
Sudah genap 10 hari kami tinggal di hutan,di sebuah camp yang terbuat dari terpal berwarna biru dikelilingi sungai itu. Hari ke 10 waktunya kami kembali. Bukan pulang ke Jawa tapi kembali ke peradaban, begitu kata anak-anak.Kembali ke kota melihat aspal jalan raya, jajan di warung dan tidur di aula resort. Pagi-pagi sekali semua orang sudah bangun. Ada yang mengemas barang-barang pribadi masing-masing. Melipat tenda dan mencabut patok-patok yabg digunakan sebagai tiang dan tentu saja memei memasak untuk sarapan dan bekal makan siang di jalan.
Hari ini sesuai dengan janji memei beberapa hari lalu,mereka memasak ayam yang sudah diikat beberapa hari di dapur. Wangi masakan memei menguar terbawa angin saat kami sedang membereskan semua peralatan. Tidak boleh ada yang tinggal, bahkan patok-patok itu pun semua harus dicabut begitu kata pak Rolan. Masing-masing anak mengambil tugas,dan tidak lupa juga ada yang membantu memei menyiapkan makanan di dapur.
Setelah selesai packing, aku segera ke dapur membantu memei mengisi kotak makan yang sudah berjejer di atas meja kayu di dapur itu. Satu per satu kotak makan itu sudah terisi nasi dan hanya menunggu lauknya matang saja.Ayu datang ke dapur dan membantu kami, ia mengisi botol minum dengan air yang sudah dimasak oleh para memei itu.
Kenapa membawa bekal untuk makan siang? Iya karena sudah bisa dipastikan kami tidak akan sampai di jalan raya sebelum jam makan siang, mengingat waktu yang kami butuhkan 10 hari lalu untuk tiba di camp itu. Lagipula bahan makanan yang tersisa masih lumayan dan cukup untuk dua kali makan dengan jumlah orang sebanyak itu. Daripada dibawa lagi ke resort lebih baik dimasak saja semua, begitu kata memei.
Setelah semua sudah selesai, kami pun sarapan. Kali ini tidak ada lagi meja kayu dan tenda-tenda yang terpasang. Kami duduk melingkar di tanah dan menikmati sarapan terakhir di dalam hutan itu. Biasanya jika sudah hari terakhir ada saja yang membuat tidak ingin segera pergi,dan itu juga terjadi pada kami. Sudah terbiasa dengan kehidupan selama 10 hari itu, kami harus kembali lagi ke resort. Tapi harus,tidak mungkin juga kami tinggal di hutan itu seterusnya.
Selesai sarapan, masing-masing orang segera mencuci piring masing-masing. Kali ini tidak perlu diteriaki seperti biasanya, mungkin karena sudah hari terakhir. Tidak pas rasanya jika ke suatu tempat tidak ada foto sebagai kenang-kenangan. Untung saja masih ada satu kamera yang baterainya masih full. Dengan arahan pak Rolan,kami mulai membentuk formasi untuk berfoto bersama. Tidak lupa juga sebuah video berisi jargon taman nasional dan tentunya jargon fakultas kami. "Hobata, oi"begitu bunyi jargon taman nasional itu, kami ulang sampai tiga kali berturut-turut. Semua orang terlihat sedih, seperti tidak ingin berpisah dengan para porter, memei, pak Rahmat dan pak Urip polisi yang bersama kami selama 10 hari terakhir.
Setibanya di desa, kami akan berpisah dengan mereka. Mereka akan kembali ke rumahnya masing-masing sedangkan kami akan kembali ke resort bersama pak Rolan. Tidak ingin kehilangan moment, aku dan Ayu menyempatkan diri untuk berfoto dengan para memei. Mereka sudah seperti ibu bagi kami, meskipun baru di hari-hari terakhir kami banyak ngobrol dengan mereka. Ternyata mas Adul juga tidak mau kalah. Dia pun ikut berfoto denganku, Ayu dan para memei.
"Kakak, nanti kembali lagi kah kesini? dia bertanya saat kami sudah mengambil beberapa foto. Tidak tahu, nanti kalau kakak kesini lagi, jumpa deng Raffles ya, jawabku sedih. Sebenarnya aku juga sedih berpisah dengan mereka termasuk dengan anak kecil yang sedang kupangku saat itu. Tapi aku harus kembali. "Kakak Ira, jangan lupa deng Raffles ya, dia semakin menangis ketika mengucapkan kata kata itu. Kupeluk anak kecil itu,lalu berkata"Tra lupa lah, Raffles belajar baik biar nanti bisa ke Jawa, ketemu deng kakak dan kawan kawan lagi ucapku. Dia hanya menggangguk. Ah, aku tidak pernah suka dengperpisahan seperti itu.
Masing-masing tim mengabadikan foto bersama orang-orang yang sudah menjadi bagian dari tim mereka selama 10 hari terakhir. Termasuk tim ku pun tidak mau kalah, kami berfoto dengan pak Roji yang sudah membantu mengidnetifikasi daun-daun yang kami bawa dari hutan.
Menurut Mat, pak Roji adalah kamus berjalan. Tidak lupa juga pak Rahmat dan pak Syafei yang sudah membantu kami di hari-hari terakhir. Kenangan tersesat di hutan bersama pak Rahmat dan pohon yang ditebang pak Syafei untuk mengambil sebuah daun itu tidak akan kami lupakan. Suatu saat jika diberi kesempatan kembali lagi ke kota itu maka kenagan-kenangan itu akan turut kami cari lagi.
Momen terakhir memang selalu penuh cerita sampai kami lupa waktu. Berfoto sana sini dan saling mengucap salaam perpisahan dengan para porter membuat kami lupa waktu. Matahari sudah mulai meninggi, barulah kami berangkat setelah berdoa bersama. Masing-masing orang sudah menggendong tas carier di punggungnya. Para laki -laki harus rela membawa dua tas carier sekaligus depan belakang jika para perempuan sudah bilang capek atau ngga kuat. Ini mengingatkan dengan 10 hari lalu.
Untungnya tugasku masih sama saja dengan 10 hari lalu. Hanya tas ransel berisi laptop dan makan siang untukku, Dika dan Mat yang kubawa. Sedangkan carier berisi pakaian dan peralatan lapang tim kami dibawa Dika dan Mat. Mereka memang sangat pengertian padaku. Hari itu tidak seperti biasanya, matahari cukup terik. Padahal beberapa hari terakhir selalu hujan. Belum jauh berjalan kami sudah mengeluh capek dan ingin istirahat. Mau tidak mau semua orang harus berhenti dan istirahat, supaya tidak ada yang ketinggalan.Memang begitu lah seharusnya. Hanya saja perjalanan kami masih jauh. Bisa-bisa kalau kebanyakan istirahat, sore kami baru tiba di resort.
Di tengah perjalanan, aku yang sekelompok dengan Ayu dan pak Roji diajak mas Adul melihat sebuah air terjun di dalam hutan tidak jaih dari tepi sungai. Waktu 10 hari lalu kami tidak menyadari adanya air terjun cantik itu. Putra pun diajak oleh mas Adul. Jadilah kami ketinggalan oleh rombongan karena terlalu asik mengabadikan momen di air terjun itu.