim ekowisata. Tim kami bukan hanya terdiri dari tim satwa dan tumbuhan saja tetapi juga Ekowisata. Tim ekowisata tersebut bertugas mendata potensi potensi yang memungkinkan untuk dijadikan wisata di dalam sebuah lokasi. Bahkan di dalam hutan pedalaman sekalipun pasti ada hal yang potensial. Menurut Putra dan tim nya banyak di hutan itu yang bisa berpotensi dijadikan sebagai kawasan wisata khusus, seperti air terjun dan site site yang bisa digunakan untuk melihat burung burung terbang. Indonesi timur memang surganya burung burung cantik. Bukan hanya cendrawasih tapi masih banyak jenis yang lain.


Putra mengajakku ikut. Aku pun setuju saja dan ternyata Mat juga tertarik. Kami pergi setelah makan siang ditemani oleh salah satu porter bernama bang Tukur. Karena yang akan kami tuju adalah air terjun dan menyusuri sungai bang Tukur sengaja membawa tombak dan jaring. Siapa tahu ada ikan atau udang yang bisa didapat nant, begitu katanya.


Benar saja di tengah hutan belantara itu ada sebuah air terjun yang sangat indah. Susunan batu batu di bawahnya terlihat rapi seperti membentuk sebuah bangunan. Tentu saja air sungainya pun jernih. Banyak titik yang bisa dijadikan spot foto, jika hanya ingin mendapat foto yang instagramable saja. Hanya karena sangat jauh di dalam hutan, tidak semua orang bisa menjangkaunya. Oleh karena itulah disebut objek wisata terbatas atau wisata khusus.


Tidak hanya air terjun, bang Tukur membawa kami ke suatu tempat yang bisa jadi rekomendasi jika ingin melihat burung burung indah. Benar saja,dari tempat tersebut terlihat sebatang pohon yang sepertinya sudah sangat lama menjadi sarang berbagai jenis burung. Melihat secara langsung kakaktua putih,julang dan berbagai jenis burung paruh bengkok lainnya memang sangat menakjubkan.


Aku sempat mengabadikan beberapa foto di air terjun dan spot spot yang kami datangi. Untung saja Putra mengajakku, selama 8 hari aku dan timku hanya berkutat dengan pohon pohon di hutan itu saja. Anggap saja refreshing, walaupun jauh dan melelahkan tapi semua terbayar ketika sudah melihat keindahan alam yang disuguhkan.


Bukan hanya melihat tempat tempat yang indah, kami juga berhasil menangkap beberapa ikan sogili. Bang Tukur memang hebat menggunakan tombak yang dia bawa.Kami kembali ke camp dengan ikan sogili yang berhasil ditombak bang Tukur.Malam ini kita makan enak, kata memei saat kami tiba di camp dan memberikan hasil tangkapan itu untuk dimasak. Malam itu pula aku baru tahu rasa daging katak.


Usut punya usut setelah makan malam, beberapa orang laki laki dan porter termasuk pak Rolan berangkat ke sungai ingin mencari udang. Tapi mereka hanya mendapat sedikit, karena sore sempat turun hujan maka lantai hutan lembab dan banyak katak keluar sarang. Mereka akhirnya pulang ke camp membawa katak katak itu dan udang hasil tangkapannya lalu memasaknya di dapur camp. Karena penasaran maka aku ikut mencobanya dan seumur hidupku untuk pertama kalinya aku makan daging katak.


Sebenarnya rasanya tidak ada yang aneh, lebih mirip seperti daging ayam.Tapi jika dibayangkan lagi rasanya jijik saja. Tapi ya namanya juga di lapangan apa saja bisa jadi makanan. Termasuk melinjo bakar juga,dan ternyata enak. Malam itu memang kami sengaja begadang, karena sudah hari terakhir di camp. Besok kami akan kembali ke resort. Banyak hal yang kami lakukan termasuk makan daging katak, ngemil buah melinjo bakar yang ternyata ada di dekat camp dan buahnya banyak berjatuhan sampai membuat gelang dari akar-akar pohon yang kami temukan di hutan. Rizky yang membawa akar akar itu ke camp dan katanya bisa dijadikan gelang. Maka malam itu itulah yang kami kerjakan. Eh tapi tunggu dulu, kok sepertinya sela sela jari kakiku mulai gatal?Usut punya usut ternyata sandal yang kigunakan ke air terjun tadi belum dijemur dan masih lembab.Dan yah, aku ikut budukan. Kakiku terkena kutu air,padahal besok sudah mau kembali.Kena di hari di detik detik terakhir ibarat main game sudah hampir menang tapi gagal di detik terakhir itu rasanya sesuatu sekali.


Nb:


wisata terbatas /wisata khusus adalah sebutan untuk kegiatan wisata yang hanya dilakukan oleh orang orang tertentu. Misalnya kelompok peneliti yang melakukan suatu penelitian di sebuah pedalaman dan menemukan suatu tempat yang indah dan berpotensi dijadikan sebagai tempat wisata, maka boleh dikatakan tempat tersebut masuk dalam objek wisata terbatas. Seperti kegiatan pengamatan burung yang hanya dilakukan oleh orang krang atau komunitas pecinta burung.