Raffles

Raffles
Raffles datang



Malam harinya ada acara perpisahan formal dengan para porter, pak Rahmat, pak Urip, memei dan Raffles. Sebelumnya tidak ada dari kami yang tahu akan diadakan acara itu. Ternyata pak Rolan sengaja mengundang orang-orang yang sudah berjasa dalam hidup 10 hari kami semua di hutan itu untuk datang ke kantor. Selesai makan malam, Rizky dan Robin tiba-tiba membisikkan sesuatu padaku.


"Teh, ke dapur yuk ada yang mau ketemu bisik Robin di telingaku. Siapa? aku bertanya pada Robin. Memangnya siapa yang mau bertemu denganku? Seingatku aku tidak janjiam dengan siapapun semenjak tiba di resort. "Udah ayok aja makanya biar tahu, Robin menarik tanganku menuju dapur. Setibanya di dapur, aku benar-benar dikagetkan dengan kedatangan memei dan Raffles. Aku menyalami dan memeluk kedua ibu itu. Tanpa ada yang menyuruh Raffles sudah memegang tanganku."Kakak pulang kapan? tanyanya. Besok, kakak deng semua kawan kawan pulang ke Sofifi ucapku. Karena memang besok kami akan berangkat dari resort menuju balai. Hari-hari terakhir akan kami lalui disana, sembari mempersiapkan presentasi akhir hasil temuan temuan kami di lapangan.


"Kakak jangan lupa deng Raffles deng bapa, mama e ucap Raffles. Aku membungkukkan badanku dan menggendongnya. Tra lupa lah, nanti kalo kakak ada uang kakak main kesini lagi, nanti Raffles su besar kalo kakak datang lagi, ucapku menghiburnya. Sepertinya anak kecil itu juga merasa kehilangan.Robin gantian menggendong Raffles."Nanti sekolah baik baik, supaya bisa ke Jawa kalo su besar. Raffles mau toh ke Jawa ketemu deng kakak kakak, ucap Robin. Anak kecil di gendongannya mengangguk.


Malam itu kami berkumpul di aula yang biasa digunakan sebagai ruang rapat. Kursi-kursi dan meja sengaja dikeluarkan karena tidak cukup. Kami duduk melingkar di lantai. Pak Rolan membuka acara dan setelahnya barulah kami bergiliran satu per satu untuk bercerita tentang pengalaman,kesan yang kami dapat selama 10 hari bersama -sama. Setiap orang punya kesan masing -masing tergantung dari apa yang dialaminya.


Pada kesempatan itu pula aku dan teman-teman punya waktu untuk berterima kasih secara formal kepada semua orang yang sudah membantu kami. Semua berharap semoga suatu saat diberi kesempatan lagi sehingga kami bisa saling bertemu lagi. Pak Roji banjir ucapan terima kasih dari tim burung dan tim flora yaitu tim ku dan Ayu. Bagi tim kami memang beliau sangat berjasa, kalau bukan karena beliau entah bagaimana caranya aku, Dika Dan Mat akan membawa semua daun yang kami kumpulkan pulang ke Jawa.


Acara itu berlangsung cukup lama karena semua orang yang berkumpul memang diwajibkan oleh pak Rolan untuk menyampaikan kesan dan bercerita. Pak Rahmat datang membawa istri dan anaknya saat itu.Karenanya beliau cepat pulang, begitu acara selesai mereka langsung pamit pulang karena anaknya masih bayi.


Selepas acara itu beberapa orang memilih untuk langsung tidur.Mungkin mereka masih lelah dan ingin cepat-cepat istirahat. Aku lebih memilih menikmati udara malam di bawah pohon mangga di depan kantor itu. Beberapa orang masih terlihat lalu lalang di jalan raya, padahal sudah pukul 11 malam. Aku memutuskan untuk menelepon orang tuaku. Mungkin mereka belum tidur, pikirku. Selama di hutan ak7 tidak pernah berkabar pada mereka, mungkin saja mereka khawatir. Terakhir kali aku hanya memberi tahu bahwa aku akan ke hutan selama 10 hari dan kemungkinan tidak akan bisa dihubungi.


Terdengar suara bapak bertanya siapa itu? mamak memberitahu bapak bahwa yang menelepon adalah aku. Ponsel mamak berikan pad bapak, tuh ngomong sama bapak dulu, dari kemarin dia nanyain terus, ucap mamak. Halo, ucap bapak dari seberang. Halo pak, sehat bapak? aku malah bertanya. Sehat, kau gimana? bapak bertanya balik. Oke, aku baik baik aja, jawabku enteng. Gimana rasanya di hutan? bapak memang selalu penasaran dengan semua kegiatanku setiap kali aku izin untuk ke lapangan.Mereka sangat mendukungku dari awal memilih jurusan kuliahku,sehingga setiap kegiatan yang kulakukan di luar kampus, praktikum atau apapun termasuk ekspedisi ini selalu menarik bagi mereka.


Aku bercerita panjang lebar tentang semua kejadian yang kualami selama 10 hari tanpa sinyal di hutan. Saat itu mamak sudah ikut mendengar ceritaku. Jadi gimana asik ngha disana? tanya mamak. Seru mak, orang-orangnya juga baik, lucu lucu kalo dengar logat mereka ngomong ucapku. Pertama kali memang aku merasa lucu mendengar logat timur orang-orang disini tapi akhirnya jadi terikut juga. Aku menirukan cara berbicara ala orang timur di telepon. Bukannya memuji, mamak malah mengejekku. Ngha cocok, mending kayak biasa aja ucap mamak.


Jadi kapan kalian balik ke jakarta? tanya bapak. Sekitar 3 hari lagi. Besok mau ke balai dulu di kota, nginap disana selama 3 hari 2 malam baru balik ke jakarta, jawabku. Yasudah hati-hati, jangan pecicilan.Ingat kau di kampung orang, bapak selalu mengingatkan seperti itu padaku setiap kali bepergian. Karena kadang memang aku suka bertingkan aneh.Oke bos, jawbku mantap lalu menutup telepon setelah hampir sejam kami ngobrol.


Habis nelepon siapa sih? tiba tiba Ari sudah duduk di sampingku. Mamak sama bapak, jawabku. Seru amat kayaknya, ucapnya lagi. Iya memang gitu, mereka selalu heboh kalo gus ceritain kegiatan gue, jawabku. Enak banget ya keluarga lu, Ari terlihat muram. Ya gitulah, tapi tetap aja kok ada gak enaknya juga jawabku. Aku tahu Ari pasti sedih, karena dia sering bercerita kalau keluarganya kurang harmonis.


Aku dan Ari lama mengobrol di luar.Dini hari kami baru kembali ke dalam kantor untuk tidur. Anak-anak yang lain sudah terlelap di alam mimpinya masing-masing saat kami masuk. Hanya tinggal beberapa orang pegawai termasuk pak Rolan yang sedang bermain playstation di ruang rapat.


Di kantor itu memang disediakan playstation dan beberapa peralatan olahraga karena beberapa pegawai selalu tinggal di kantor secara bergantian untuk berjaga. Makanya ada juga kamar tidur tersedia disana. Tapi tentu saja kami tidak tidur di kamar itu karena kamar tidurnya hanya untuk pegawai saja.