Raffles

Raffles
Di dalam hutan (2)



Setelah melalui perjalanan dan waktu yang cukup panjang sampailah kami di tengah hutan. Disini suasananya jadi lebih seram, pohon-pohon besar dan tinggi mulai banyak ditemukan, aliran arus sungai semakin deras ditambah hari yang sudah mulai gelap menjadikan suasana sedikit mencekam.


Raffles dan para porter yang lain sudah tak terlihat bersama kami. Ah mungkin mereka sudah tiba duluan di camp. Hanya tersisa dua orang porter yang menemani perjalanan kami. Mereka pemuda desa setempat. Konon katanya di dalam hutan ini masih ada suku pedalaman yang mendiami. Di beberapa sudut hutan masih terdapat rumah-rumah masyarakat suku. Benar saja setelah berjalan semakin jauh kami menemukan sebuah gubuk kecil mirip tak berpenghuni. Menurut cerita porter yang mendampingi kami,itu adalah rumah yang ditinggalkan oleh masyarakat suku karena mereka memilih keluar dari hutan dan ikut program pemberdayaan masyarakat suku pedalaman yang diadakan taman nasional. Para masyarakat suku yang setuju keluar dari hutan akan diberikan rumah di desa walaupun kecil tapi masih layak huni.


Gubuk yang kami temukan hanya salah satu dari beberapa yang sudah ditinggalkan penghuninya.Menurut para porter di dalam hutan masih banyak masyarakat suku yang tidak mau dibawa ke desa dan lebih memilih tinggal di hutan. Menurut mereka pula masyarakat tersebut tak suka diganggu dengan kedatangan orang baru. Mereka bisa saja membunuh jika merasa terusik. Duhhh, semakin seram saja ceritanya.


"Keluarkan senter masing-masing karena sebentar lagi gelap",kata pak Rolan. Benar saja ini sudah pukul 5 sore tapi kami masih belum sampai di camp. Mungkin kami kebanyakan istirahat selama perjalanan. Aku bertanya pada salah satu porter yang membantuku menyebrangi sungai. "Bang,masih jauh ya? tanyaku".Ah tidak lagi kok,sebentar lagi kita sudah mau sampai, jawabnya enteng.


Memangnya berapa jauh lagi? aku bertanya lagi. Hanya sekitar dua kali putaran saja,jawab si porter lagi. Okelah,kupikir dua putaran itu tak jauh. Tapi apa ini? dua putaran yang dia maksud adalah dua bukit yang harus kami lewati. Astaga naga, kapan sampainya kalau begini. Kami sudah kehabisan tenaga,bahkan sudah lapar lagi.


Tak ada waktu mengeluh, kami berjalan terus sampai seseorang dari depan sana berteriak. " Heiiiii, cepat camp sudah dekat teriaknya".Dia adalah Farhan salah satu teman kami yang sudah tak sabar ingin sampai camp. Dia mencoba sekuat tenaga untuk sampai paling depan.Sebenarnya kasihan dia karena tak terhitung berapa kali jatuh di hutan dan di dalam sungao. Kurasa kakinya sudah lebam-lebam terantuk batu batu sungai itu.


Mendengar teriakan Farhan kami bergegas mempercepat langkah. Semakin dekat dengan camp tercium aroma indomie yang begitu harum. Ternyata memei sudah masak makan malam. Camp kami hanya terpal yang disusun berjejer dan diikatkan ke pohon besar di dekatnya. Di dalam tenda terdapat karung goni yang sudah disusun rapi dengan tiang tiang membentuk sebuah kasur. Disitulah kami akan tidur dan masing-masing orang mendapat satu tempat tidur. Di depan camp itu adalah sungai yang tadi kami lewati. Air minum dan keperluan memasak kami ambil dari sana,sedangkan untuk mandi kami di sungai belakang camp. Sungai itu bersih dan airnya sangat jernih. Di dalam sungai masih banyak udang dan ikan. Kata pak Roland besok malam jika tak banyak pekerjaan beliau,para porter dan anak laki-laki akan turun ke sungai mencari udang. Lumayan untuk tambahan lauk.


Camp ini tidak dilengkapi listrik. Ngawur,mana ada listrik di tengah hutan. Penerangan yang kami punya hanya dari senter masing-masing ditambah dua lampu minyak yang dibawa porter. Tak bisa bermain hp disini, tak ada sinyal. Bahkan bila ada sinyal pun baterai hp kami tak ada. Tak sempat dicharger karena prioritas utama ketika di kantor adalah kamera untuk dicharger. Kamera itu sangat penting untuk pe dokumentasian seluruh kegiatan kami nantinya.


Kami hanya makan dengan lauk ikan asin goreng ditambah indomie setiap hari.Beruntung kalau ada hewan yang tertangkap ketika kami masuk ke hutan untuk mengambil data,atau jika ada udang yang berhasil dibawa ke camp kami akan makan enak. Tapi justru inilah seninya, ketika rebutan lauk atau bahkan rebutan nasi sisa. Maklum pekerjaan berat kalau sudah masuk ke hutan mengambil data jadi gampang lapar.


Tak ada yang dibuat buat, Semua orang apa adanya disaat seperti ini. Bahkan kami bisa mengobrol santai dengan pak polisi dan pak tentara yang ikut dengan kami. Mereka semua sudah seperti teman dan keluarga. Tapi yang paling menyita perhatianku adalah anak kecil itu. Iya, Raffles. Anak itu tak pernah mengeluh sedikit pun, sepertinya dia sangat menikmati momen ini. Dia selalu terlihat ceria bahkan kadang dia membantu kami mencuci piring di sungai.


Karena memei sudah memasak, maka kami membuat jadwal per orang untuk mencuci piring bekas makanan.


Semua orang harus saling membantu. Bangun pagi adalah hal yang paling menyenangkan di camp ini. Melihat matahari mulai terbit, aroma masakan memei, arus sungai yang semakin lama makin enak didengar kalau menurutku. Dan satu hal yang paling menyenangkan adalah melihat teman-teman ketika sholat subuh berjamaah. Walau tak sholat seperti mereka,tapi aku selalu senang kalau pagi pagi melihat mereka sholat beramai ramai dengan satu orang di depan sebagai imam. Bahkan yang jarang sholat pun di camp ini mendadak rajin.


Kegiatan kami terbagi menjadi beberapa bagian dan kami sudah dikelompokkan ke dalam beberapa regu. Salah satu regu yang menurutku paling hebat adalah mereka yang setiap hari keluar masuk hutan untuk mencari gua dan melakukan penelitian di dalamnya. Bayangkan saja lantai hutan yang selalu basah belum lagi sinar matahari yang tak tembus sudah membuat hutan ini seram, Bagaimana jika harus masuk gua juga? Tapi mereka hebat, walaupun selalu pulang ke camp paling malam tapi tak pernah bersungut-sungut.


Reguku adalah regu yang paling mandiri versi camp. Kami yang hanya terdiri dari tiga orang saja harus masuk hutan setiap hari tanpa pendamping karena tak cukup orang. Kami bisa saja ditemani oleh pendamping lapangan tapi kasihan jika regu lain tak ada yang mendampingi. Karena jika demikian mereka tak akan dapat data. Kami yang bertugas meneliti tumbuhan bisa membawa sampel ke camp untuk dikerjakan dengan pendamping ketika malam, tapi bagaimana mereka yang mengamati burung, kan tidak bisa menangkapnya. Karena itulah tak apa kami saja yang mandiri. Tapi selalu ada kejadian dan cerita lucu yang kami bertiga alami setiap kali masuk ke hutan.