Raffles

Raffles
Gedung kosong dan asrama polisi



Jam 5 sore akhirnya pengolahan data dan slide presentasi untuk hari terakhir selesai. Akhirnya bisa bernapas lega setelah hampir sehari penuh duduk di depan laptop. Mataku sudah mulai berair, karena sejak pagi menatap layar laptop. Tapi syukurlah setidaknya malam ini kami bisa sedikit bersantai. Regu lain pun satu per satu mulai meninggalkan ruang baca. Ada yang sengaja meyudahi dulu untuk sehari ini, besok masih ada waktu begitu kata mereka. Tidak apalah semua orang sudah melakukan yang terbaik hari ini. Setelah kembali ke lantai 2 kami siap-siap untuk mandi. Lagi-lagi air tidak mengalir. Yasudah terpaksa kami harus mandi di masjid lagi. Anggap saja di rumah sendiri,biar tidak malu dilihat orang-orang yang mampir di masjid untuk sholat.Belum lagi prajurit di asrama tentara itu. Muka tembok aja, tebal-tebalin muka begitu Nuril menyebut istilahnya.


Ramai-ramai kami berjalan menuju masjid. Udara sore selalu jadi penenang. Jika di tahun dulu istilah penikmat senja sudah sepopuler sekarang mungkin kami bisa termasuk salah satu diantaranya. Langit sore Halmahera memang indah. Kami menyebrangi jalan raya sambil bercanda. Sesekali Nuril bahkan menutup matanya,sambil menyebrang karena saking sepinya jalan itu. Sepertinya orang yang melihat kami sudah hafal dengan kelakuan-kelakuan aneh itu, jalan ramai-ramai membawa handuk dan peralatan mandi.


Bergantian kami mandi di kamar mandi masjid. Seperti biasa mereka yang berkewajiban untuk sholat lah yang mandi duluan. Maka aku, Dea dan Ayu akan selalu di antrian paling terakhir. Sambil menunggu giliran, kami bertiga melihat-lihat di sekitar masjid. Prajurit-prajurit yang sedang berlatih terlihat dari tempat kami berdiri. Sepertinya setiap hari mereka selalu latihan.


Selesai mandi, kami kembali ke balai. Ternyata malam ini akan ada karaokean di balai. Pak Rolan sudah menyewa alat musik dan dipasang di depan ruang baca. Sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang.Segera kami makan malam dan setelahnya pak Rolan mengajak untuk karaokean di halaman ruang baca. Disana sudah banyak orang,termasuk kepala balai. Sepertinya beliau memang sengaja pulang lebih lama karena ada musik ini.


Ternyata kepala balai lah yang merencanakan untuk mengadakan karaoke itu, beliau melihat kami semua seperti stress sehingga bernisiatif menyewakan set alat karaoke itu. Kurang baik dan perhatian apa lagi kepala balai itu pada kami. Menurut beliau bukan hanya kami yang akan mengingat momen di taman nasional itu, tapi mereka sebagai penyelanggara dan pengelola pun ingin ada momen yang bisa dijadikan kenangan bersama kami disana.Maka list momen untuk dikenang bertambah satu lagi.


Satu per satu orang mulai merapat menuju halaman ruang baca. Musik mulai mengalun, suara pak Rolan dan kepala balai terdengar menyanyikan lagu-lagu jadul. Bahkan dari jalan raya pun suara mereka terdengar,begitu kata anak-anak yang baru kembali dari sholat dan mandi di masjid. Tidak apa-apa yang penting malam ini semua senang, yang mau berjoget jangan malu-malu, yang punya suara bagus jangan disimpan, ucap pak Rolan. Kita lihat saja,sepertinya ini akan berlangsung sampai pagi. Nuril dan Ulfa bahkan inisiatif ingin memimpin senam gemufamire. Baiklah kita ikuti saja alurnya. Awalnya kami hanya duduk saja memperhatikan orang-orang berjoget dan bernyanyi tapi lama -kelamaan akhirnya terikut juga.


Cari warung yang jualan sandal yuk, ajakku pada Putra dan Udin. Mau beli sandal teh? tanya Udin. Bukan aku baru ingat tadi si mas Dika nitip beliin sandal, punya dia ketinggalan di resort katanya, jawabku. Kami pun memutuskan untuk berjalan lebih jauh sambil menncari-cari warung atau toko yang masih buka. Tapi sepertinya hampir semua sudah tutup. Pasalnya sudah hampir jam 9 malam. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah warung yang kebetulan menjual sandal jepit."Berapa pak? tanyaku pada bapak penjaga warung. 17 ribu jawab si bapak, aku memberi selembar uang 20 ribu rupiah pada bapak tadi dikebmbalikan 3 ribu olehnya.


Mahal juga ya, di Jakarta biasanya cuma 10 atau 12 ribu doang kalau sandal beginian ucap Putra ketika kami sudah meninggalkan warung. Namanya juga jauh bang, kan ongkir dari Jakarta kesini mahal canda Udin. Tapi benar juga sih.Kami tiba di depan sebuah bangunan yang sudah kelihatan tua. Meski sudah gelap rumput-rumput tinggi di halaman gedung itu terlihat jelas. Gedung tersebut sepertinya sudah tidak dipakai lagi. Terlihat tulisan di pagarnya Makamah Agama Halmahera Utara. Tapi sepertinya gedung itu sudah lama ditinggalkan. Tidak jauh dari gedung itu terdengar suara orang bernyanyi sambil berlari, tapi nyanyiannya seperti familiar di telingaku.


Benar saja tidak jauh dari gedung kosong tadi ada sebuah akademi kepolisian.Para taruna polisi itu sepertinya sedang apel malam atau latihan kami kurang tahu tapi ketika kami lewat dari depan gedungnya terlihat sekumpulan orang sedang baris-berbaris di temaramnya malam hanya disinari sedikit cahaya lampu.Terlihat pula beberapa orang berseragam polisi tampak berjaga di pos jaga bagian depan gedung. Mungkin mereka senior,begitu kata Udin karena saat berjaga tampak mereka santai sambil merokok.


Pantas saja lirik lagu yang kudengar tadi seperti familiar karena selama menumpang mandi di masjid dekat balai, lagu-lagu itu jugalah yang sering dinyanyikan prajurit tentara yang sedang berlatih. Mereka menyebutnya yel-yel. Bahkan dari beberapa lagu itu ada juga yang sering kami nyanyikan sebagai yel-yel di kampus,hanya saja sudah diganti liriknya. Tidak jauh berbeda dengan prajurit yang biasa kami lihat berlatih di asrama TNI dekat balai, para anggota polisi yang baris-berbaris itu pun sama denga. kepala plontos dan kulit hitamnya. Mungkin karena saking seringnya mereka dijemur di bawah matahari setiap berlatih. Tapi semangat mereka seolah tidak habis, bahkan walaupun sudah malam.