Raffles

Raffles
Tersesat



Hari ketujuh hampir berlalu.Para porter yang kembali ke resort untuk membeli bahan makanan telah kembali lagi ke camp. Hari ini kami makan enak. Bukan lauk daging atau ayam yang kami makan, tapi hari ini kami bisa makan dengan lauk telur dan sayuran. Sebenarnya para porter itu membawa beberapa ekor ayam yang masih hiduptapi para memei menyimpannya dahulu untuk persiapan bekal hari terakhir kami nanti. Kata memei enaknya hari terakhir itu harus ada makanan enak.


Hari ini hampir semua regu terlihat bersantai. Mereka yang biasanya kembali ke camp saat menjelang malam sudah kembali sejak azhar tadi. Kami sudah berkumpuk di camp semua. Raffles dan aku masih asyik bermain di hammock sejak tadi. Sesekali kulihat para memei memperhatikan kami dari dapurnya. Beberapa orang lebih memilih tidur saja dan beberapa lainnya mereka bermain kartu.Aku jarang ikut permainan itu karena tidak paham cara mainnya. Pernah sekali ikut eh,malah selalu kalah sehingga wajahku penuh coretan hitam arang kayu bakar dari dapur memei.


Tapi walau begitu permainan kartu itu adalah satu satunya hiburan kami di camp. Tidak ada sinyal dan bahkan baterai ponsel pun tidak ada membuat kami lebih memilih permainan itu untuk mwnghabiskan waktu selama di camp.


Malam datang dengan cepat. Tidak terasa sebentar lagi kami akan meninggalkan hutan ini.Malam itu kami makan malam bersama,duduk melingkar di tanah ditemani cahaya remang remang lampu teplok yang hampir kehabisan daya. Tapi itulah serunya, semua jadi terlihat sama,tidak ada yang merasa lebih jago dari yang lain.


Setelah makan malam, kami mencuci piring di sungai. Saat itu aku dan Ayu kebagian piket, maka kami bergegas turun ke sungai membawa piring piring kotor bekas makan dan dengan bermodalkan cahaya dari senter di kepala kami yang disebut headlamp. Ternyata Raffles ikut ke sungai.Sembari kami mencuci piring, dia hanya bermain air di dekat kami. Namanya juga anak kecil, ujar Ayu melihat kelakuan Raffles.


Tak lama ada seorang porter yang datang membawa sebuah piring di tangannya.Dia terlambat makan tadi karena ketiduran. Aku meminta piringnya untuk dicuci tapi dia tidak memberikannya. Justru dia ingin mencucinya sendiri. Tiba tiba dia bertanya padaku, "dek orang mana kah? tanyanya. Orang sumatera bang, jawabku sekenanya. Ada pacar kah tidak? tanyanya lagi. Hah, aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ayu yang sedang membilas piring di sampingku hanya senyum senyum mendengar percakapan itu. "Tidak ada, memangnya kenapa? aku bertanya balik padanya.


"Oh baguslah kalo begitu nanti sa minta nomor hp nya e, dia berucap dengan sangat gamblang. Aku yang tidak mengira arah percakapan itu hanya senyum saja menanggapi tidak kujawab iya atau tidak. Lalu si abang porter itu pergi sambil senyum dan sesekali senyum ke arahku. "Cie balik balik ada yang dapat gebetan nih kayaknya,ejek Ayu padaku. Duh apaan sih.Btw kenapa dia ngomong gitu ya? aku bertanya pada Ayu.


Ayu memperhatikan tanganku. Kamu gak pake cincin ya? tanyanya.Engga,emang dari hari pertama nyampe udah kubuka cincinnya abis gak betah gitu, jawabku. Oh pantesan dia ngomong gitu karena di jarimu gak ada cincinnya jelas Ayu. Aku paham sekarang, jadi karena cincin sialan itu toh.


Konon ceritanya setiap seorang perempuan pergi ke lapang atau suatu tempat yang jauh atau masuk ke suatu masyarakat adat disarankan memakai cincin di jari manisnya, agar tidak digoda atau diganggu oleh pemuda pemuda setempat. Cincin itu sebagai pertanda bahwa seorang perempuan sudah terikat dalam suatu hubungan.Tidak peduli apakah cincin itu asli atau tidak yang penting di jari perempuan harus ada cincin.


Ical yang tidak sengaja lewat karena ingin ke wc saat kami mencuci piring sepertinya mendengar obrolanku dengan si abang porter itu. Setelah kembali dari mencuci piring, ical mendatangiku. Cie, tadi ngobrol apaan sama si abang X? tanyanya. Apaan gak ada gak ada jawabku. Awas lo ntar gak boleh balik, dijadiin istri ****** lo, ejek Ical. Ihh dasar bukannya bantuin malah ngejek jawabku dan malah semakin ditertawai olehnya.


Memasuki hari ke delapan beberapa regu terlihat lebih santai. Mereka yang sudah menyelesaikan target datanya memilih untuk diam di camp dan menginput data data tersebut ke dalam laptopnya. Kami memang membawa laptop satu per regu untuk kepentingan itu. Hanya saja sepertinya laptop yang kubawa sudah kehabisan baterai duluan sebelum dipakai. Lagipula hari ini reguku masih harus kembali ke dalam hutan.Kami masih memiliki target data yang harus diselesaikan.


Kali ini kami tidak sendiri. Pak Rahmat TNI yang ikut bersama kami menawarkan diri untuk menemani.Untunglah,setidaknya mungkin beliau lebih paham wilayah, jadi kami tidak perlu jauh jauh mencari jalan.Yang terjadi justru sebaliknya. Ternyata pak Rahmat belum pernah ke daerah ini. Kali ini adalah tugas pertamanya setelah dipindahkan dari NTT dan beliau tidak paham daerah hutan ini. Ah, sama saja.


Yang terjadi kami malah nyasar dan menghabiskan setengah waktu yang kami punya untuk mencari jalan keluar dari hutan. Duhh kenapa malah jadi ribet?Pak Rahmat menembakkan pistolnya ke udara untuk menandakan bahwa ada orang yang tersesat. Siapa tahu ada yang mendengar suara tembakan itu dan bisa membantu, begitu kata beliau.


Setelah lama hanya berputar putar di dalam hutan, akhirnya kami tiba di tepi sungai. Tapi kok sepertinya makin jauh dari camp? Ah sudahlah yang penting sudah keluar dari hutan, ucap Mat.Kami hanya perlu mengikuti sungai ini saja pasti akan sampai di camp. Bodohnya adalah tidak seorang pun dari kami yang membawa kompas. Itu membuat kami kebingungan mencari arah di dalam hutan dan saat tiba di tepi sungai hari sudah sore.


Kami terus berjalan menyusuri sungai dan akhirnya tenda biru yang digunakan sebagai camp mulai terlihat. Ternyata kami hanya memutari hutan itu dan malah kembali dari arah belakang camp. Karena tidak ada jalan lain, kami terpaksa melewati sungai untuk menyebrang menuju camp dan semua baju yang kami pakai menjadi basah. Untung saja sudah hampir hari terakhir jadi tidak perlu pusing memikirkan baju ganti dan untung saja kami bisa kembali ke camp sebelum malam.


Selalu ada untung yang bisa diambil dari setiap kejadian.Melalui kejadian tersesat di hutan tadi kami jadi belajar untuk saling percaya satu sama lain dalam menentukan arah. Bayangkan saja jika kami hanya berdebat di dalam hutan karena berbeda pendapat, satu ingin ke arah a satu ingin ke b mungkin sampai malam pun kami masih di dalam hutan.