Raffles

Raffles
Hampir dipatuk ular Nasib baik masih ada



Memasuki hari ketiga di dalam hutan, seperti biasa kami melakukan kegiatan masing-masing.Para memei sudah memasak sejak pukul 4 pagi.Setelah membasuh diri di sungai, kami bersiap untuk memulai hari. Masakan memei sudah terhidang diatas meja kayu di tengah camp. Waktunya untuk sarapan. Kami mulai sarapan dan setelahnya yang berpiket mencuci piring melakukan tugasnya, lalu regu yang mau mengambil data di dalam hutan masing-masing mengisi kotak makannya dengan nasi dan lauk yang sudah disiapkan para memei di dapur.


Sebelum memulai kegiatan kami masing masing regu berdoa lalu mengucapkan yel yel regu masing masing dengan keras dan mulai berjalan masuk ke dalam hutan belantara. Hari ini reguku akan mencari jalan lain yang memungkinkan kami untuk melakukan pengukuran pohon. Seperti biasa kami mandiri lagi hari ini, hanya ditambah satu orang yang ditugaskan sebagai fotografer.


Karena harus melakukan pengukuran pohon,maka kami harus mencari lokasi yang datar untuk lebih memudahkan kegiatan.Hanya saja dari tadi susah sekali menemukan lokasi seperti itu, hutan yang memiliki kontur jurang, bukit dan semak semak yang sangat rapat membuat kami agak kesulitan menemukan lokasi yang pas.


Karena sudah lelah, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pengukuran di lokasi ini saja, dekat dengan sungai dan sedikit datar walaupun kami tetap harus naik ke atas sedikit lagi untuk menghindari jurang di sampingnya.Setidaknya dari semua titik yang sudah dicari ini lebih memungkinkan. Selain itu jika ingin istirahat atau makan siang nanti kami bisa turun ke tepi sungai itu. Kmai melakukan pengukuran pohon-pohon di titik itu. Sedikit kesulitan juga karena kebanyakan pohonnya berukuran besar. Satu pohon harus diukur oleh dua atau tiga orang karena lingkaran batangnya sangat besar.


Terjadi satu hal yang lucu saat itu, kami menemukan sebatang pohon yang sangat besar dan memiliki banir tinggi. (Banir adalah akar yang muncul ke permukaan tanah dan berbentuk seperti batang pohon, jika ingin mengukur diameter pohon berbanir, maka harus dilakukan di atas banirnya). Banir pohon itu cukup tinggi juga sehingga lumayan susah untuk dipanjat. Karena aku wanita, kedua temanku (Dika dan Mat) tidak mengizinkan aku ikut memanjat pohon. Sebenarnya ini lah salah satu hal baiknya jika perempuan ikut ke lapangan, berasa dimanja karena tidak boleh melakukan pekerjaan berat.


Ujungnya aku menunggu saja di bawah pohon itu. Salah satu teman yang sedang memanjat memintaku untuk merekam video saat mereka memanjat pohon itu. Mat yang adaalh adik kelasku memintaku merekam menggunakan ponselnya yang masih full baterai karena tidak digunakan sejak tiba di camp."Teh tolong videoin kami ya, ucap Mat ketika mau memanjat pohon itu. "Oke, mana hapenya? tanyaku. Itu teteh ambil aja di tas saya, jawbnya lalu mereka mulai memanjat.


Kuambil ponsel Mat dari tasnya dan mulai merekam video.


Mereka terlihat kesusahan saat mencoba memqnjat pohon besar itu, tangan mereka sesekali bersentuhan dan tiba tiba mereka saling pandang dalam waktu yang lumayan lama, ketika tali pengukur yang digunakannya akhirnya bisa dilingkarkan dengan sempurna di pohon besar itu. "Teh,tolong catat diameternya sekian kata Mat. Aku yang duduk di bawah pohon hanya menjawab "oke siap"lalu mencatat angka yang disebutkan Mat tadi diatas kertas yang kami sebut tallysheet.Tallysheet (kertas panduan pengambilan data di lapangan yang sudah diisin dengan beberapa kolom dan diberi judul sesuai dengan data yang akan dikumpulkan).


Matahari sudah semakin meninggi, kami memtuskan untuk turun ke tepi sungai dan akan makan siang disana. Di dalam hutan ini atau di tepi sungai kadang ponsel kami berguna, karena sesekali ada sinyal yang tertangkap. Setidaknya bisa buka IG meski tidak lancar, atau sekedar berbalas pesn WA grup.Makanya kami selalu membawa ponsel setiap kali mengambil data, karena jarang digunakan maka baterai ponsel kami lumayan kuat juga masih bertahan hingga memasuki hari ketiga ini.


Kami duduk di tepi sungai itu dan membuka bekal makan siang yang sudah dibawa masing masing. Yah, mie lagi mie lagi,aku berucap. Sudah hampir setiap hari kami makan mie di hutan ini, siang ini makananya juga mie lagi. Nasi dengan lauk indomie. Makan ajalah teh,yang penting kenyang. Lagian ntar malam pasti ada yang cari udang atau sogili, semoga aja dapat banyak ucap Mat padaku.


Kami menyelesaikan makan siang itu beberapa saat kemudian.Di dalam sungai ada sebuah batu besar dan sepertinya bagus kalo mengambil foto disana. Teh, foto foto yuk di batu itu,ajak Mat sambil menunjuk batu tersebut.


Kami mulai aksi foto selfie dengan berbagai gaya diatas batu itu. Tak lama setelah kami berfoto foto seorang porter lewat dan membawa sesuatu yang dilingkarkan di tangannya.Mau kemana bang? tanya kami Oh, sa mau masuk ke sebelah sana cari kayu bakar, jawabnya. Oh, itu apa yg di tangan abang? tanya Mat. Ini ular tadi sa ketemu di dekat camp, ular tanah kalo orang sini bilang jawabnya lagi. Warna ular itu memang lebih mirip tanah sehingga jika dilepas di hutan atau dibiarkan begitu saja maka tidak akan terlihat seperti ular jika mata kita tidak jeli.


"Berbisa ngga? tanyaku pada si abang porter. Ini bisanya tinggi, kalo digigit bisa langsung mati to, jawabnya.Waduh seram juga kata kami bertiga. Yasudah e sa pergi dulu,si abang porter kembali berjalan dan tiba tiba melemparkan ular yang tadi dibawanya ke sungai di depan kami. Biar aja dia disitu katanya.


Karena masih ingin melepas penat,kami bermain air saja di pinggir sungai itu. Tiba-tiba sesuatu yang menakutkan terjadi. Ular yang dilepas oleh porter tadi,ternyata mendekat ke pinggir sungai,mungkin karena air yang beriap karena batu batu kecil yang kami lempar ke sungai. Kami tak sadar akan bahaya dan masih melanjutkan kegiatan kami. Tiba-tiba Mat teriak karena terkejut. Teteh awas di depan kaki teteh teriaknya. Aku yang kaget segera menjauhkan kakiku dari air dan kami berlari ke arah hutan. Ular itu hampir saja mematuk kakiku. Aku sangat kaget dan mungkin karena kaget dengan suara teriakan Mat tadi, si ular berbalik arah dan masuk ke dalam sungai lagi. Untung saja, nasib baik masih menyertai kami hari itu.